Olahraga Exergaming Sambil Duduk Bisa Turunkan Kadar Gula Darah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: freepik.com
Sumber foto: freepik.com

Jumlah penyakit metabolik seperti kencing manis atau diabetes mellitus (DM) makin meningkat. Pada tahun 2035, diperkirakan jumlah pasien DM adalah 592 juta. Salah satu tanda DM adalah peningkatan gula (glukosa) dalam darah (hiperglikemia). Gula yang merupakan salah satu  sumber energi tubuh tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal pada pasien DM karena hormon insulin yang dihasilkan oleh sel beta di pancreas, kadarnya rendah atau kadarnya normal, tetapi insulin tidak bisa bekerja optimal.

Salah satu faktor risiko yang meningkatkan seseorang terkena DM adalah malasnya berolahraga. Dari beberapa riset, olahraga diketahui dapat meningkatkan pemanfaatan gula darah oleh sel tubuh sehingga kadar gula yang tinggi dapat dihindarkan.

Alasan kemalasan berolahraga pun beragam. Antara lain, tidak sempat berolahraga, tidak ada fasilitas untuk berolaga, dan ada kesulitan ketika melakukan gerakan-gerakan olahraga.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi pilihan olahraga yang bermanfaat untuk melihat perubahan kadar gula darah, denyut nadi, dan saturasi oksigen, sebelum dan setelah olahraga. Variasi pilihan tersebut adalah olahraga yang sekiranya dapat dilakukan oleh orang-orang yang punya keterbatasan dalam melakukan gerakan olahraga. Selain itu, dipilih olahraga yang dilakukan sambil bersantai misal dengan video game agar tidak membosankan. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh individu yang punya keterbasan ketika melakukan gerakan olahraga dengan berdiri.

Penelitian dilakukan pada partisipan remaja pria yang berumur sekitar 20 tahun. Mereka diminta olahraga dengan menggunakan fasilitas video game-based exercises (exergaming). Alat yang dipakai adalah game using console XBOX yang mempunyai pilihan banyak game olahraga.

Partisipan dibagi dalam tiga kelompok, kelompok yang tidak olahraga, kelompok olahraga yang menggerakkan anggota badan bagian atas saja, dan kelompok olahraga yang menggerakkan anggota badan bawah saja. Partisipan yang olahraga dengan anggota badan bagian atas saja, melakukan olahraga sambil duduk. Sedangkan partisipan yang olahraga dengan anggota badan bagian bawah saja, melakukan olahraga sambil berdiri dengan tangan posisi istirahat.

Selanjutnya, dalam keadaan puasa 8-10 jam, partisipan diperiksa kadar gula, denyut nadi, dan saturasi oksigen sebelum olahraga. Segera setelah diperiksa pada kondisi puasa, minuman manis diberikan kepada semua partisipan. Pada 30 menit setelahnya, kadar gula, denyut nadi, dan saturasi oksigen diperiksa kembali. Hal tersebut untuk memastikan, partisipan dapat ber-exergaming dalam kondisi aman, tidak kurang gula (hipoglikemia) atau kelebihan gula (hiperglikemia, >250mg/dL). Partisipan kelompok olahraga (2 kelompok) melakukan exergaming selama 30 menit.

Sedangkan kelompok yang tidak olahraga, diminta untuk duduk tenang. Jenis exergaming yang dipilih adalah dancing game yang mudah ditiru. Exergaming ini dilakukan selama 30 menit. Ketika exergaming berakhir, kadar gula, denyut nadi, dan saturasi oksigen diperiksa lagi 3 kali berturut-turut dengan jarak 30 menit.

Gambar 1. Pemeriksaan data penelitian

Hasil penelitian menujukkan bahwa partisipan yang melakukan olahraga (exergaming) menunjukkan penurunan kadar gula yang bermakna daripada partisipan yang tidak berolahraga. Penurunan kadar glukosa darah ini paling banyak terjadi pada menit ke-60 (segera setelah olahraga). Penurunan kadar gula darah antara partisipan yang berolahraga dengan anggota badan atas saja atau pun anggota badan bawah saja, menunjukkan besar pola penurunan yang sama. Denyut nadi meningkat saat olahraga adalah hal yang fisiologis, dan dengan hasil pemulihan denyut nadi yang normal pada partisipan yang sedenter (jarang berolahraga). Sedangkan untuk saturasi oksigen, tidak didapatkan adanya perbedaan, baik pada partisispan yang berolahraga dan tidak berolahraga.

Karena itu, pilihan olahraga sambil duduk atau dengan berdiri, dengan menirukan game, mempunyai pengaruh yang sama dalam penurunan kadar gula darah. Hal tersebut dapat memberikan variasi pilihan dalam melakukan olahraga bagi seseorang yang mempunyai keterbatasan gerakan, seperti ada keluhan pada kaki atau tangan. Contohnya beberapa lansia yang sering mempunyai keluhan pada lutut. Dengan kadar gula yang masih dalam batas aman, olahraga pilihan dengan duduk saja dapat diasumsikan masih memberikan hasil yang baik untuk menjaga kesehatan. Selain itu, olahraga dengan exergaming ini, tidak membosankan karena mempunyai pilihan game yang bervariasi dan menyenangkan. (*)

Penulis: Dr. Lilik Herawati, dr, M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://efsupit.ro/images/stories/iunie2019/Art%20114.pdf

Trisna Rahayu, Dwi Aprilawati, Jamaluddin Mahmud, Bambang Purwanto, Lilik Herawati (2019). Both upper and lower extremity-only video game-based exercises (exergaming) affect blood glucose serum levels and heart rates but not oxygen saturation in teenagers. Journal of Physical Education and Sport, Vol 19 (Supplement issue 3), Art 114, pp 802 – 807; https://doi.org/10.7752/jpes.2019.s3114

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu