Rajungan di Pesisir Kuala Terengganu Malaysia dan Parasitnya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi rajungan. (Sumber: Ekonomi-Bisnis)

Indonesia dan Malaysia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki potensi pengembangan budidaya perikanan yang cukup besar. Pemanfaatan potensi budidaya perikanan tersebut belum dapat dilaksanakan secara maksimal. Ketergantungan pada satu komoditas tertentu merupakan salah satu hambatan dalam pemanfaatan lahan budidaya. Hal ini dapat dilihat dari tidak termanfaatkannya lahan budidaya setelah kegagalan budidaya akibat serangan penyakit pada tahun 1990-an. Belum adanya budidaya ikan alternatif dan kurangnya penguasaan teknologi budidaya pada komoditas yang memiliki nilai ekonomis merupakan penyebab utama banyaknya tambak iddle di Indonesia.

Salah satu alternatif pengembangan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis dan potensial saat ini adalah budidaya rajungan.Sebagaimana diketahui bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir komoditas ini menempati peringkat keempat dari total ekspor produk perikanan di Indonesia setelah tuna, udang dan rumput lautdengan nilai mencapai USD 200 juta.

Hasil olahan rajungan atau yang juga dikenal dengan nama Blue Swimming Crabbanyak diekspor ke pasaran Amerika, Australia, Jepang dan Uni Eropa. Selain hasil Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar olahan daging rajungan juga memiliki hasil samping (by product) berupa cangkang atau karapas yang mempunyai nilai jual cukup tinggi.

Hingga saat ini, bahan baku mentah rajungan masih mengandalkan hasil penangkapan dari alam. Usaha budidaya di tambak atau karamba telah mulai dirintis, namun belum memberikan kontribusi terhadap penambahan volume ekspor. Harga yang semakin meningkat dan permintaan pasar yang semakin banyak mendorong terjadinya penangkapan rajungan secara besar-besaran. Penangkapan rajungan pada beberapa daerah dirasakan semakin meningkat kemudian cenderung stagnan. Penurunan stok populasi ini, apabila tidak diantisipasi, akan berpotensi menurunkan kontribusi bagi pendapatan asli daerah dan menghilangkan kesempatan kerja khususnya di daerah pesisir.

Rajungan biru (Portunus pelagicus) adalah sejenis kepiting yang hidup di laut. Jenis ini biasanya ditemukan di wilayah pantai yang dangkal, terutama di perairan Samudera Pasifik bagian barat. Rajungan adalah sejenis kepiting yang banyak disukai oleh konsumen karena kelezatan dagingnya, bahkan di daerah pesisir ada masakan khas yang terbuat dari rajungan tersebut. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara tetangga kita Malaysia.

Mengenal Ektoparasit (Octolasmis sp.) Pada Rajungan

Octolasmis sp. termasuk dalam kelompok crustaceae yang telah diidentifikasi yang menginfeksi kepiting memiliki ukuran tubuh 0.01-0.15 cm dengan morfologi berkoloni, memiliki tergum, carina, capitulum, scutum dan kaki. Parasit ini bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti pada tiap lembar insang atau kadang melekat pada karapas bagian dalam. Parasit ini memiliki tergum yang berfungsi sebagai mulut untuk memasukkan nutrisi makanan yang akan diserap, scutum yang berfungsi sebagai usus yang dapat menyerap nutrisi makanan dan kaki yang berfungsi untuk menempelkan tubuh pada salah satu organ inangnya.

Efek ekonomis yang diakibatkan oleh infeksi ektoparasit dalam kegiatan penangkapan maupun budidaya yaitu dapat berupa pengurangan populasi, penurunan bobot dan penolakan konsumen akibat adanya perubahan morfologi. Sedangkan kerugian secara fisiologi yaitu terhambatnya pertumbuhan dan menurunya kualitas daging. Di alam, termasuk biota akuatik terdapat beberapa jenis yang hidupnya tergantung pada biota lain sebagai tempat hidup (parasit). Sebagai contoh adalah salah satu jenis teritip (Octolasmis, hidup menempel pada cangkang dan insang rajungan.

Ada hal menarik yang ingin diketahui dalam hubungan (parasitisme) antara rajungan dan Octolasmis ini, yaitu tentang distribusi dan jenisnya karena keberadaan Octolasmis tersebut mengganggu pernafasan, aktivitas dan pertumbuhan rajungan  Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, dilakukan pengamatan terhadap rajungan yang diambil dari daerah pesisir Kuala Terengganu, Malaysia.

Sampel rajungan yang diperoleh, diamati ektoparasit kemudian dilakukan identifikasi. Dari 13 ekor sampel rajungan, ditemukan  4 jenis  (sepesies); yaitu Octolasmis angulata, Octolasmis warwickii, Octolasmis lowei dan Octolasmis tridens. Distribusi ektoparasit ini lebih sering pada insang rajungan (57,70%) dibandingkan pada bagian yang lain (42,30%). Hal tersebut terjadi karena salah satu sebabnya adalah adanya arus air. Permukaan tubuh rajungan sering terpapar arus air, sehingga ektoparasit lebih banyak menempel pada insang. (*)

Penulis : Kismiyati

Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat detemukan pada jurnal ilmiah pada link berikut ini :

https://e-journal.unair.ac.id/JIPK/article/view/10635/7444

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu