Pengeluaran Perkapita Non-Makanan Pengaruhi Persentase Kemiskinan di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kemiskinan. (Sumber: merdeka.com)

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Diharapkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi mampu mengurangi pengangguran ataupun kemiskinan yang ada. Kondisi kemiskinan suatu negara atau daerah merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan penduduk yang tinggal pada negara/daerah tersebut.

Kondisi kemiskinan suatu negara atau daerah merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan penduduk yang tinggal pada negara/daerah tersebut. Kemiskinan absolut adalah apabila tingkat pendapatannya dibawah garis kemiskinan serta tidak dapat memenuhi pengeluaran yang diperlukan untuk hidup dan bekerja. Sedangkan pengeluaran menurut BPS adalah pengeluaran perkapita yang mana pengeluaran tersebut dibedakan menurut kelompok makanan dan non-makanan.

Pengeluaran perkapita menurut kelompok makanan dan non-makanan dihitung selama sebulan dari konsumsi setiap rumah tangga dibagi dengan banyaknya rumah tangga yang ada di Indonesia (BPS). Menurut dengan teori Hukum Engel yang menyatakan bahwa semakin besar proporsi pengeluaran non-makanan maka semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Namun sebaliknya, semakin kecil proporsi pengeluaran non-makanan merefleksikan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin menurun. Jumlah penduduk miskin cenderung mengalami perubahan berdasarkan pengeluaran perkapita.

Salah satu metode statistika yang dapat menggambarkan hubungan fungsional antara variabel respon dan variabel prediktor adalah metode regresi. Dalam metode regresi, ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengestimasi fungsi regresi yaitu pendekatan parametrik (model global) dan pendekatan nonparametrik (model lokal).

Salah satu estimator dalam model regresi nonparametrik adalah estimator spline yang dapat memberikan fleksibilitas yang lebih baik untuk menangani sifat kelokalan /karakteristik suatu data karena terdiri dari potongan-potongan polinomial berbeda yang digabungkan bersama titik knot dengan tetap menjamin sifat kekontinuan.

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengeluaran non-makanan terhadap persentase kemiskinan di Indonesia dibangun model regresi. Dengan pendekatan model linier global (parametrik) diperoleh estimasi model dengan nilai mean square error (MSE) sebesar 10,248. Sedangkan dengan pendekatan model linier lokal berdasarkan estimator spline diperoleh nilai MSE sebesar 4,133. Berdasarkan kriteria goodness of fit yaitu MSE disimpulkan bahwa dengan pendekatan model linier lokal berdasarkan estimator spline lebih baik daripada pendekatan linier global (parametrik).

Berdasarkan hasil estimasi model dapat menjelaskan bahwa jika variabel pengeluaran perkapita kurang dari 0,47 juta rupiah, maka setiap kenaikan satu juta rupiah pengeluaran perkapita non-makanan akan menurunkan presentase kemiskinan di Indonesia sebesar 68,71 persen. Jika variabel pengeluaran perkapita lebih dari sama dengan 0,47, maka setiap kenaikan satu juta rupiah pengeluaran perkapita non-makanan akan menurunkan presentase kemiskinan di Indonesia sebesar 5,96 persen. Jadi pengaruh peningkatan pengeluaran perkapita non-makanan terhadap penurunan persentase kemiskinan di Indonesia terbesar jika pengeluaran perkapita non-makanan kurang dari 0,47 juta rupiah. (*)

Penulis: Nur Chamidah

Informasi detil dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/546/5/052044/pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu