Inovasi Implan Tulang dari Koral dan Ceker Ayam

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi koral. (Sumber: caripasir)

Defek tulang merupakan penyakit yang terkait dengan kecacatan fungsional yang berdampak serius pada kualitas hidup pasien. Hal ini dapat disebabkan karena trauma, tumor, atau penyakit tulang lainnya. Menurut Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS) mencatat jumlah kasus kecelakaan di Indonesia pada tahun 2016 yaitu sebesar 6.180 kasus kecelakaan dengan korban meninggal yaitu sebanyak 678 (10,9 persen), mengalami luka berat sebanyak 2.250 (36,4 persen), dan mengalami luka ringan sebanyak 4.487. Dari kejadian kecelakaan yang terjadi terdapat korban cedera dan fraktur tulang.

Menurut Depkes RI tahun 2011, fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan memiliki prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2 persen. Dalam penanganan kondisi tersebut diperlukan biomaterial sebagai pengganti tulang (bone graft). Kebutuhan biomaterial sebagai pengganti tulang akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kasus kerusakan tulang akibat trauma, tumor, kelainan kongenital, infeksi, dan resorbsi tulang akibat komplikasi pemasangan protesa sendi.

Indonesia memiliki potensi sumber alam untuk biomaterial yang melimpah. Hal ini merupakan peluang dan tantangan pengembangan bagi para peneliti di perguruan tinggi Indonesia. Dengan 255 juta penduduknya, 900 miliar dolar GDP dengan 5 persen pertumbuhan tahunan, dan angka harapan hidup 72 tahun, Indonesia merupakan negara berkembang (emerging country) dengan potensi ekonomi yang dahsyat. Pemerintah telah meluncurkan program pelayanan kesehatan menyeluruh, yang dalam satu sisi merangsang pengembangan biomaterial, dengan target kemandirian nasional dalam memproduksi bahan implan dan alat kesehatan.

Laboratorium Fisika Material UNAIR telah mengembangkan implant tulang dari koral. Batuan koral yang mengandung lebih 95 persen kalsium karbonat dapat diubah menjadi kalsium hidroksida dan selanjutnya dapat diubah lagi menjadi hidroksiapatit (HA). Bahan ini merupakan 70 persen penyusun tulang selain kolagen dan protein. Oleh sebab itu untuk membuat implan tulang yang baik minimal harus terdiri dari dua bahan tersebut, yaitu HA dan Kolagen.

Kolagen dalam pengembangan ini diekstrak dari cakar ayam dan menunjukkan gugus kimia yang sama dengan kolagen asli. Komposit HA-Kolagen ini dibentuk melalui metode freeze drying agar terbentuk pori-pori dengan ukuran tertentu yang dapat menjadi media  terbentuknya sel tulang baru. Selain itu komposit ini terbukti bersifat biokompatibel yang ditunjukkan melalui uji toksisitas MTT (Microtetrazolium).

Bahkan dengan uji tersebut viabilitas sel bisa melebihi 100 persen. Nilai persentase sel hidup yang di atas 100 persen juga menunjukkan adanya proliferasi sel pada proses MTT. Terjadinya proliferasi sel pada kolagen dan hidroksiapatit diduga disebabkan karena kedua bahan tersebut memiliki faktor osteoinduktif yaitu Bone Morhogenetic Protein (BMP).

Selain itu, diperkuat oleh sifat fisis dan mekanik yang memiliki nilai hampir sama dengan tulang asli. Untuk lebih jelas dan detailnya dapat dibaca pada artikel “Hydroxyapatite-Collagen Composite Made from Coral and Chicken Claws for Bone Implant Application”. (*)

Penulis: Siswanto

Informasi detil dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:https://www.scientific.net/MSF.966

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu