Pentingnya Berperilaku Bersih dan Sehat Sejak Dini bagi Anak Panti Asuhan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sejumlah anak panti asuhan mengikuti kegiatan belajar bersama. (Foto: bulelelngkab.go.id)
Sejumlah anak panti asuhan mengikuti kegiatan belajar bersama. (Foto: bulelelngkab.go.id)

Pembelajaran sejak dini merupakan dasar pembentukan kepribadian dan karakter anak. Sejak dini, anak harus belajar dan memperoleh pembelajaran untuk menguasai diri sendiri, belajar memahami orang lain, dan mengenal dunia. Panti asuhan sebagai pengganti fungsi keluarga harus mampu menjalankan tugas utamanya membangun karakter dan perilaku positif anak asuh.

Anak-anak panti asuhan terdiri atas anak yatim piatu, anak yatim, anak piatu, anak fakir miskin, atau anak terlantar. Latar belakang kehidupan keluarga anak panti asuhan yang kurang menguntungkan sebenarnya ingin digantikan oleh peran dari lembaga panti asuhan. Panti asuhan adalah lembaga alternatif yang disediakan oleh pemerintah maupun lembaga swasta untuk menghindarkan anak-anak dari ketelantaran, mendapat kesejahteraan, perawatan, asuhan, dan bimbingan. Panti asuhan memiliki peran sebagai pengganti keluarga yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan fisik, psikologis maupun sosial anak-anak asuhannya. (Pedoman Panti Asuhan, 1997)

Di antara proses pembelajaran sederhana yang diharapkan akan membangun kualitas sumber daya manusia panti asuhan sejak dini adalah melalui pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Mengapa? Sejumlah permasalahan panti asuhan, yaitu perbandingan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang kurang ideal; karakteristik dan latar belakang anak asuh yang sangat beragam; keterbatasan dukungan pendanaan dan sarana prasarana di panti asuhan jika dibandingkan dengan jumlah anak asuh; dan kompetensi, minat, dan latar belakang pengasuh untuk mengabdi sebagai pengasuh panti asuhan yang berbeda-beda. Beberapa permasalahan tersebut mendorong pentingnya ditemukan solusi praktif agar panti asuhan dapat menjalankan fungsinya sebagai pengganti keluarga.

Perilaku hidup bersih dan sehat yang dijadikan prioritas pembelajaran dalam penelitian ini didasarkan pada hasil analisis kebutuhan panti asuhan adalah membuang sampah pada tempatnya; mandi dan menggosok gigi sehari dua kali; mencuci rambut dua kali dalam seminggu; bersisir dan berpakaian rapi ke sekolah; mencuci tangan sebelum makan; mencuci tangan dan kaki sebelum tidur; dan memotong kuku seminggu sekali. Melalui proses pembelajaran berperilaku bersih dan sehat sejak dini diharapkan terbentuk kebiasaan positif dalam diri anak dan kebiasaan baik sejak dini akan membangun kepribadian anak. Penelitian menggunakan pendekatan action research yang berusaha menerapkan keterampilan berperilaku hidup bersih dan sehat pada anak asuh di panti asuhan.

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pembelajaran efektif untuk membentuk perilaku hidup bersih dan sehat di panti asuhan adalah melalui pendekatan kelompok sebaya (peer group). Pendekatan peer group menunjukkan hasil pembelajaran yang lebih baik dikarenakan keterbatasan jumlah pengasuh. Dalam kelompok sebaya, anak asuh di panti asuhan dibagi dalam beberapa kelompok usia perkembangan, Misal: kelompok usia pra sekolah, kelompok usia sekolah dasar dan kelompok usia sekolah menengah. Kelompok usia yang lebih tinggi (Kelompok usia menengah adalah kelompok usia lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok usia sekolah dasar dan kelompok usia sekolah dasar adalah kelompok usia yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok usia pra sekolah). Kelompok usia yang lebih tinggi diberi tanggung jawab menjadi figur model bagi kelompok usia yang lebih rendah. Kelompok usia yang lebih tinggi harus mampu berperan sebagai pendamping adik asuhnya dalam pembelajaran perilaku hidup bersih dan sehat.

Dalam pembelajaran berperilaku hidup bersih dan sehat ini, kelompok usia yang lebih tinggi bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran adik-adik asuhnya dan guru atau pengasuh berperan sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap semua anak-anak asuhnya. Dengan demikian, relasi seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan adalah relasi antar individu dalam sebuah keluarga. Dalam sebuah keluarga, setiap individu yang ada di dalamnya harus mampu mengambil peran agar keluarga dapat menjalankan proses pembelajaran dengan benar sesuai dengan tanggung jawab dan tugas masing-masing. (*)

Penulis: Nurul Hartini

Informasi detil dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.jardcs.org/archivesview.php?volume=1&issue=12&page=6

Nurul Hartini, Faculty of Psychology, Universitas Airlangga, Surabaya – Indonesia. Good Characters Learning among Children Aged between Three Years and Six Years Old based on Clean and Healthy Life Behavior. Terbit pada Journal of Advance Research in Dynamical & Control Systems, Vol. 11, Special Issue-05, 2019. P. 1308-13012

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu