M. Nuh Imbau Sivitas Akademika FKG UNAIR Tingkatkan Sense of Belonging Lewat Prestasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PROF. M. Nuh saat memberikan materi motivasi bagi sivitas akademika FKG UNAIR dalam Stovit Award 2019. (Foto: Istimewa)
PROF. M. Nuh saat memberikan materi motivasi bagi sivitas akademika FKG UNAIR dalam Stovit Award 2019. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sabtu (19/10/19) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga mengadakan Stovit Award sebagai ajang penghargaan bagi sivitas akademika berprestasi. Pada acara tersebut, Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan hadir untuk membagikan motivasi bagi seluruh seluruh sivitas FKG.

Dalam materi yang dia bawakan, Prof Nuh membagikan motivasi penting mengenai bagaimana cara meningkatkan sense of belonging atau rasa cinta terhadap FKG UNAIR.

“Ada dua poin yang ingin saya tekankan, yakni menghargai dan prestasi. Untuk meraih kesuksesan, seseorang harus mampu membangun budaya menghargai sebagaimana dalam Stovit Award ini. Karena melalui penghargaan mampu menumbuhkan spiral positif serta memicu semangat untuk terus berprestasi,” ungkap mantan rektor ITS tersebut.

Prof. Nuh mengungkapkan bahwa apresiasi dan memanusiakan manusia penting agar nantinya dapat menciptakan iklim akademik yang kondusif dan membangun. Apabila semua itu telah dilaksanakan, maka rasa cinta dan ownership ke FKG UNAIR akan terbentuk. Maka dari itu prestasi dan semangat saling menghargai menjadi hal yang saling berhubungan satu sama lain.

Selanjutnya, terdapat Prof. Nuh membagikan lima cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi kolektif. “Pertama rukun tur kompak. Artinya, perlu ada keseimbangan antara emosi dan aksi, bagaimana kita mampu mengontrol dan menempatkan agar terwujud sinergitas,” ujarnya.

Kedua adalah teknologi yang menuju konvergensi. Diharapkan melalui teknologi setiap individu dapat saling terkoneksi dan merekatkan hubungan di tengah era disrupsi ini. Ketiga, penerapan sikap adaptif dan orientasi perubahan.

“Seperti yang Charles Darwin katakan, buka yang paling kuat dan pintar yang akan survive. Tapi mereka yang mampu menyesuaikan diri dan berubah. Maka dari itu mahasiswa harus miliki sifat adaptif melalui tiga kunci, yakni curiosity, critical thinking, imagination, dan high order thinking.” Tuturnya.

Poin berikutnya adalah perpaduan logika dan akhlak yang seimbang. Prof. Nuh mengungkapkan bahwa manusia harus mampu berkembang tidak hanya pada kepintaran dan pemikiran kritis saja, akan tetapi juga pada akhlak. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa dinamika sosial berubah dua kali lipat lebih cepat daripada kognitif knowledge. Untuk itu semangat menuju kebaikan menjadi poin yang Prof. Nuh tegaskan.

“Yang terakhir adalah self confident. SDM itu potensi yang paling penting, dan hanya akan keluar potensinya apabila mereka berani mengeluarkan ide-ide. Nah, hal ini dapat kita lihat di FKG UNAIR yang tahun ini mampu menelurkan 104 jurnal internasional. Benar-benar melebihi target,” ungkapnya. (*)


Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu