Gula Kelapa Semut dan Kesejahteraan Produsennya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sesi foto bersama peserta pengmas. (Foto: Istimewa)

Gula Kelapa Semut (GKS) hasil produksi UMKM GKS Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi telah dilirik pasar internasional, khususnya Perancis dan beberapa negara Eropa lain dengan harga yang sangat menjanjikan. Sayangnya, harga yang selangit ini tidak sejalan dengan kesejahteraan para pelaku UMKM yang sangat menggantungkan penjualan pada tengkulak. Permainan harga yang dikuasai tengkulak membuat para produsen GKS harus rela melepas produknya dengan harga rendah demi keberlangsungan hidup usahanya. Akibatnya, produsen yang sebagian besar ber-skala rumah tangga ini memiliki penghasilan yang relatif kecil. Padahal, penghasilan dari produksi GKS ini merupakan tonggak utama yang menopang keuangan keluarga.

Pengelolaan Keuangan Keluarga dan Upaya Peningkatan Penjualan

Agar pelaku UMKM bisa keluar dari jerat permainan harga para tengkulak, perlu ada sebuah terobosan baru yang diambil. Para pelaku UMKM diharapkan dapat menjangkau sendiri konsumen akhirnya tanpa melalui perantara tengkulak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi di era industri 4.0. Online Marketplace untuk pelaku UMKM dalam menjangkau pasar yang lebih luas. Namun demikian, pelaku UMKM yang kebanyakan adalah masyarakat dengan literasi teknologi yang rendah masih perlu mendapatkan pendampingan untuk dapat menjalankan usaha melalui platform Online Marketplace. Modul sederhana yang mudah diikuti oleh pelaku UMKM berbagai tingkat pendidikan disinyalir mampu membantu untuk membuka wawasan dan membuat masyarakat lebih melek terhadap teknologi untuk kemajuan usahanya.

Salah satu kekurangan usaha skala rumah tangga adalah pengelolaan keuangan usaha yang tidak dipisahkan dengan pengelolaan keuangan pribadi. Para pelaku UMKM skala rumah tangga belum memiliki catatan keuangan yang rapi yang dapat digunakan sebagai acuan monitoring arus kas masuk dan keluar. Akibatnya, arus kas masuk yang seharusnya dapat digunakan untuk pengembangan usaha, justru habis terpakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyediakan modul Perencanaan Keuangan Keluarga yang cukup mudah dipahami oleh masyarakat dengan berbagai tingkat pendidikan. Dengan menerapkan panduan perencanaan keuangan keluarga ini, diharapkan masyarakat dapat membuat prioritas pengeluaran, pencatatan yang sistematis dan membuat penganggaran sesuai dengan proporsi penghasilan dan pengeluaran keluarga. Hal ini dapat membantu membuat pengelolaan keuangan usaha dan pribadi dapat berjalan beriringan.

Hasil Metode dan Hasil

Sebanyak 30 masyarakat Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi telah menghadiri program Pengabdian Masyarakat oleh Tim Dosen dari Fakultas Vokasi Universitas Airlangga pada Kamis, 10 Oktober 2019. Pada program ini, tim dosen memberikan pelatihan dan pendampingan singkat mengenai Perencanaan Keuangan Keluarga dan Panduan Berjualan di Online Marketplace. Demi menjamin keberlanjutan program, maka tim dosen melibatkan tim dari instansi pemerintah yang terkait, terutama tentang penyuluhan kepada masyarakat setempat. Instansi tersebut adalah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi. Sinergitas yang terbentuk dari kerjasama ini diharapkan dapat menjamin kesinambungan program setelah kegiatan pelatihan dan pendampingan berakhir. Masyarakat yang hadir sebagian besar adalah perempuan dengan rentang usia 25 – 50 tahun, dengan tingkat pendidikan mulai SD sampai SMA. Latar belakang pekerjaan peserta bervariasi mulai dari ibu rumah tangga, petani, hingga pemilik usaha dengan skala rumah tangga. Adapula sebagian pelaku UMKM yang menjalankan usaha keluarga dengan memproduksi gula kelapa batok yang nantinya akan diproses menjadi Gula Kelapa Semut (GKS).

Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, kesadaran dan pemahaman peserta program pengabdian masyarakat terhadap perencanaan keuangan keluarga terbilang rendah, dibuktikan dengan hasil pre-test materi pelatihan pertama “Perencanaan Keuangan Keluarga”. Hampir semua peserta tidak memahami bagaimana menilai kesehatan keuangan keluarganya. Setelah pelatihan diberikan, masyarakat menjadi lebih sadar untuk membuat pencatatan pendapatan dan pengeluaran, proporsi dan prioritas penggunaan anggaran, persentase utang, serta pemisahan pengelolaan keuangan usaha dan pribadi.

Pada sesi ke dua, diberikan pendampingan teknis untuk memulai penjualan menggunakan Online Marketplace yang berfokus pada lima platform Online Marketplace terbesar di Indonesia (Tokopedia, OLX, Bukalapak, Kaskus FJB dan Shopee). Pelatihan ditujukan untuk membuka wawasan dan menumbuhkan literasi teknologi masyarakat di Desa Pakistaji agar dapat lebih terbuka dengan kemajuan teknologi demi menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Dari hasil kuesioner disimpulkan bahwa masyarakat menyadari pentingnya menjangkau pasar yang lebih luas melalui Online Marketplace, namun perlu waktu untuk bisa mandiri dalam menjalankan usaha dengan basis teknologi ini. Tujuan jangka panjang dari program ini adalah untuk mewujudkan kemandirian pelaku UMKM dari ketergantungan penjualan dengan tengkulak. Agar  tujuan jangka panjang ini tercapai, tim dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menggandeng Penyuluh BKR (Bina Keluarga Remaja) untuk melanjutkan program secara berkala (satu kali dalam sebulan). BKR adalah kelompok masyarakat binaan Penyuluh KB yang terdiri dari orangtua yang memiliki anak usia remaja.  Adapun pemilihan BKR karena diharapkan agar anak-anak remaja yang lebih melek teknologi dapat lebih berdaya dalam aspek ekonomi dan penggunaan teknologi.

Penulis: Tim Dosen Pengabdian Masyarakat Banyuwangi

Yossy Imam Candika, Damar Kristanto, dan Ria Triwastuti

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu