Cegah Cacat Lahir Akibat Paparan Timbal dengan Terapi Hematopoietik Stem Cell

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Masa kehamilan menjadi masa yang sangat penting bagi proses pembentukan tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun mental secara optimal. Tak hanya membutuhkan asupan gizi seimbang, ibu hamil juga harus menjaga kesehatan dari paparan zat-zat kimia akibat pencemaran lingkungan yang dapat membahayakan keselamatan janin. Banyaknya kandungan timbal bahan bakar kendaraan dan asap limbah pabrik pada udara tercemar akan berdampak pada kesehatan ibu hamil. Udara tercemar yang dihirup terus menerus oleh ibu hamil akan menyebabkan janin terpapar bahan kimia dan zat berbahaya atau yang biasa disebut teratogen.

Teratogen merupakan zat yang dapat menyebabkan bayi terlahir cacat karena terjadi kelainan perkembangan janin dalam kandungan. Teratogen dapat berupa zat kimia, infeksi, obat-obatan tertentu, serta polutan seperti timbal akibat proses pembakaran bahan bakar kendaraan dan industri.

Teratogen akan mengganggu proses pembentukan organ janin dalam kandungan (organogenesis) pada trimester pertama hingga trimester kedua kehamilan. Apabila zat teratogen berhasil mengganggu proses organogenesis maka organ tertentu pada janin tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Sehingga akan menimbulkan risiko cacat lahir pada organ luar maupun organ dalam. Hingga kini diperkirakan sekitar 4-5 persen kasus bayi lahir cacat disebabkan oleh paparan teratogen.

Terapi Hematopoietik Stem Cell

Hematopoietic Stem Cell (HSC) atau sel punca hematopoietik adalah sel induk yang berperan dalam memproduksi sel darah matang dalam tubuh. HSC dapat ditemukan di sumsum tulang belakang, darah peripheral, dan darah tali pusat. Sel tersebut memiliki kemampuan berkembang dan beregenerasi menjadi berbagai jenis sel darah dengan fungsi spesifik tertentu, seperti mengontrol keseimbangan homestasis, fungsi sistem imun, respon serangan mikroorganisme serta inflamasi.

Sebagaimana diketahui, sel punca memiliki potensi untuk mengobati penyakit dan memperbaiki kelainan yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan atau tindakan operasi. Salah satunya adalah cacat lahir (birth defect) yang disebabkan oleh teratogen.

Guru besar ilmu embriologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR, Prof. Dr. Widjiati, M.Si., Drh. melakukan penelitian terkait pengaruh terapi HSC terhadap ekspresi Tumor Necrosis Factor (TNF- α) pada induk mencit bunting yang terpapar timbal. TNF- α merupakan mediator pro-inflamasi yang diproduksi oleh makrofag untuk merangsang sel inflamasi. Infeksi yang berat dapat memicu produksi TNF dalam jumlah besar dengan menimbulkan reaksi sistemik.

“Penelitian ini adalah penelitian teratogen yang menjadikan timbal sebagai sumber penyebab teratogen. Pada penelitian ini juga diberikan hematopoietik stem cell (HSC) dengan harapan mampu memperbaiki kerusakan sel yang terjadi,” jelasnya.

Prof. Widjiati melakukan penelitian pada dua kelompok induk mencit bunting yang telah dipapar timbal dengan dua perlakuan berbeda. Yakni kelompok mencit bunting yang diberi HSC dan kelompok mencit bunting tanpa HSC. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah terapi HSC dapat mencegah terjadinya cacat lahir akibat teratogen timbal yang telah mengontaminasi induk mencit bunting.

Hasilnya, terjadi kematian dini (keguguran) pada embrio mencit yang tidak mendapatkan perlakuan HSC akibat proses peradangan oleh teratogen. Sedangkan mencit bunting yang mendapat HSC mengalami proses regenerasi sel trofoblas yang rusak akibat peradangan. Selain itu berat dan panjang janin kelompok yang mendapat HSC lebih tinggi dibandingkan kelompok mencit bunting tanpa terapi HSC. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian HSC memiliki efek positif bagi plasenta dan uterus induk mencit bunting serta mampu meregenerasi sel embrio mencit yang rusak karena teratogen.

“Kelompok yang diberi HSC, ekspresi TNF- α nya menurun, sebagai indikator terjadinya penurunan inflamasi. Remodeling arteri spiralis berkurang sehingga menurunkan resiko keguguran dibandingkan kelompok yang tidak diberikan HSC,” paparnya.

Prof. Widjiati berharap hasil penelitiannya tersebut dapat memberikan informasi ilmiah bahwa timbal yang terkandung dalam polusi udara dapat menjadi sumber teratogen penyebab cacat lahir yang perlu diwaspadai. Terutama di lingkungan yang rentan dengan paparan polusi udara cukup tinggi.

Hingga saat ini terapi HSC masih dalam tahap uji coba melalui penelitian dan belum dipraktikkan sebagai metode pengobatan teratogen pada manusia. Ke depan, Prof. Widjiati berencana untuk melakukan riset lanjutan untuk mengembangkan model-model penelitian teratogenik.

“Ya, kami berencana mengembangkan model-model penelitian teratogenik, untuk mengetahui efek dari bahan-bahan teratogen terhadap terjadinya cacat lahir pada janin yang dilahirkan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Zanna Afia

Editor : Khefti Al Mawalia

Referensi:

Widjiati, et al. Effect of Hematopoietic Stem Cell on Tumor Necrosis Factor- α Expression, Spiral Artery Remodeling and Placental Apoptosis in Lead-Exposed Pregnant Mice. Asian pacific Journal of Reproduction. 2017: 6(4). p. 158-163

https://www.semanticscholar.org/paper/Effect-of-hematopoietic-stem-cell-on-tumor-necrosis-Widjiati-Kuncorojakti/e38bdc8beae5aff30116c1efdb59d86b650a4d1b

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu