Stem Cells Sebagai Terapi Xerostomia Akibat Radiasi Pengion

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Webmd

Kelenjar saliva atau yang biasa dikenal dengan kelenjar air liur adalah salah satu jaringan normal yang sering terkena dampak negatif akibat terapi radiasi khususnya didaerah kepala dan leher. Paparan radiasi tersebut dapat menyebabkan kerusakan kelenjar air liur yang bersifat ireversibel. Kerusakan kelenjar air liur mengakibatkan penurunan produksi air liur atau hyposalivasi dan dalam kondisi yang sangat parah  disebut xerostomia. Setelah diinduksi iradiasi dosis tinggi, hiposalivasi ireversibel sering terjadi antara lain disebabkan karena sterilisasi sel punca dari kelenjar air liur primer. Diperlukan terapi alternatif untuk mengatasi kerusakan kelenjar air liur yang parah. Salah satu terapi alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan terapi sel punca atau yang dikenal dengan terapi stem cells .

Beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan terapi stem cells meliputi stem cells yang dapat melekat dengan kuat dan bertahan hidup di daerah yang mengalami kerusakan dan dapat berintegrasi dengan lingkungan sekitarnya. Namun, mengingat rendahnya jumlah sel yang berhasil bertahan hidup, menunjukkan rendahnya viabilitas  stem cells yang ditransplantasikan, sehingga menurunkan efektivitas terapi tersebut. Tingkat viabilitas yang rendah mungkin disebabkan oleh karena metode kultur sel konvensional, yang dilakukan di bawah kondisi normoksia dengan konsentrasi 21% O2.

Hal ini bertentangan dengan lingkungan in vivo dimana stem cells itu berasal, yang mempunyai kondisi hipoksia dengan konsentrasi 1 hingga 7% O2, tergantung pada lokasi dan jenis stem cells. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses regenerasi kelenjar air liur yang rusak akibat paparan radiasi pengion dosis tinggi dengan transplantasi stem cell mesenkim sumsum tulang (BM-MSCs) yang telah diberi prekondisi hipoksia dengan konsentrasi 1% O2.

Metode dan Hasil

Penelitian ini adalah penelitian analitik eksperimental. Kultur stem cell dilakukan di bawah kondisi normoksia (O2: 21%) dan hipoksia dengan menginkubasi sel selama 48 jam dalam ruang tekanan oksigen rendah yang terdiri dari 95% N2, 5% CO2, dan 1% O2. Tiga puluh ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi empat kelompok: dua kelompok kontrol dan dua kelompok perlakuan. Dosis tunggal 15 Gy radiasi diberikan ke daerah ventral leher pada semua kelompok perlakuan untuk merusak kelenjar ludah. Transplantasi stem cell (BM-MSC) dilakukan pada kelompok perlakuan untuk normoksia dan hipoksia 24 jam pasca radiasi.

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam ekspresi ikatan SDF1-CXCR4, Bcl-2 dan juga aktivitas enzim α-amilase pada semua kelompok hipoksia. Ikatan SDF1-CXCR4 mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemampuan stem cells untuk bermigrasi ke daerah yang rusak dan menginduksi stem cells endogen untuk berkembang biak dan berdiferensiasi menjadi sel yang diinginkan. Bcl-2 merupakan salah satu protein anti apoptosis yang berperan dalam kelangsungan hidup suatu sel. Keadaan hipoksia juga meningkatkan aktivitas enzim α-amilase sebagai penanda proses regenerasi di jaringan kelenjar saliva.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa  stem cells (BM-MSCs) yang telah diberi prekondisi hipoksia memiliki kemampuan terapi yang lebih baik daripada stem cells dalam kondisi normoksia sehingga  dapat menginduksi proses perbaikan jaringan.

.

Penulis: Dr. Sri Wigati Mardi Mulyani, drg., M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

https://www.thieme-connect.com/products/ejournals/pdf/10.1055/s-0039-1694697.pdf

Mulyani SWM, Astuti ER, Wahyuni OR, Ernawati DS, Ramadhani NF. 2019. Xerostomia Therapy Due to Ionized Radiation Using Preconditioned Bone Marrow-Derived Mesenchymal Stem Cells. Eur J Dent 2019; 13(02): 238-242.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu