Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction pada Pasien Keputihan Nonspesifik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: klikdokter.com
Sumber foto: klikdokter.com

Penyebab tersering keputihan nonspesifik yang selama ini diketahui adalah Chlamydia trachomatis yang bahkan juga sering tanpa gejala, sehingga bila tidak diobati akan mengakibatkan komplikasi serius. Pentingnya menegakkan penyebab keputihan nonspesifik menjadi pertimbangan dalam penelitian ini.

Sebagai organisme yang tidak memiliki peptidoglycan, Chlamydia trachomatis tidak dapat dilihat hanya dengan pemeriksaan laboratorium dengan pewarnaan Gram. Pemeriksaan polymerase chain reaction merupakan pilihan diagnostik unggulan untuk kasus Chlamydia trachomatis karena memiliki spesifistas dan spesifikasi tinggi. Dengan menggunakan pemeriksaan berteknologi ampifikasi asam nukleat maka akan dapat secara pasti mengetahui jumlah positif Chlamydia trachomatis pada pasien keputihan nonspesifik.

Chlamydia trachomatis dan pemeriksaan polymerase chain reaction

Masih banyaknya kejadian keputihan nonspesifik khususnya di RSUD Dr. Soetomo menjadi perhatian kami sebagai klinisi. Data yang diambil dari Unit Rawat Jalan RSUD Dr. Soetomo Surabaya dalam kurun waktu satu tahun, didapatkan kasus IGNS sebesar 47 (1,25 %) dari total 3.753 keseluruhan kasus baru kulit dan kelamin, sedangkan persentase keputihan nonspesifik sebesar 17,23% dari 273 keseluruhan kasus baru di Divisi Infeksi Menular Seksual pada tahun 2016. Chlamydia trachomatis sebagai penyebab tersering keputihan nonspesifik tidak dapat ditemukan dengan pemeriksaan laboratorium sederhana. Pemeriksaan dengan Polymerase chain reaction lebih sensitif dibandingkan kultur sel, dan telah dievaluasi secara baik dengan berbagai spesimen urogenital, urin dan dari hapusan vagina.

Organisme Chlamydia trachomatis merupakan bakteri obligat intraselular yang berkembang dan bereplikasi didalam eukariotik sel host. Organisme ini menginfeksi lebih dari 100 juta manusia setiap tahunnya di seluruh dunia melalui hubungan seksual. Infeksinya sering tanpa gejala sehingga pasien tidak menyadari adanya infeksi dan tidak mengobati. Infeksi yang tidak diobati akan berakibat adanya komplikasi seperti kehamilan ektopik dan dapat mengakibatkan kemandulan.

Terdapat beberapa pilihan metode pemeriksaan penunjang diagnostik Chlamydia trachomatis. Pada lapangan, penegakkan diagnosis keputihan nonspesifik berdasar keluhan klinis, pemeriksaan hapusan vagina, dan pemeriksaan laboratorium dengan menyingkirkan adanya infeksi jamur, bakteri diplokokus gram negatif, infeksi karena Trichomonas vaginalis dan bakterial vaginosis.

Pemeriksaan polymerase chain reaction tidak rutin dilakukan karena biaya yang tinggi dan membutuhkan keahlian khusus. Kami sebagai klinisi ingin mengetahui secara pasti jumlah nilai positif pemeriksaan Chlamydia trachomatis pada pasien keputihan nonspesifik. Pertimbangan pemilihan polymerase chain reaction adalah karena metode ini memiliki banyak kelebihan dalam mendeteksi Chlamydia trachomatis.

Pemeriksaan berdasar teknologi amplifikasi asam nukleat merupakan media diagnostik yang paling maju karena tingginya sensitifitas dalam kemampuan mendeteksi, bahkan sekecil satu gen kopi dan memiliki spesifisitas yang tinggi pula. Teknologi ini khususnya polymerase chain reaction secara langsung mendeteksi adanya organisme dengan cara mengidentifikasi DNA spesifik pada organisme yang menjadikan metode ini memiliki spesifisitas tinggi. Pemeriksaan ini tidak memerlukan sampel yang invasif, hal ini merupakan keuntungan yang penting untuk menskrining infeksi di mana sebagian besar infeksi Chlamydia trchomatis pada wanita adalah tanpa gejala. Keuntungan lainnya adalah metode ini termasuk cepat, hanya membutuhkan proses selama 5 hingga 6 jam untuk mengetahui hasil.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan studi cross sectional. Didapatkan 18 pasien Infeksi genital nonspesifik telah memenuhi kriteria penerimaan sampel dan menyetujui untuk mengikuti penelitian pemeriksaan PCR Chlamydia trachomatis yang dilaksanakan pada Juni 2017 hingga Agustus 2017 di URJ divisi IMS RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chlamydia trachomatis didapatkan pada 3 (16,67%) dari 18 pasien keputihan nonspesifik dengan pemeriksaan PCR Chlamydia trachomatis menggunakan sampel hapusan endoserviks. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah pemeriksaan PCR dari hapusan endoserviks untuk mengetahui apakah Chlamydia trachomatis merupakan penyebab terbanyak kasus keputihan nonspesifik, dan didapatkan hasil: sebagian besar (83,3%) pasien keputihan nonspesifik tidak ditemukan kuman Chlamydia trachomatis dan hanya 16,67% terdeteksi Chlamydia trachomatis. Rendahnya angka kejadian Chlamydia trachomatis pada penelitian ini bisa disebabkan karena populasi penelitian adalah risiko rendah.

Penulis: dr Dwi Murtiastutik,Sp.KK(K)

Artikel ilmiah ini bisa dilihat di

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8055

Dermatology Reports 2019; 11(s1):8055

Polymerase chain reaction chlamydia trachomatis examination in nonspecific genital infection patients

Dian Pertiwi Habibie, Dwi Murtiastutik,

Rahmadewi

doi:10.4081/dr.2019.8055

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu