UNAIR Mengajar Ajak Siswa Inklusi Belajar dan Bermain dalam BERLIAN

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SESI foto bersama siswa-siswa inklusi dan anggota UNAIR Mengajar seusai kelas. (Foto: Intang Arifia)
SESI foto bersama siswa-siswa inklusi dan anggota UNAIR Mengajar seusai kelas. (Foto: Intang Arifia)

UNAIR NEWS – SCOLAH-UNAIR Mengajar mengadakan salah satu acara tahunan yang bertajuk Berlian pada Sabtu (5/10/19). Jika biasanya anggota UNAIR Mengajar melakukan belajar bersama adik-adik Rumah Binaan (Rubel), maka pada acara ini UNAIR Mengajar berkesempatan untuk belajar dan bermain bersama 40 anak-anak inklusi (berkebutuhan khusus-Red) di SDN Banyu Urip II, Kota Surabaya.

Berlian sendiri telah diadakan empat kali sejak tanggal (21/9/19) di sekolah yang sama. Dalam acara itu adik-adik diajak untuk mengenali profesi, bercerita, melatih sanitasi, prakarya, melukis, dan berbagai kegiatan lain yang mengasah kemampuan daya pikir dan praktik. Candra Kusumawati, selaku penanggung jawab acara menuturkan bahwa Berlian diperuntukkan bagi banyak pihak, baik guru, pengajar SCOLAH, maupun siswa-siswa inklusi itu sendiri.

“Tujuan utama kami mengadakan Berlian yang pertama adalah membantu proses pendampingan tenaga pendidik di sekolah inklusi. Karena di SDN Banyu Urip II sendiri tenaga pendidiknya bisa dikatakan kurang,” tutur Candra.

Selain itu Candra menekankan bahwa diharapkan acara ini mampu meningkatkan pengetahuan, pengalaman, serta rasa kepedulian anggota UNAIR Mengajar. Sehingga ke depannya mereka mampu mengetahui cara mengajar serta keadaan lapangan para pelajar inklusi.

Resti, guru sekolah inklusi mengungkapkan bahwa pada dasarnya mengajar anak-anak inklusi memiliki treatment pengajaran yang berbeda. Sehingga kehadiran UNAIR Mengajar dapat menjadi kesempatan yang baik untuk berbagi pengetahuan tentang siswa inklusi.

“Menjadi pengajar siswa inklusi itu tidak mudah. Tidak seperti kelas biasa, kami tidak bisa memukul rata kemampuan siswa. Jadi, kita hanya mengajarkan materi sesuai tingkat kemampuan mereka. Kalau 40 siswa inklusi mau ujian, ya kita buat 40 soal berbeda-beda sesuai dengan kemampuan siswanya,” ungkap Resti.

Acara yang didampingi oleh sekitar 20 pengajar tersebut secara umum berjalan lancar. Adik-adik diajak untuk mengenali profesi dan secara ekspresif mampu menceritakan cita-cita mereka. Beberapa di antaranya ingin menjadi guru, astronot, polisi, pelukis, hingga dokter. Pada akhir acara, adik-adik diajak untuk mewarnai gambar dari cita-cita mereka. Diharapkan pembelajaran tersebut mampu mendorong gairah untuk meraih cita-cita mereka.

Melalui acara itu, diharapkan banyak pihak akan sadar, bahwa sebenarnya siswa inklusi memiliki potensi yang besar apabila dirangkul dan dibimbing dengan cara yang tepat. Kehadiran mahasiswa UNAIR Mengajar di samping itu juga diyakini mampu mendorong motivasi siswa inklusi untuk bersekolah, sehingga meningkatkan kemauan dan kemampuan mereka untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. (*)


Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu