Hubungan Kuantitas dan Keragaman Diet pada Ibu Hamil dengan Anemia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: klikdokter)

Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia, khususnya di negara berkembang seperti di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anemia ibu hamil meningkat dari 37,1% (2013) menjadi 48,9% (2018). Prevalensi anemia yang tinggi pada ibu hamil menggambarkan terjadinya kekurangan gizi yang luas. Asupan gizi yang cukup dari sisi kuantitas dan kualitas sudah cukup banyak dipelajari, akan tetapi belum khusus pada populasi yang berisiko tinggi seperti ibu hamil yang mengalami anemia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kuantitas dan keragaman diet pada ibu hamil.

Penelitian cross-sectional ini dilaksanakan pada tahun 2017 di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Indonesia. Sebanyak 152 ibu hamil yang mengalami anemia berpartisipasi dalam penelitian ini. Data konsumsi pangan diperoleh melalui recal 2×24 jam dan data keragaman pangan diperoleh menggunakan Minimum Dietary Diversity for Women of Reproductive Age (MDD-W).

Hasil studi ini menggambarkan bahwa median kadar hemoglobin darah 152 ibu hamil yang anemia adalah 10,1 g/dL. Sebanyak 57,2% mengalami anemia tingkat ringan, dan sisanya (42,8%) mengalami anemia tingkat sedang. Pada studi ini tidak ada ibu hamil yang memiliki anemia tingkat berat.

Secara umum, semua ibu hamil anemia tidak dapat memenuhi kecukupan zat gizi untuk energi, protein, dan zat gizi mikro dari makanan. Ibu hamil dengan anemia tingkat sedang memiliki asupan zat gizi yang lebih rendah dibandingkan ibu hamil dengan anemia tingkat ringan. Sebagian besar ibu hamil memilki tingkat kecukupan energi kurang dari 70%, tingkat kecukupan protein kurang dari 90%. dan tingkat kecukupan zat gizi mikro (vitamin A, vitamin C, kalsium, dan seng) yang rendah. Hasil yang cukup berbeda adalah asupan zat besi. Sebagian besar ibu hamil memiliki tingkat kecukupan zat besi yang baik. Kontribusi terbesar dari kecukupan asupan zat besi ini adalah dari suplemen besi-folat yang diberikan secara gratis oleh Pemerintah. Hanya 15-20% kecukupan zat besi yang dipenuhi dari makanan.

Lebih dari separuh ibu hamil anemia telah memenuhi keragaman konsumsi pangan minimum (≥5 kelompok pangan). Keragaman konsumsi pangan mempengaruhi tingkat keparahan anemia. Ibu hamil dengan anemia tingkat ringan memiliki konsumsi pangan yang lebih beragam dibandingkan dengan anemia tingkat sedang. Jika dilihat dari kelompok pangan yang dikonsumsi ibu hamil, makanan pokok khususnya beras dan jagung dikonsumsi oleh seluruh partisipan. Konsumsi pangan hewani seperti ikan, seafood, dan daging lebih banyak dibandingkan telur, susu dan produk susu lainnya. Ibu hamil anemia lebih banyak mengonsumsi olahan kacang kedelai yaitu tempe dan tahu. Sementara itu, sebagian besar ibu hamil anemia memiliki konsumsi sayur dan buah yang rendah.

Studi ini menemukan bahwa ibu hamil dengan anemia tingkat ringan memiliki keragaman konsumsi diet yang lebih baik dibandingkan dengan anemia tingkat sedang. Ibu hamil anemia tingkat ringan mengonsumsi lebih banyak telur, susu dan produk susu, sayuran berdaun hijau, dan sayur dan buah kaya vitamin A dibandingkan dengan ibu hamil dengan anemia tingkat sedang.

Penelitian cross-sectional ini juga menemukan bahwa ukuran keluarga, usia kehamilan, dan kuantitas diet berhubungan dengan keragaman pangan. Ibu hamil dengan keluarga yang lebih kecil, dan usia kehamilan yang lebih muda cenderung memiliki keragaman konsumsi pangan yang lebih baik. 

Kuantitas diet yang rendah pada ibu hamil yang mengalami anemia merupakan hal yang biasa pada partisipan yang tergabung dalam studi ini. Konsumsi keragaman pangan yang rendah berhubungan dengan asupan energi, zat gizi makro dan zat gizi mikro yang rendah. Ibu hamil yang memiliki anemia tingkat sedang, pada trimester tiga, dan memiliki keluarga besar lebih rentan memiliki kuantitas diet dan keragaman konsumsi yang rendah.  Perlu perhatian khusus untuk meningkatkan konsumsi pangan hewani (telur, susu dan produk susu), sayuran, dan buah dengan jumlah yang cukup untuk dapat memenuhi kecukupan gizi. (*)

Penulis: Rian Diana

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Journal of Nutrition and Metabolism berikut

https://www.hindawi.com/journals/jnme/2019/2647230/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu