Wisnu Sakti Buana : Generasi Muda Patut Ambil Peran dalam Dunia Politik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana (kiri), Fahrul Muzzaqi, S. Ip., M. Ip. (tengah) dan Aldi Dzuhriansyah selaku moderator (kanan) saat memberikan materi di Aula Soetandyo, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga pada Selasa (15/10/2019). (Foto : istimewa)

UNAIR NEWS – Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana menjadi salah satu pembicara dalam acara Seminar Nasional Next Leader Talk Sekolah Kepemimpinan (SPIN) 2019. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kementerian Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Airlangga pada Selasa (15/10/2019).

Wakil Walikota yang akrab disapa Wisnu tersebut membahas mengenai persiapan pemimpin muda solutif guna menyongsong bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia pada tahun 2030.

Leader  adalah pemuda yang punya kualitas baik untuk membangun bangsa, leader tidak hanya bicara masalah bonus demografi namun juga tentangan pemerintahan dan tantangan kedepan,” tutur Wisnu.

Menurutnya, bonus demografi merupakan pertambahan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2030. Generasi muda akan menjadi garda terdepan untuk memimpin dan pemimpin muda yang solutif sangat dibutuhkan di Indonesia. Tanggung jawab yang dipikul generasi muda kedepan sangat berat, belakangan sulit menumbuhkan minat pemuda untuk turut andil secara langsung dalam dunia politik untuk mengubah sistem.

“Generasi muda jangan alergi terhadap politik, karena sistem akan sangat sulit untuk diubah dari luar sehingga pemuda harus berkecimpung dalam dunia politik, naik sebagai pemimpin, dan mengubah sistem dari dalam,” ujarnya.

Seorang pemimpin kedepan harus meningkatkan kualitas diri sehingga pandangan pemuda sebagai tonggak demokrasi akan memperkuat Indonesia dalam mengahadapi bonus demografi. Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki mimpi yang besar, idealisme yang kuat, dan dedikasi yang tinggi.

“Kami di partai politik telah berusaha mengisi kursi-kursi pemimpin dengan orang-orang berkualitas, namun generasi muda pun harus mulai mengisi sebagai bentuk regenerasi,” tambahnya.

Generasi muda, lanjutnya, dewasa ini cenderung apatis dalam dunia politik karena menganggap bahwa politik itu kotor. Namun ia menegaskan bahwa politik hanya sebagai alat dan generasi muda patut untuk mengambil peran sentral perubahan di dalamnya.

“Demonstrasi yang kerap dilakukan pemuda itu hanya untuk menyuarakan aspirasi, tapi tidak bisa mengubah sistem,” ujar Wisnu.

Pemimpin yang solutif kedepan diharapkan tidak hanya turun ke jalan untuk berdemonstrasi melainkan berpartisipasi aktif dalam praktik politik untuk dapat mengubah sistem dari dalam. Selain itu pemimpin yang solutif harus memiliki karakteristik jujur, cerdas, dapat dipercaya dan mendengarkan suara rakyat.

“Kedepan pemimpin haruslah seorang yang mengayomi dan mendengar suara rakyat karena di situ akan muncul solusi dari segala permasalahan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Rissa Ayu F

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu