Penderita Lansia dengan Hipotensi Ortostatik dalam Perawatan Ulang Endodontik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Syncope adalah salah satu masalah paling umum yang dapat terjadi pada pasien dalam praktek kedokteran gigi. Hipotensi ortostatik, juga dikenal sebagai hipotensi postural merupakan penyebab dari sinkop. Hal tersebut muncul sebagai akibat dari baroreseptor refleks-dimediasi peningkatan vascular perifer kegagalan resistensi dalam menanggapi perubahan posisional. Hipotensi ortostatik secara klinis jika ada penurunan tekanan darah sistolik 20mm Hg atau diastolic 10mm Hg dalam 3 menit berdiri bila dibandingkan dengan tekanan darah dari posisi duduk. Hal ini sering terjadi pada orang tua dan pasien dengan beberapa kondisi seperti penyakit neuro degeneratif, diabetes, dan hipertensi. Sehingga dokter gigi harus lebih berhati-hati dalam mengelola pasien dengan hipotensi ortostatik, terutama untuk prosedur perawatan panjang seperti perawatan ulang endodontik.

Insiden hipotensi ortostatik meningkat seiring dengan meningkatnya usia pasien. Beberapa evaluasi sebelum perawatan perlu dilakukan pada hipotensi ortostatik. Evaluasi ini mengambil tekanan darah, denyut jantung, denyut nadi, laju pernafasan, dan suhu. Tekanan darah pasien harus diperiksa pada beberapa posisi seperti berdiri, duduk, semi- terlentang, dan posisi terlentang. Pasien dapat dianggap normal jika tekanan darah hasil tes tidak melampaui 25mm Hg untuk sistolik tekanan darah dan 10mm Hg untuk tekanan darah diastolic perbedaan tes detak jantung tidak melampaui 30 ketukan per menit antara posisi berdiri dan terlentang.

Hal ini penting dalam melakukan perawatan pada pasien dengan hipotensi ortostatik, posisi dental unit harus diubah perlahan dengan interval satu menit pada setiap perubahan posisi dan apabila diperlukan maka perlu dilakukan penambahan waktu sampai pasien merasa pusingnya hilang. Dokter gigi harus berdiri dekat pasien ketika pasien bangun dari dental unit sebagai tindakan pencegahan jika pasien mendadak mengalami limpness atau pusing.

Ada beberapa sudut pandang yang berbeda dalam menganalisis perlu untuk dilakukan perawatan ulang pada gigi pasca perawatan endodontik. Tujuan dalam melakukan perawatan ulang endodontic untuk melakukan cleaning dan shaping yang lebih baik. Gigi yang mengalami perawatan endodontic biasanya di restorasi menggunakan pasak ketika tidak ada dukungan yang memadai dan retensi karena kehilangan struktur gigi yang luas. Harus diperhatikan bahwa fungsi utama dari sebuah pasak adalah untuk membangun dan mempertahankan inti untuk retensi mahkota, dan tidak memperkuat gigi yang dirawat endodontik.

Pasak dapat dipasang dalam saluran akar. Pasak dan inti sebagai satu unit yang memberikan kekuatan baik compresive, kemampuan untuk memodifikasi angulasi dan desain inti yang memproyeksikan bentuk pasak anti rotational yang disesuaikan dengan luas hilangnya struktur gigi. Bahan keramik Zirconia digunakan sebagai mahkota dimana memiliki resistensi fraktur yang tinggi dari pada keramik lainnya. Mahkota Zirconia adalah bahan yang dapat digunakan untuk menutupi warna dari substruktur yang mendasari. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien hipotensi ortostatik dapat dilakukan perawatan dalam waktu yang lama seperti prosedur perawatan ulang endodontic dengan cara mengatur posisi gerakan interval dental unit.

Penulis: Michael Golden Kurniawan, Evri Kusumah Ningtyas, Bintang Adiguna Widjaja and Ira Widjiastuti

Informasi detail dari riset dapat dilihat pada :

https://www.actamedicaphilippina.org/article/10767-management-of-an-elderly-patient-with-orthostatic-hypotension-in-endodontic-retreatment-a-case-report Michael Golden Kurniawan, Evri Kusumah Ningtyas, Bintang Adiguna Widjaja and Ira Widjiastuti (2019). Management of an Elderly Patient with Orthostatic Hypotension in Endodontic Retreatment: A Case Report. Acta Medica Philippina 53(5):460-464

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu