Skabies Berkrusta pada Pengguna Obat Oral Kortikosteroid Jangka Panjang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi seorang anak yang Skabies Berkrusta. (Sumber foto: klikdokter.com terkena
Ilustrasi seorang anak yang Skabies Berkrusta. (Sumber foto: klikdokter.com terkena

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit Sarcoptes scabiei var. hominis. Infeksi skabies ini ditemukan di seluruh dunia dan dapat mengenai seluruh usia, ras, dan tingkat sosioekonomi. Pasien dengan sistem imun yang melemah seperti pada penderita HIV, limfoma, dan pasien dengan terapi imunosupresif (termasuk obat kortikosteroid) dapat menderita bentuk terberat dari penyakit skabies yaitu skabies berkrusta.

Kami melaporkan dua kasus skabies berkrusta dengan penyakit dasar yang berbeda, namun kedua pasien mengkonsumsi obat kortikosteroid dalam jangka panjang sebelum pasien terkena infeksi skabies.

Kasus #1

Pasien wanita berusia 38 tahun datang ke Unit Gawat Darurat RSUD Dr. Soetomo Surabaya dengan keluhan sisik tebal pada beberapa bagian tubuhnya sejak 7 bulan. Keluhan tersebut juga disertai dengan gatal dan bintil pada hampir seluruh tubuhnya. Keluhan awalnya berupa bintil-bintil kecil pada area sela jari tangan yang disertai gatal yang memberat pada malam hari.

Keluhan serupa juga dialami suami dan anak pasien. Pasien datang berobat ke dokter umum dan mendapat terapi metilprednisolon dengan dosis yang cukup tinggi dan pasien melanjutkan pengobatan tersebut selama 7 bulan tanpa pengawasan dokter. Berdasar riwayat perjalanan penyakit dan gejala klinis, pasien didiagnosis dengan skabies berkrusta dengan penyakit penyerta anemia, hepatitis B, dan radang sendi. Pasien diobati dengan salep permetrin 5 persen dikombinasi dengan salep sulfur serta perbaikan keadaan umum, dan memberikan hasil yang baik.

Kasus #2

Pasien wanita usia 34 tahun datang dengan keluhan sisik tebal kekuningan pada beberapa tempat di tubuhnya sejak 2 minggu. Keluhan lain juga didapatkan bintil gatal yang memberat pada malam hari hampir pada seluruh tubuhnya. Anak pasien juga memiliki keluhan yang serupa dengan pasien.

Pasien sebelumnya pernah didiagnosis dengan pemfigoid bulosa dan selama 8 bulan terakhir mendapat pengobatan metilprednisolon dengan dosis yang disesuaikan. Pasien diobati dengan salep permetrin 5 persen, salep sulfur dan antihistamin. Setelah pengobatan selama 3 minggu, hasil yang didapatkan sangat memuaskan dan pasien masih melanjutkan pengobatan untuk penyakit pemfigoid bulosa.

Diskusi

Skabies berkrusta ditandai dengan penebalan dan pengerasan kulit akibat pertumbuhan tungau yang dihasilkan dari respons inang yang berubah. Penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh Boeck dan Danielssen di antara pasien kusta di Norwegia pada 1848. Kelompok berisiko tinggi untuk infeksi ini termasuk orang yang menggunakan terapi glukokortikoid sistemik atau menggunakan terapi glukokortikoid topikal kuat, penerima organ transplantasi, orang yang memiliki cacat mental atau fisik, orang yang terinfeksi HIV, dan juga orang dengan penyakit keganasan. Hal tersebut diatas menyebabkan kondisi pertahan tubuh tidak mampu mengatasi pertumbuhan pesat dari tungau sehingga menyebabkan varian berat dari penyakit skabies itu sendiri.

Berdasar literatur pengobatan skabies berkrusta membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding skabies umumnya. Pilihan terapi yang dapat diberikan adalah lotion Lindan 1 persen yang digunakan seminggu sekali  selama 6 minggu. Salep permetrin 5 juga dilaporkan memberikan efek terapi yang baik, seperti yang dilaporkan dalam kasus seri diatas. Penggunaan obat topikal yang bersifat keratolitik (menipiskan lapisan terluar kulit) juga bermanfaat untuk mengurangi penebalan kulit, contoh obatnya adalah Sulfur presipitat. Terapi paling efektif (standar baku) untuk skabies berkrusta adalah dengan agen antiparasit yaitu Ivermectin 200ug/kg dalam dua dosis dengan interval 1 minggu, namun kekurangan obat ini adalah belum tersedia di Indonesia.

Skabies berkrusta adalah varian terberat dari penyakit infeksi skabies pada kulit. Penyakit ini muncul akibat kagagalan sistem imun inang yang melemah sehingga terjadi pertumbuhan yang tidak terkontrol dari tungau. Penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang yang dapat mengganggu fungsi dari sistem imum harus diperhatikan akan risiko terjadinya skabies berkrusta.

Penulis: dr.Sawitri,Sp.KK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  

Maharani, C., Harnanti, D., Mappamasing, H., Widyantari, S., Sawitri, S., Ervianty, E., Murtiastutik, D., Martodihardjo, S., & Listiawan, M. Y. (2019). Crusted scabies in patients with long-term use of oral corticosteroid with different underlying diseases – case series. Dermatology Reports11(1s).

https://doi.org/10.4081/dr.2019.8095

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu