Tes CD4 dan Viral Load Belum Cukup, Pasien HIV Juga Perlu Tes Resistensi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Tidak hanya Bali, Kepulauan Riau juga merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang ramai di kunjungi turis. Seiring berjalannya waktu, angka kejadian HIV-1 pada daerah tersebut juga mengalami kenaikan.

Sehingga, penelitian mengenai infeksi virus HIV-1 penting dilakukan. Salah satunya adalah penelitian mengenai sebaran subtype HIV-1 dan resistensinya.

Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si, atau Ria salah satu anggota tim peneliti HIV-1/AIDS dari Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR menjelaskan bahwa di Kepulauan Riau dominan subtype CRF01_AE yaitu sebesar 55.6 persen. Kemudian juga ditemukan subtype B sebesar 15.6 persen, rekombinasi subtype CRF01_AE dan subtype B sebesar 17.8 persen, dan rekombinasi subtype lain dengan subtype CRF02_AG sebanyak 11.1 persen.

Subtype CRF01_AE sendiri merupakan strain yang dominan di Indonesia dan ASEAN,” ucap Ria.

Informasi terkait subtype tersebut didapatkandari metode teknik polymerase chain reaction (PCR). Kemudian dilanjutkan dengan analisis menggunakan teknik sequencing DNA atau pengurutan DNA.

“Kemudian informasi materi genetik yang didapat dicocokkan pada data materi genetik di genbank untuk mengetahui jenis subtype-nya,” lanjutnya.

Sementara itu, di kepulauan Riau juga hampir tidak ada pasien HIV yang mengalami resistensi. Sehingga, metode terapi yang diberikan masih efektif.

Manfaat dari adanya data terkait resistensi antara lain adalah untuk membantu dokter memberikan terapi yang sesuai dengan kondisi pasien. Selain itu, dengan adanya cek resistensi maka paling tidak pasien tahu terapi yang diterima sudah tepat atau belum.

“Karena jika ternyata pasien sudah resisten, maka dokter harus mengganti terapi,” ungkap Ria.

Kepada pemerintah, diharapkan dapat diberlakukan kebijakan agar institusi pelayanan kesehatan tidak hanya menerapkan tes CD4 dan tes viral load pada pasien terindikasi HIV. Namun juga menerapkan tes resistensi sehingga terapi dapat berjalan efektif.

“Metode kita juga sudah established (mapan, red) diharapkan dapat diterapkan di Indonesia agar kondisi pasien ke depan dapat lebih baik lagi. Meskipun HIV belum ada obatnya tapi paling tidak dengan terapi yang tepat dapat membuat kondisi jadi lebih baik dan dapat memperpanjang umur pasien,” pungkasnya.

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Khefti Al Mawalia

Reference : Khairunisa, S. Q. et al., 2018. Genotypic Characterization of Human Immunodeficiency Virus Type 1 Prevalent in Kepulauan Riau, Indonesia. AIDS RESEARCH AND HUMAN RETROVIRUSES, 34(6), pp. 555-560.

Link : https://www.liebertpub.com/doi/10.1089/aid.2018.0040

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu