FK UNAIR Tingkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan untuk Pendamping ODHA di Kepulauan Riau

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
TIM pengabdian masyarakat dari IKMKP FK UNAIR berfoto bersama dengan peserta TOT dan staf Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Riau. (Foto: Dok Pengmas)
TIM pengabdian masyarakat dari IKMKP FK UNAIR berfoto bersama dengan peserta TOT dan staf Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Riau. (Foto: Dok Pengmas)

UNAIR NEWS – Angka kejadian infeksi HIV di Indonesia semakin meningkat. Di daerah pelabuhan, misalnya. Karena sebagai pintu masuk dan keluarnya manusia yang menggunakan transportasi laut, pelabuhan juga menjadi gerbang penyebaran penyakit menular, termasuk HIV/AIDS. Di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) misalnya, jumlah penderita HIV/AIDS meningkat setiap tahunnya. Bahkan, provinsi ini menempati urutan ke-8 sebagai provinsi dengan pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) terbanyak di Indonesia.

Karena kondisi demikian itulah maka Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat – Kedokteran Pencegahan (IKMKP) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bekerja sama dengan Dinas Sosial Kepulauan Riau, memberikan Training of Trainer (TOT) tentang HIV/AIDS bagi pekerja sosial dan kader ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di wilayah Provinsi Kepri.

Apalagi, secara geografis daerah Kepulauan Riau itu sebagian merupakan daerah terpencil, kawasan perbatasan. Sebagai daerah kepulauan mengakibatkan Kepulauan Riau kesulitan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.

Tujuan dilakukan pengabdian masyarakat ini, menurut Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes., ketua Tim Baksos yang juga ketua IKMKP FK UNAIR, antara lain untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan sebagai konselor ODHA dan kelompok masyarakat berisiko tinggi terhadap HIV/AIDS di lingkungan pelabuhan Tanjung Pinang. Dengan peningkatan kemampuan di bidang KIE dan konseling tentang HIV dan AIDS, diharapkan pekerja sosial/kader ODHA di Kepri akan lebih mampu dan efisien dalam melakukan upaya pencegahan penyebaran HIV AIDS. Tim baksos ini juga didukung oleh dr. Linda Dewanti, dr. Djohar Nuswantoro.

Dijelaskan, pengabdian dalam bentuk Training of Trainer pendampingan terhadap ODHA ini dilakukan untuk kader dan petugas sosial di wilayah Dinas Sosial Kepri, yang dilaksanakan akhir Agustus lalu. Peserta TOT ini terdiri dari Pegawai Dinas Sosial pembina ODHA, serta kelompok ODHA yang bersedia menjadi kader pendamping ODHA. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di salah satu ruang di Rumah Perlindungan Trauma Center, di Tanjung Pinang. Hal ini terlaksana berkat kerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi Kepri Jl. Raya Dompak, Pulau Dompak, Tanjung Pinang.

Dengan metode TOT ini tim IKMKP FK UNAIR memberikan materi tentang HIV/AIDS dalam bentuk ceramah, diskusi, demo, Focused Group Discusion (FGD), dan roleplay. Instrumennya dalam bentuk buku saku TOT, slide PPT, dan video. Roleplay konseling itu dilakukan setelah pemberian materi, sedangkan FGD-nya dilakukan kepada beberapa peserta kategori ODHA.

Materi yang diberikan pada pelatihan ini mencakup tentang AIDS dan HIV, Personal Hygiene untuk ODHA, cara penularan infeksi HIV, gejala dan bahaya AIDS, cara pencegahan infeksi HIV, cara mencuci tangan untuk ODHA. Kemudian juga tentang konsep sanitasi makanan dan gizi seimbang, status gizi untuk ODHA, dukungan keluarga untuk ODHA, komunikasi dan konseling untuk ODHA.

Dalam evaluasi yang dilakukan menggunakan pretest dan posttest setelah paparan TOT, dan menilai hasil roleplay yang dilakukan peserta, hasil TOT menunjukkan terjadi peningkatan yang bermakna antara pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan, dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test terdapat perbedaan yang bermakna (p < 0.05).

Hasil penilaian Roleplay dari peserta latihan menunjukkan kemampuan komunikasi dengan cara melakukan sambung rasa dan kejelasan informasi >80%. Hasil FGD menunjukkan, secara umum permasalahan yang masih ada pada kelompok ODHA bahwa mereka tidak nyaman dengan statusnya sebagai ODHA, diantaranya bila statusnya diketahui maka merasa khawatir dijauhi oleh masyarakat, bahkan juga keluarganya.

Dari FGD itu masih ada ODHA yang tidak mau menjelaskan statusnya kepada keluarga, karena khawatir akan disalahkan dan dijauhi oleh keluarganya. Karena itu, hasil FGD ini masih merekomendasikan agar tetap perlunya dilakukan edukasi baik kepada ODHA dan masyarakat agar tidak mendiskriminasi ODHA.

Kesimpulan dari kegiatan pengmas ini menunjukkan bahwa TOT untuk pendampingan ODHA sangat perlu dan berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mendampingi ODHA. Karena itu untuk selanjutnya masih perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan pengmas seperti ini dengan sasaran populasi ODHA yang lain. (*)

Penulis : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu