Pengaruh Masa Kerja dan Pengetahuan 5S Pada Karyawan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh hukumonilne

Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di perusahaan memiliki tujuan untuk melindungi dan memastikan keselamatan semua pekerja dan memastikan setiap sumber daya produksi dapat digunakan dengan aman dan efisien. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja harus mengikuti pendekatan sistem dengan menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3). Tujuan dan sasaran SMK3 adalah untuk menciptakan sistem keselamatan dan kesehatan di tempat kerja dengan melibatkan anggota manajemen, tenaga kerja, kondisi kerja dan lingkungan yang terintegrasi, agar dapat mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta dapat menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, efisien dan produktif. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja dengan menerapkan metode 5S. Program 5S berasal dari kata Jepang yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Di Indonesia dikenal sebagai 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin). Penerapan 5S dapat memfasilitasi produksi, memberikan kenyamanan saat bekerja, menjaga lingkungan kerja yang bersih, mengkarakterisasi tenaga kerja, dan disiplin kerja. Ketika tempat kerja ditata, maka kemudahan individu yang bekerja dapat tercipta, dengan demikian efisiensi, produktivitas, kualitas, keselamatan dan kesehatan kerja akan lebih mudah dicapai.

Tujuan program 5S tidak dapat dipisahkan dari unsur manajemen, tenaga kerja, dan lingkungan. Seperti penerapan 5S di Sphoorti Machine Tools dapat meningkatkan produktivitas kerja, keuntungan perusahaan, antusiasme, serta ketepatan waktu antara tenaga kerja dan kondisi tempat kerja yang lebih aman. Selain itu, hasil penelitian tentang simulasi 5S menyatakan bahwa 5S baik diterapkan dalam meningkatkan kinerja sistem. Hasil penelitian di Wan Cheng Manufacturing Company juga menunjukkan penerapan 5S dapat mengurangi waktu untuk menemukan barang yang dibutuhkan sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dan efisiensi kerja. Sebaliknya, kurangnya efisiensi dan pengorganisasian di tempat kerja menyebabkan pemborosan waktu dan sumber daya, produk berkualitas rendah, disorganisasi, masalah keselamatan, keterlambatan pengiriman dan sebagainya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini untuk memahami pengaruh masa kerja dan pengetahuan 5S terhadap penerapan 5S di bagian logistik perusahaan fabrikasi alat berat Gresik.

Penelitian ini merupakan studi analitik yang menggunakan data sekunder. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh antara masa kerja dan pengetahuan 5S dengan penerapan 5S. Data diperoleh dari studi yang dilakukan di departemen fabrikasi alat berat perusahaan logistik Gresik. Total tenaga kerja dari 25 pekerja yang disampel dan dianalisis, sebanyak 24 pekerja dengan bootstrap analitik statistik menggunakan regresi linier dengan 1000 ulangan sehingga sampelnya kecil (24 sampel).

Berdasarkan data sekunder, perusahaan fabrikasi alat berat Gresik telah menetapkan penerapan 5S sebagai pedoman teknis dan SOP yang harus dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan distribusi karyawan terbanyak menurut masa kerja di bagian logistik perusahaan fabrikasi alat berat Gresik adalah <6 tahun dengan jumlah 15 karyawan (62,5%). Sedangkan menurut pengetahuan 5S pada karyawan, sebanyak 24 karyawan (100%) dalam kategori baik, hal ini dikarenakan ada yang mempromosikan tentang 5S di tempat kerja sehingga pengetahuan pekerja tentang 5S masih bagus. Dan menurut penerapan 5S pada karyawan, sebanyak 24 karyawan (100%) juga dalam kategori baik. Hal ini disebabkan adanya pengawasan manajemen terkait dengan penerapan 5S. jika pekerja melanggar akan menerima peringatan atau sanksi dari manajemen.

Analisis pengaruh antara masa kerja dan pengetahuan 5S dengan penerapan 5S di bagian logistik perusahaan fabrikasi alat berat Gresik menggunakan analisis regresi. Hasil analisis regresi dari 1000 sampel bootstrap menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh masa kerja dengan penerapan 5S, karena sebagian besar tenaga kerja memiliki masa kerja kurang dari 6 tahun. Padahal masa kerja akan berpengaruh jika memiliki masa kerja yang lama. Masa kerja yang relatif singkat adalah masa adaptasi bagi seorang pekerja, sehingga terkadang masih belum terbiasa dengan budaya kerja dalam aktivitas sehari-hari. Sedangkan pekerja yang sudah lama bekerja akan lebih mudah mengenali lingkungan kerja sehingga lebih berhati-hati dalam bekerja. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada mekanik sepeda motor di Semarang yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara masa jabatan dengan praktik 5S.

Namun berbeda dengan hasil penelitian yang mengatakan ada hubungan antara lamanya layanan dan sikap karyawan terhadap penerapan 5S di departemen logistik perusahaan fabrikasi alat berat. Tingkat pengetahuan memiliki pengaruh pada penerapan 5S di tempat kerja. Ini menunjukkan pentingnya pengetahuan tentang penerapan 5S yang dapat berjalan dengan baik. Sesuai dengan teori perilaku Lawrence Green, pengetahuan termasuk dalam faktor predisposisi. Dengan pengetahuan yang baik tentang 5S diharapkan perilaku 5S dapat diterapkan dan menjadi kebiasaan sehingga menjadi budaya yang baik di tempat kerja. Pengadaan pengetahuan 5S harus dilakukan secara teratur untuk mengingat pentingnya 5S di tempat kerja.

Penulis : Abdul Rohim Tualeka

Informasi detail tentang tulisan ini dapat dilihat di

https://medic.upm.edu.my/our_journal/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs/mjmhs_vol15_supplement_3_august_2019-51211

Judul : The Influence Work Periods and Knowledge of 5S to the 5S Implementation at Logistic Section in Heavy Equipment Fabrication Company Gresik

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu