Inilah Pengaruh Perceraian pada Kesejahteraan Psikologis Remaja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Seorang anak bersedih saat mendengar orang tuanya bertengkar. (Foto: beritatagar.id)
Seorang anak bersedih saat mendengar orang tuanya bertengkar. (Foto: beritatagar.id)

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran dan fungsi mulia dalam membangun karakter anak. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dari sebuah proses pembangunan karakter anak bangsa. Keluarga menjadi tempat dimulainya pembentukan dasar kepribadian dan karakter anak. Sejak lahir ke dunia, tempat pertama dan utama anak belajar tentang dunia adalah dari orang tua dan keluarga. Pada usia remaja, orang tua adalah bagian dari pembangun identitas diri; orang tua dapat menjadi teman untuk mendiskusikan tentang masa depan.

Dalam realitas sosial saat ini, perubahan fungsi dan peran keluarga sangat mungkin terjadi dan salah satu perubahan yang berpengaruh negatif pada keberlangsungan fungsi dan peran keluarga dalam membangun karakter anak adalah perceraian. Di Amerika Serikat,  jumlah angka perceraian sebanding dengan jumlah angka perkawinan sehingga diasumsikan bahwa mereka yang menikah akan bercerai (Gladding, 2000). Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Tempo Interaktif (2018) mengemukakan bahwa angka perceraian di Indonesia menunjukkan angka yang memprihatinkan. Di Indonesia, diprediksikan bahwa setiap 100 orang menikah, 10 pasangannya bercerai.

Perceraian orang tua menyebabkan perubahan dalam kehidupan keluarga. Perubahan keluarga akibat perceraian, di antaranya: (1) emotional divorce, perpisahan ikatan emosional; (2) legal divorce, perpisahan ikatan pernikahan secara hukum; (3) economic divorce, perpisahan secara ekonomi atau finansial;  (4) parental divorce, perpisahan sebagai orang tua utuh; (5) community divorce, perpisahan keluarga sebagai bagian dari komunitas; dan (6) physical divorce, perpisahan secara fisik, yaitu menghindari adanya pertemuan tatap muka secara langsung pada pihak-pihak yang berkonflik. Karena itu, perubahan-perubahan yang mengiringi perceraian, sering menjadi sumber stress bagi pihak-pihak yang terlibat.

Secara psikologis, perceraian orang tua menyebabkan remaja kehilangan peran dan fungsi orang tua, sebagai: (1) manajer dalam keluarga, artinya perceraian orang tua menyebabkan remaja kehilangan manajer dalam keluarganya; (2) teman yang membantu remaja dalam pengambilan keputusan-keputusan; artinya perceraian orang tua menyebabkan remaja kehilangan dukungan dan bantuan dalam pengambilan keputusan-keputusan dalam kehidupannya; (3) salah satu faktor penentu yang membangun  identitas diri;  artinya perceraian orang tua menyebabkan remaja kehilangan salah satu faktor pembangun identitas dirinya. Perceraian orang tua menyebabkan remaja mengalami kekaburan atau kebingungan identitas diri.

Anak yang berada pada usia remaja dan harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya bercerai lebih beresiko terhadap gangguan psikologis dan penyimpangan perilaku. Remaja merupakan tahapan perkembangan yang memiliki karakteristik sebagai berikut; sedang mengalami perubahan besar dalam pertumbuhan dan perkembangan dirinya secara fisik, kognitif, emosi, sosial, dan kepribadian; sebagai bagian dari pubertas dan proses penemuan identitas diri. Dinamika internal dalam diri remaja sendiri pada dasarnya dapat menjadi pemicu remaja mengalami gangguan psikologis dan penyimpangan perilaku, seperti: penurunan prestasi akademik, munculnya perilaku menentang, belajar merokok, dan sebagainya.

Dalam paradigma psikologi positif, perceraian orang tua tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap anak; perceraian orang tua dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan psychological well being anak dan remaja. Beberapa penelitian psikologi menjelaskan tentang data peningkatan kesejahteraan psikologis pada anak dan remaja ketika (1) konflik atau disharmoni relasi suami-istri sebagai orang tua sudah berlangsung lama dan seringkali anak menyaksikan pertengkaran orang tua sebagai bentuk dari konflik atau disharmonisnya relasi suami-istri, maka perceraian dapat mengurangi resiko anak melihat secara langsung pertengkaran orang tua sebagai figur idolanya. (2) orang tua yang bercerai dan menikah kembali, kemudian dapat membangun keluarga baru yang harmonis bersama pasangan baru serta dapat berperan sebagai figur orang tua yang bijak bagi anak. (3) Atau, orang tua yang tidak menikah kembali sesudah bercerai dan mengonsentrasikan diri pada pengasuhan anak-anaknya.

Paradigma psikologis sampai sejauh ini selalu menyatakan bahwa perceraian orang tua tetap akan menjadi sumber stress pada anak dan tidak semua anak dapat memberikan respon stress yang positif (eustress). Respon stress yang negatif (distress) biasanya akan memunculkan perubahan perilaku yang negatif pula.

Penulis: Nurul Hartini

Informasi detil dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.jardcs.org/archivesview.php?volume=1&issue=12&page=6

Nurul Hartini, Faculty of Psychology, Universitas Airlangga, Surabaya – Indonesia. Complete Family and Teenager’s Well-Being. Terbit pada Journal of Advance Research in Dynamical & Control Systems, Vol. 11, Special Issue-05, 2019. P. 1302-1307

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu