Akumulasi Merkuri dan Dampaknya pada Sel-Sel Respirasi Insang Ikan Tilapia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: bulelengkab.go.id
Sumber foto: bulelengkab.go.id

Merkuri terdapat dalam tubuh organisme sebagai merkuri anorganik (umumnya Hg2+), merkuri logam (unsur, HgO), dan merkuri organik (umumnya metilmerkuri; MeHg). Merkuri logam biasanya berasal dari amalgam gigi dan paparan industri. Sumber merkuri logam lain yang mungkin adalah fluorescent light bulbs.

Selain itu, emisi Hg telah meningkat setiap tahun karena industrialisasi yang cepat. Akumulasi logam berat pada ikan bergantung pada banyak faktor, termasuk beberapa interaksi kimia, ketersediaan hayati dan sumber pencemar,  jenis kelamin, ukuran, spesies, nutrisi, konsentrasi mereka dalam air, waktu pemaparan dengan logam berat, dan faktor lingkungan lainnya seperti salinitas, pH, dan suhu air. Beberapa peneliti memilih ikan sebagai model eksperimental untuk menilai efek merkuri dalam organisme untuk mempelajari akumulasi merkuri pada ikan air tawar.

Dalam penelitian ini, ikan tilapia (nila) Oreochromis niloticus strain Jawa Timur dipilih sebagai model spesies ikan bukan hanya karena keberadaan Hg dari kegiatan penambangan emas di Jawa Timur dan daerah Indonesia lainnya, tetapi juga karena merupakan salah satu ikan air tawar yang paling banyak dikonsumsi di Jawa dan Indonesia. Ikan nila telah digunakan dalam studi ekotoksikologi oleh Handayani et al., (2017); Nursanti et al., (2017); Soegianto et al., (2017).

Kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan berbagai suhu dan kondisi esturin menjadikan nila spesies yang menarik untuk mengukur perubahan aktivitas Na+/ K+-ATPase (NKA)  dan H-ATPase ketika salinitas dan suhu berubah. Secara umum disepakati bahwa transpor natrium dari cairan intraseluler sel epitel insang ke dalam cairan interstitial dan kemudian darah digerakkan oleh transporter NKA pada membran basolateral. Insang ikan dikenal sebagai situs efektor utama untuk pertukaran aktif dan pasif terjadi antara organisme dan lingkungannya (Gilles dan Delpire 1997); karena itu, ia kemungkinan merupakan tempat keluar masuknya logam. Karena itu, penelitian ini secara eksperimental mengeksplorasi akumulasi Hg dan dampaknya terhadap insang nila dengan mengamati ekspresi NKA dan kerusakan insang selama waktu paparan 96 jam.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan efek paparan akumulasi merkuri (Hg) dan dampaknya terhadap sel klorida (CC) insang nila strain Jawa Timur (Oreochromis niloticus). Spesimen ikan dipapar dengan konsentrasi Hg 0 mg/L, 0,1 mg/L, dan 1 mg/L. Setelah 96 jam paparan, akumulasi Hg dalam insang ikan diukur, struktur insang dan immunohistochemistry NKA diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya. Konsentrasi merkuri dalam insang ikan yang terpapar merkuri secara signifikan lebih tinggi pada media 1 mg/L dibandingkan 0,1 mg / L dan kelompok kontrol. Ekspresi NKA positif dalam CC diamati di sepanjang lamella primer dan sekunder insang nila. Pengamatan mikroskopis menunjukkan kerusakan insang paling signifikan dalam konsentrasi Hg yang lebih tinggi.

Penulis: KIKI SYAPUTRI HANDAYANI, BAMBANG IRAWAN DAN AGOES SOEGIANTO *

*Dapat Menghubungi: agoes_soegianto@unair.ac.id

Informasi detail tentang dampak merkuri terhadap organ respirasi ikan nila dapat dibaca pada paper berjudul: ACCUMULATION OF MERCURY AND ITS IMPACT ON THE CHLORIDE CELL OF GILLS OF TILAPIA (OREOCHROMIS NILOTICUS LINNAEUS, 1758)

Website: http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9719&iid=277&jid=4

Dan:

https://www.researchgate.net/publication/335976456_ACCUMULATION_OF_MERCURY_AND_ITS_IMPACT_ON_THE_CHLORIDE_CELL_OF_GILLS_OF_TILAPIA_OREOCHROMIS_NILOTICUS_LINNAEUS_1758

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu