Workshop Analisis DNA untuk Ungkap Kasus Kematian

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA praktikum analisis DNA Pekan Ilmiah Forensik di Institute of Tropical Disease UNAIR. (Dok. Panitia)

UNAIR NEWSPerkembangan zaman ikut memberikan dampak terhadap perkembangan ilmu forensik. Berkembangnya ilmu forensik juga karena bidang-bidang ilmu lain turut berkembang. Apalagi, ahli forensik memiliki peran penting dalam mengungkap suatu kejahatan.

Untuk itu, program studi Magister Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga mengadakan Pekan Ilmiah Forensik 2 bertajuk Penerapan Multidisiplin Ilmu dalam Bidang Forensik di Indonesia yang dilaksanakan tiga hari berturut-turut pada Jumat-Minggu (11-13/10/2019).

Hari pertama acara dibuka dengan workshop tentang DNA. Yunisa Khulqi Rosita selaku Wakil Ketua Pekan Ilmiah Forensik 2 mengatakan bahwa kejahatan bisa dilihat dari berbagai aspek. “Kita bertukar pikiran bahwa forensik tidak hanya dari satu rumpun ilmu, tapi juga dari multidisiplin ilmu yang berkaitan dengan forensik,” tambahnya.

Terdapat dua materi yang dipaparkan pada workshop DNA. Materi pertama tentang mengumpulkan dan mempersiapkan sampel DNA dengan metode CSI yang dibawakan oleh Kombes Pol. Drs. Putut Thahjo Widodo DFM. MSI. Lalu, materi kedua tentang analisis DNA dengan metode CSI yang dibawakan oleh Dr. Ahmad Yudianto, dr., Sp.F, M.Kes., SH.

Kombes Pol. Putut membuka paparan dengan menjelaskan arti dari 4N6 biologi. Yaitu, penerapan ilmu biologi untuk penegakan hukum. Putut, sapaan akrabnya, memaparkan N6 biologi memiliki tujuh cabang ilmu. Meliputi botani, entomologi, taksonomi hewan, taksonomi tumbuhan, biokimia, mikrobiologi, genetika, dan masih banyak lagi.

Penggunaan DNA terbagi menjadi dua, DNA forensik dan DNA science. Perbedaan dari dua hal tersebut terletak pada perkembangannya. “DNA forensik sudah berkembang pesat, sedangkan DNA science belum berkembang pesat,” ujar Kombes Pol Putut.

Putut juga menjelaskan bahwa terdapat kasus yang sulit untuk diungkap. Misalnya dibunuh atau bunuh diri, gantung diri atau digantung, tenggelam atau ditenggelamkan, dan pemerkosaan.

Setelah itu, dilanjut materi yang dibawakan oleh Dr. Ahmad tentang mempersiapkan sampel DNA dengan metode CSI. Sebagai awalan, Ahmad menjelaskan secara dasar tentang DNA, letak DNA, dan struktur DNA.

Setelah itu, Ahmad menjelaskan bagian tubuh yang bisa diambil untuk koleksi sampel. Misalnya gigi, darah, sperma, rambut, urin, tulang, dan otot. Lalu Ahmad memberi wawasan kepada peserta yang rata-rata dokter, bahwa jika di TKP ada hewan, darah di TKP diekstraksi bersamaan.

“Kita tidak mungkin memisahkan mana DNA manusia dan hewan, diekstraksi bersamaan lalu menggunakan premier (reagen) yang berbeda,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmad berpesan kepada peserta bahwa pemeriksaan DNA yang paling penting adalah premiernya. “Kerja premier itu spesifik. Salah memakai premier maka seluruh proses akan hancur,” pesannya.

Setelah workshop, para peserta mulai melaksanakan praktikum DNA tentang isolasi DNA, ekstraksi DNA, amplifikasi DNA. Lalu di hari Minggu, peserta melakukan praktikum DNA tentang elektroforesis, pewarnaan, dan pembacaan hasil. (*)

Penulis : R. Dimar Herfano A

Editor    : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu