Pentingnya Melihat Hubungan Keluarga dan Penderita Gangguan Jiwa Berat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello sehat

Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia (gangguan jiwa berat) seringkali menghadapi berbagai permasalahan terkait dengan finansial, emosional, fisik dan sosial yang dapat menjadi beban keluarga. Orang dengan gangguan jiwa berat seringkali tidak mampu merawat dirinya sendiri sehingga perlu bantuan dari anggota keluarga lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari orang dengan gangguan jiwa dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja hal ini dapat berdampak negatif pada keluarga yang mana dapat meningkatkan stres dan beban yang dirasakan oleh anggota keluarga lainnya yang tinggal serumah. keluarga terkadang cemas tentang bagaimana cara merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berat yang mana akan berdampak pada fungsi dan kesehatan keluarga sendiri.

Fungsi keluarga yang terganggu dapat memicu kegagalan dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa yang pada akhirnya dapat menyebabkan kekambuhan pada orang dengan gangguan jiwa. Keluarga dengan pengetahuan terbatas akan berpengaruh terhadap beban yang dirasakan selama proses perawatan orang dengan gangguan jiwa.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status pekerjaan berdampak pada kualitas hidup keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Penelitian terkait hubungan antara beban dan kualitas hidup keluarga ini perlu diidentifikasi mengingat terdapat perubahan sistem kesehatan di Indonesia pada tahun 2014, dinamika keluarga dan persepsi masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa berat. Hal ini penting dilakukan karena kualitas hidup keluarga dapat mempengaruhi proses perawatan pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa serta pada kesehatan keluarga sendiri baik fisik maupun psikologis. Keluarga yang merawat orang dengan gangguan jiwa dalam penelitian ini merupakan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan orang dengan gangguan jiwa minimal 1 tahun dan terlibat dalam proses perawatan serta diskusi terkait kehidupan dan pengobatan dan perawatan.

Temuan yang didapat bahwa jenis kelamin, status perkawinan dan lama merawat berhubungan dengan beban merawat. Keluarga yang berjenis kelamin laki-laki memiliki beban perawatan yang lebih rendah dibanding keluarga yang berjenis kelamin perempuan. Beban yang dirasakan keluarga dalam rentang rendah hingga sedang karena di Indonesia memilki budaya dimana keluarga merupakan unit terkecil yang memiliki peran dalam memberikan perawatan kesehatan pada anggota keluarga lain yang sedang mengalami sakit baik fisik maupun jiwa. Sebagian besar keluarga melaporkan adanya beban finansial meskipun sudah menggunakan asuransi kesehatan nasional (BPJS). Beban finansial tidak hanya terkait biaya perawatan orang dengan gangguan jiwa di Puskesmas maupun Rumah Sakit namun lebih kepada biaya transport selama proses pengobatan. Selain itu beban emosional adalah beban yang dilaporkan paling banyak dirasakan oleh keluarga. Lama merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa yang berkisar antara 5-10 tahun dapat meningkatkan rasa jenuh pada keluarga.

Sebagian besar keluarga memiliki kualitas hidup yang baik terutama pada keluarga yang berjenis kelamin laki-laki, memiliki pekerjaan, menikah dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan finansial keluarga nampaknya berkaitan dengan kualitas hidup keluarga yang baik. Tingkat pendidikan yang tinggi juga berdampak pada kualitas hidup yang baik karena keluarga dapat memahami tentang penyakit ganggun jiwa, bagaimana cara merawat orang dengan gangguan jiwa dengan benar serta memahami bagaimana cara mencegah kekambuhan. Aspek kualitas hidup keluarga yang rendah khususnya pada aspek psikologis dan kesejahteraan fisik, hubungan sosial dengan teman serta beban material. Persepsi negatif dari masyarakat pada keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa masih menjadi masalah bagi keluarga untuk dapat membangun hubungan yang positif dengan orang lain.

Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa semakin tinggi beban keluarga yang merawat orang dengan gangguan jiwa maka semakin rendah kualitas hidup yang dimiliki keluarga. Sehingga menjadi sangat penting bagi petugas kesehatan untuk memberikan dukungan dan konseling bukan hanya pada orang dengan gangguan jiwa saja namun juga pada keluarga yang merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

Penulis : Rr Dian Tristiana, Bayu Triantoro, Hanik Endang Nihayati, Ah Yusuf, Khatijah Lim Abdullah

Detail tulisan ini dapat dilihat di :

https://link.springer.com/article/10.1007/s40737-019-00144-w

Rr Dian Tristiana, Bayu Triantoro, Hanik Endang Nihayati, Ah Yusuf, Khatijah Lim Abdullah. 2019. Relationship Between Caregivers’ Burden of Schizophrenia Patient with Their Quality of Life in Indonesia. Journal of Psychosocial Rehabilitation and Mental Health

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu