Ahli Tsunami Indonesia : Diperlukan Manajemen Bencana dan Pembangunan Berkelanjutan yang Efektif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk Antisipasi dan Penanganan Bencana pada Selasa (8/10/19) di Aula Garuda Mukti, Lantai 5, Kampus C, Universitas Airlangga. (Foto: Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Telah banyak disaksikan fenomena bermacam bencana terjadi di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Mulai dari banjir, tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan, hingga gunung meletus.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain akibat ulah manusia, kekurangan atau kegagalan dalam antisipasi dan pengelolaan risiko bencana, serta faktor alam itu sendiri. Oleh karena itu, manajemen bencana dan pembangunan berkelanjutan secara efektif sangat diperlukan dari berbagai macam sektor.

Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya, dalam seminar nasional bertajuk Antisipasi dan Penanganan Bencana pada Selasa (8/10/19) di Aula Garuda Mukti, Lantai 5, Kampus C, Universitas Airlangga menyampaikan bahwa sejatinya Indonesia berada di beberapa titik rentan terhadap bencana. Oleh sebab itu, pembangunan yang lebih baik sangat diperlukan. Bencana memiliki dua sifat siklus, yakni siklus pendek (harian, bulanan, dan tahunan, Red) dan siklus panjang (100-600 tahun, Red).

“Kalau kita mau bangun, kita harus berani punya waktu untuk membangun Indonesia,” ucapnya.

Berbicara tentang target pembangunan, Gegar mengatakan bahwa mestinya tidak hanya untuk 2-25 tahun saja, namun target pembangunan untuk siklus panjang yaitu 100-600 tahun juga perlu diperhatikan. Siklus panjang meliputi pada bencana gempa bumi, tsunami, dan gunung berapi.

“Kalau kita berhubungan dengan bencana yang siklusnya panjang, 400 sampai 600 tahun, maka impact-nya tidak hanya lokal, namun juga regional. Sehingga dia ada disruption atau memutus satu generasi. Misal kejadina Aceh 2004,” ujarnya.

Selain itu, Gegar juga memaparkan bahwa terdapat roda manajemen bencana yakni disaster; response; recovery; mitigation; preparedness. Semuanya diperlukan kombinasi berbagai sektor atau stakeholders. Selain itu, penerus ahli bencana juga diharapkan dalam keandilannya.

Dengan lahan Indonesia yang begitu luas dan puluhan gunung di Indonesia, jumlah ahli bencana seperti ahli tsunami dan ahli gunung berapi tidak lebih dari 10 orang. Padahal, ketika terjadi sebuah bencana, kegiatan recovery harus dilakukan secara cepat. Maka dari itu, upaya manajemen dengan penyiapan tenaga ahli dan pembangunan anti bencana harus lebih ditekankan.

“Setiap bencana memiliki karakteristik yang tidak sama. Begitu ada bencana, kegiatan akan berhenti, maka perlu adanya recovery yang cepat,” ungkapnya. (*)

Penulis : Ulfah Mu’amarotul H

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu