Sarkoma Botryoides di Serviks pada Anak-Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sarkoma botryoides merupakan tumor ganas pada jaringan ikat yang berasal dari sel otot embrional. Tumor ini merupakan bagian dari tumor golongan rhabdomyosarcoma. Tumor ini sangat jarang muncul pada anak-anak dengan lokasi di daerah serkviks. Karena kelangkaan kasus ini pada anak-anak, sehingga pengetahuan terkait penanganan kasus ini sangatlah minim. Pada artikel ini kami mengulas tentang gejala yang biasa muncul, faktor resiko, serta pilihan modalitas terapi dalam penanganan kasus ini.

Sarkoma botryoides bisa muncul dengan gejala perdarahan di vagina dan nyeri pada daerah perut bagian bawah, selain tanda khas keluarnya jaringan berbentuk anggur dari organ kewanitaan yang mudah berdarah. Faktor risiko dari tumor ini belum dapat ditentukan secara pasti karena sangat minimnya laporan kasus ini di literatur kedokteran. Namun terdapat beberapa laporan terdahulu terkait faktor resiko dari rhabdomyosarcoma, yang kemungkinan juga menjadi faktor resiko dari sarkoma botryoides, mengingat bahwa sarkoma botryoides merupakan bagian dari kelompok tumor rhabdomyosarcoma.

Faktor risiko tersebut antara lain adalah: usia, ras tertentu (perempuan ras afrika-amerika memiliki angka kejadian 2x lebih banyak daripada ras amerika), konsumsi obat untuk mencegah / mengobati kanker payudara selama lebih dari 5 tahun, riwayat terpapar benda-benda radioaktif, paparan zat kimia, usia ibu saat hamil lebih dari 30 tahun, status sosial-ekonomi yang rendah, dan faktor lingkungan.

Diagnosis pasti dari sarkoma botryoides adalah dengan dilakukan pemeriksaan jaringan tumor di bawah mikroskop yang diambil melalui tindakan operasi. Pilihan modalitas terapi pada tumor ini tergantung dari staging tumor berdasarkan IRSG (Intergroup Rhabdomyosarcoma Study). Penetapan staging tersebut berdasarkan lokasi primer tumor, ukuran tumor, keterlibatan kelenjar getah bening, dan ada tidaknya metastasis. Adapun pilihan modalitas terapi untuk sarkoma botryoides adalah pembedahan, kemoterapi yang dikombinasi dengan radiasi, atau kombinasi dari pilihan modalitas terapi yang ada. Namun sampai saat ini belum didapatkan modalitas terapi yang paling optimal karena sangat minimnya laporan kasus dalam literatur.

Sebelum laporan ini diterbitkan, hanya ada 6 laporan kasus sarkoma botryoides yang terjadi pada anak-anak dalam literatur dunia kedokteran yang membahas terkait gejala, prosedur terapi yang dilakukan, dan keberhasilan terapi tersebut. Bahkan dari 6 laporan kasus tersebut, beberapa tidak memberikan detail yang lengkap terutama terkait tindakan terapi yang dilakukan (bagaimana teknik operasinya, dosis kemoterapi yang digunakan, jenis kemoterapi yang dipilih, dan lain sebagainya).

Dari laporan yang ada sebelumnya, sarkoma botryoides memiliki kecenderungan untuk muncul kembali jika terapi yang diberikan tidak maksimal. Oleh karena itu, kemoterapi setelah dilakukan operasi pembedahan merupakan terapi kombinasi yang dipakai oleh klinisi di berbagai penjuru dunia. Kami juga telah membuktikan di kasus kami, dimana pada operasi yang pertama tidak dilakukan kemoterapi setelahnya dan pasien pengalami kekambuhan 3 bulan setelah operasi.

Modalitas kemoterapi yang disarankan untuk digunakan adalah dengan menggunakan gabungan beberapa obat kemoterapi. Karena tidak ada panduan resmi mengenai pilihan obat kemoterapi pada kasus anak-anak, maka pilihan obat kemoterapi mengikuti panduan pengobatan pada remaja atau dewasa muda namun dengan penyesuaian dosis sesuai dengan berat badan anak untuk menghindari efek samping kemoterapi yang berlebihan.

Dari artikel ini dapat dipahami bahwa sarkoma botryoides merupakan tumor ganas dengan bentukan khas berbentuk seperti anggur dan mudah berdarah, dan dapat terjadi pada anak-anak walaupun angka kejadiannya sangat jarang. Mesikpun begitu, tumor ini dapat disembuhkan dengan cara dilakukan operasi dan diikuti dengan pemberian kemoterapi untuk mencegah terjadinya kekambuhan dari tumor tersebut. (*)

Penulis: Firas Farisi Alkaff

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6587646/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu