Alat Pelindung Diri di Laboratorium, Pentingkah?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh bisakimia.com

Hazard yang ada pada laboratorium tidak berbeda dengan sumber bahaya di tempat kerja lain. Semua hazard dapat menyebabkan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan Penyakit Akibat Kerja (PAK), termasuk juga hazard yang terdapat pada laboratorium. Setiap sumber bahaya yang berada di laboratorium dapat menimbulkan bahaya yang berbeda pula.

Salah satu cara untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja adalah dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). APD adalah alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya yang ada saat bekerja kepada pemakainya. Agar tidak mengganggu aktivitas pekerja saat bekerja, alat pelindung diri harus memenuhi persyaratan, seperti nyaman dipakai, tidak mengganggu pekerjaan, dan memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya.

Kewajiban menggunakan APD sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja pada pasal 12 butir b, bahwa tenaga kerja diwajibkan untuk memakai APD dan disebutkan pula pada pasal 13 bahwa barang siapa yang akan memasuki suatu tempat kerja diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai APD yang diwajibkan, termasuk laboratorium. Otak mendapat informasi bahwa terdapat bahaya yang berada di laboratorium, sehingga muncul persepsi untuk melindungi diri selama beraktivitas di laboratorium dengan menggunakan APD. Adanya persepsi dari proses pengalaman sensorik yang dirasakan dengan pengetahuan yang dimiliki akan melindungi dan membuat pengguna laboratorium selalu waspada saat bekerja dalam laboratorium. Dalam teori Loss Causation Model ILCI, persepsi termasuk pada penyebab dasar yang terletak pada personal factor yang dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Persepsi tergolong sebagai personal factor karena munculnya persepsi ini berasal dari diri individu dan bukan berasal dari faktor di luar individu tersebut. Walaupun adanya persepsi ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Semakin tinggi persepsi yang dimiliki pengguna laboratorium, maka semakin tinggi pula tingkat penggunaan APD dalam bekerja di laboratorium. Adanya kepatuhan yang muncul pada setiap individu ini tergolong pada personal factor dalam teori Loss Causation Model ILCI. Hal ini disebabkan karena tingkat kepatuhan antara satu individu dengan individu lainnya tidak akan sama. Faktor personal termasuk dalam penyebab dasar terjadinya kecelakaan kerja. Sehingga perlu untuk memperhatikan faktor personal yang dilakukan oleh individu di tempat kerja. Semakin tinggi tingkat kepatuhan pengguna laboratorium, maka semakin tinggi pula tingkat penggunaan APD selama bekerja di dalam laboratorium.

Motivasi yang dimiliki oleh seorang individu dapat berasal dari dalam dirinya dan dari pengaruh lingkungan. Sehingga motivasi antar satu individu dengan individu lainnya akan berbeda. Adanya perbedaan motivasi antara satu individu dengan individu yang lain, menyebabkan motivasi termasuk dalam teori Loss Causation Model ILCI pada personal factor. Motivasi penggunaan APD antara satu pengguna laboratorium dengan pengguna lain bisa saja berbeda, karena sama dengan kepatuhan, motivasi juga terjadi akibat adanya rangsangan sebagai respon individu. Semakin tinggi motivasi yang dimiliki oleh pengguna laboratorium, maka semakin tinggi pula tingkat penggunaan APD yang dilakukan.

Dalam kaitannya dengan teori Loss Causation Model ILCI, sikap merupakan personal factor yang berasal dari dalam diri individu dan setiap individu akan mengekspresikan sikap sebagai respon yang berbeda pula. Sikap dijelaskan sebagai respon tubuh dari pengguna laboratorium yang sedang bekerja di laboratorium. Adanya stimulus dari objek, yaitu sumber bahaya menghasilkan respon tubuh untuk melindungi dirinya sendiri dengan memakai APD yang telah disediakan di laboratorium. Sikap yang negatif akan mengabaikan stimulus tersebut sehingga pengguna laboratorium tidak akan menggunakan APD untuk melindungi dirinya sendiri selama berada di laboratorium. Semakin baik sikap pengguna laboratorium, semakin tinggi pula penggunaan APD di laboratorium.

Ketersediaan merupakan salah satu faktor pendukung yang dapat mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 411 Tahun 2011 menjelaskan bahwa APD harus tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai dengan banyaknya pengguna APD tersebut. APD yang harus ada dalam laboratorium seperti jas laboratorium, sarung tangan, dan masker. Dalam teori Loss Causation Model ILCI, ketersediaan APD termasuk dalam job factor karena ketersediaannya tergantung dari instansi yang menaungi. Ketersediaan APD ini dapat menimbulkan masalah apabila pengadaannya tidak dipenuhi. Semakin tinggi tingkat ketersediaan APD yang disediakan oleh instansi terkait, maka penggunaan APD oleh pengguna laboratorium yang bekerja di laboratorium akan semakin tinggi juga.

Sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang dialami oleh seseorang untuk bisa beradaptasi di lingkungannya agar dapat berpartisipasi secara optimal. Sosialisasi dalam laboratorium perlu untuk dilakukan karena sumber bahaya juga terdapat pada laboratorium. Dalam teori Loss Causation Model ILCI, sosialisasi termasuk pada job factor yang harus diperhatikan oleh instansi. Adanya sosialisasi terkait sumber bahaya di tempat kerja akan menambah rasa waspada pengguna laboratorium saat melakukan pekerjaan di laboratorium. Sosialisasi tentang APD juga perlu dilakukan agar pengguna laboratorium mengetahui cara untuk melindungi dirinya sendiri.

Penulis : Putri Ayuni Alayyannur, S.KM., M.KKK

Informasi detail tentang riset ini dapat dilihat di

https://medic.upm.edu.my/our_journal/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs/mjmhs_vol_15_no_3_oktober_2019-52215

Judul artikel Scopus:

Analysis of Factors Related to Use of Personal Protective Equipment (PPE) in Laboratory

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu