Peran Galur (Strain) Mikobakterium Tuberkulosis dan TNF α terhadap Kerusakan jaringan Paru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Media Indonesia

Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua kasus tuberkulosis paru (TB) terbanyak di dunia setelah India. Diperkirakan sekitar satu juta kasus TB baru diidap oleh orang Indonesia. World Healh Organization (WHO) mengestimasi 10,4 juta kasus TB baru di seluruh dunia akan tetapi kenyataannya yang terdiagnosis dengan pasti hanya 6,1 juta orang. Perbedaan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara fasilitas, penemuan pasien dan faktor pasien sendiri yang menyebabkan penemuan pasien tidak seperti yang diprediksikan.

Keparahan penyakit TB yang diderita pasien merupakan faktor penting yang harus diwaspadai oleh para pihak yang memberikan pelayanan kesehatan terutama dokter dan perawat. Pencegahan terhadap kerusakan yang lebih parah dapat disebabkan oleh galur mikobakterium itu sendiri dan juga bisa diprediksi bila ditemukan penanda (marker) tertentu yang dapat dibuktikan berhubungan dengan keparahan penyakit TB. Galur Mikobakterium yang diteliti pada penelitian ini adalah galur modern dan penandanya adalah TNF α.

Pentingnya Mencari Penyebab Keparahan TB

Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyebab utama kerusakan jaringan paru di seluruh dunia.  Penderita yang kebal terhadap obat anti TB (OAT) menyebabkan gagal pengobatan dan akhirnya sebagai penyumbang keparahan TB berupa kerusakan jaringan yang luas. Resisten terhadap OAT dapat disebabkan, salah satunya oleh galur tertentu mikobakterium yang tidak mudah untuk dimatikan. 

Mikobakterium tuberkulosis sebagai penyebab penyakit TB pada manusia memiliki banyak galur yang tidak semuanya peka terhadap OAT. Galur tersebut antara lain Mycobacterium

tuberculosis complex comprises of Mycobacterium tuberculosis (MTB), M.africanum, M. canettii, M. bovis, M. microti, M. orygis, M. caprae, M.pinnipedii, M. suricattae and M. Mungi.Terjadinya banyak galur tersebut karena terjadi evolusi struktur genetiknya dan dikelompokkan sebagai  galur yang modern dan tradisional.  Diverifikasi galur berdampak pada perbedaan sifat molekul, imunologis, virulensi (keganasan) dan penyebaran global. Diversifikasi tertentu dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru yang luas, progresif, dan peningkatan proses inflamasi (peradangan).

Inflamasi dicetuskan oleh senyawa protein yang dihasilkan oleh sel-sel inflamasi yang disebut sebagai sitokin. Sitokin memberikan sinyal kepada sel-sel lain untuk aktif sebagai respons rangsangan terhadap sistem kekebalan tubuh manusia. Salah satu sitokin yang penting dan berperan pada keparahan infeksi TB adalah TNF α. Sitokin ini dapat mengakibatkan kerusakan struktur jaringan paru, pembentukan granuloma (kumpulan sel-sel radang pada jaringan paru, membentuk jaringan yang padat,  dan terbentuk ketika sistem kekebalan tubuh menangkap benda yang dianggap asing oleh tubuh), mengontrol infeksi,  kematian jaringan (nekrosis) paru dan pembentukan rongga di dalam paru yang berdinding tebal yang disebut sebagai kavitas.

Metode dan Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di rumah sakit di Surabaya dengan subjek penelitian yang sudah terdiagnosis dengan pasti mengidap TB baru yang aktif.  Bahan untuk pemeriksaan laboratorium diperoleh dari cairan kumbah bronkus (brocho alveolar lavage) menggunakan bronkoskopi fiberoptik. Mikobakterium yang diperoleh dari spesimen tersebut diperiksa struktur genetiknya  dan cariran spesimen tersebut diperiksa kadar  TNF α. Adapun untuk menilai keparahan klinis didasarkan pada gambaran foto dada.

Sebanyak 30 subjek yang memenuhi syarat direkrut pada penelitian ini, proporsi wanita sedikit lebih banyak dari pada pria yaitu sebanyak 56,7%,  umur berkisar antara 21 sampai 30 tahun. Empat puluh tiga koma empat persen termasuk garis keturunan tradisional sedangkan 56,7% termasuk kelompok  modern. (kuman yang mengalami evolusi dengan perubahan struktur genetik yang baru). Delapan puluh empat koma dua puluh empat persen subjek yang terinfeksi garis keturunan modern  menunjukkan kerusakan paru yang berat sedangkan  90,9% kelompok tradisional menunjukkan kerusakan paru yang ringan. Kadar TNF α didapatkan 2 kali lebih tinggi pada kelompok modern dibandingkan kelompok tradisional. Kadar TNF α yang tinggi berhubungan dengan kerusakan paru yang lebih berat dibandingkan kelompok tradisional.

Hasil penelitian ini menyimpuklan bahwa perbedaan garis keturunan (modern dan tradisional) berpengaruh pada derajat kerusakan jaringan paru. Disamping itu kelompok modern berpengaruh pada peningkatan kadar TNF α dan selanjutnya berhubungan dengan  keparahan TB. Dengan demikian kedua indikator tersebut dapat dipakai sebagai pedoman untuk memprediksi keparahan klinik  dalam hal ini kerusakan jaringan pada TB paru.

Temuan tersebut dapat dipakai sebagai dasar peningkatan  kewaspadaan petugas kesehatan terutama dokter dan perawatuntuk dapat mendeteksi kemungkinan keparahan TB paru sejak dini dengan memeriksa secara bakteriologis dan penanta biologis  yaitu TNF α.

Penulis : Prof Dr Muhammad Amin Sp P (K)

Informasi detail penelitian ini dapat dilihat pada terbitan jurnal yang dapat diakses:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213398418301684?via%3Dihub

Muhammad Amina Budi Yantid,, Harapan Harapane, Ni Made Mertaniasihf. The role of Mycobacterium tuberculosis lineages on lung tissue damage and TNF-α level among tuberculosis patients, Indonesia. Clinical Epidemiology and Global Health 7 (2019) 263–267

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu