Terapi Resesi Gingiva dengan Scaffold Berbasis Kolagen-Kitosan-Gliserol

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi: klikdokter

Resesi gingiva/turunnya gusi merupakan keadaan membukanya akar gigi karena perpindahan dari batas gusi atau hilangnya tulang alveolar. Berdasarkan data survey di Amerika Serikat, terdapat 88 persen pasien usia lanjut (diatas 65 tahun) dan 50 persen pasien usia dewasa (18-64 tahun) mengalami resesi gingiva. Banyak orang menganggap resesi gingiva termasuk permasalahan yang menyangkut estetika. Padahal turunnya gusi juga dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut seperti infeksi dan rasa nyri pada bagian akar gigi yang tidak tertutup gusi ketika kontak dengan makanan atau minuman yang terlalu panas dan terlalu dingin.

Tidak adanya perlindungan pada akar gigi dan rangsangan terus menerus pafa akar gigi yang tidak tertutup gusi akan berpengaruh pada vitalitas gigi pada akhirnya. Penanganan yang dilakukan terhadap resesi gingiva adalah melalui prosedur operasi dan harus didukung perawatan kebersihan mulut sehingga permukaan gigi yang terbuka dapat menutup kembali.

Material berbahan dasar alami maupun sintetis banyak dikembangkan sebagai alternatif penanganan resesi gingiva. Material tersebut berbentuk sebagai wadah tiga dimensi agar jaringan baru dapat tumbuh diatasnya, atau yang lebih dikenal sebagai scaffold. Scaffold berbahan dasar kolagen kitosan yang telah diketahui bioaktif sehingga dapat memicu pertumbuhan jaringan baru.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan scaffold untuk resesi gusi adalah kolagen, kitosan dan gliserol. Kolagen merupakan polimer alami dan susunan utama dari matriks ekstraselular yang menyusun tulang, tendon, ligamen, dan tulang rawan pada mamalia. Sementara kitosan merupakan kopolimer 2-glucosamine dan N-acetyl-2 glucosamine yang bersifat biokompatibel, dapat terdegradasi, dan dapat diserap tubuh.

Penambahan kitosan pada kolagen pada meningkatkan sifat mekanik dari scaffold. Sifat mekanik berupa ketahanan terhadap tekanan diperlukan dimiliki biomaterial scaffold resesi gingiva untuk menahan tekanan yang mungkin timbul saat pengunyahan makanan. Sifat kelenturan  dari scaffold ditunjang dengan penambahan pemlastik (plasticizer) seperti gliserol.

Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui karakteristik campuran kolagen-kitosan-gliserol melalui uji morfologi, uji sitotoksisitas, uji daya serap air dan uji degradasi. Pembuatan scaffold diawali dengan melarutkan kolagen dan kitosan dalam pelarut asam asetat dan asam sitrat. Selanjutnya dibuat beberapa variasi kolagen : kitosan dengan penambahan 2 ml gliserol. Larutan kemudian dipindahkan ke cawan petri untuk proses freeze drying (pengeringan beku) hingga menjadi scaffold.

Pada penelitian ini dengan instrumen Scanning Electron Microscopy (SEM) perbesaran 300x, ukuran pori dari scaffold berkisar pada rentang 66,29 – 191,7 µm. Dimana menurut O’Brien, ukuran pori untuk kasus periodontal berkisar 63 – 150 µm. Ukuran pori yang diperoleh dari penelitian ini telah sesuai dengan ukuran pori yang dibutuhkan untuk perpindahan nutrisi sel, proliferasi sel serta migrasi pembuluh darah untuk pembentukan jaringan baru. Ketebalan yang dihasilkan oleh scaffold berkisar 0,51 – 0,65 nm  juga telah sesuai dengan ketebalan standar scaffold gingiva yaitu 0 – 2 mm.

Uji sitotoksisitas dibutuhkan untuk memastikan material tidak beracun bagi tubuh. Uji ini menggunakan sel fibroblast Baby Hamster Kidney-21 (BHK-21). Semua sampel pada penelitian ini masih dibawah nilai standar. Dimana ketika persentase sel hidup diatas 50%, maka dikategorikan tidak toksik. Sampel penelitian ini hanya menghasilkan 4,5 – 6,66% sel hidup. Hasil ini dapat disebabkan karena penggunaan pelarut asam asetat yang mengakibatkan pH sampel menjadi rendah. pH yang masih rendah ini dapat menyebabkan protein terdenaturasi sehingga diperlukan pengaturan konsentrasi pelarut yang digunakan agar bersifat ramah terhadap sel.

Hasil uji sitotoksisitas ini belum pasti berarti bahwa bahan tersebut bersifat toksik. Perlu dilakukan uji sitotoksisitas ulang dengan mengatur konsentrasi pelarut asam kuat dan memastikan proses pencucian telah bersih dan tidak terikut kandungan asam yang dapat mematikan sel.

Interaksi scaffold dengan lingkungan yang umumnya air ditunjukkan dengan uji daya serap air. Uji ini menggunakan larutan Phosphate Buffer Saline (PBS) sebagai medium yang menggambarkan cairan tubuh manusia. Sampel dapat menyerap cairan PBS hingga menit ke 7, ketika sudah menit ke 8-10 terjadi fase saturasi dan sampel telah rusak sehingga tidak bisa menyerap cairan PBS. Sehingga menit ke-7 dikatakan sebagai titik ekuilibrium/ kesetimbangan penyerapan cairan PBS kedalam scaffold.

Sementara hasil uji degradasi menunjukkan sampel terdegradasi sepenuhnya pada hari ke 14. Hasil ini telah sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa proses penyembuhan gingiva membutuhkan waktu 7 hingga 14 hari. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan uji morfologi, uji daya serap air, uji degradasi, scaffold berbasis kolagen – kitosan – gliserol berpotensi menjadi alternatif penanganan untuk kasus resesi gingiva. (*)

Penulis: Prihartini Widiyanti

Informasi yang lebih mendetail dari tulisan ini dapat dilihat di: https://www.researchgate.net/publication/334630620_Collagen-Chitosan-_Glycerol-HPMC_Composite_as_Cornea_Artificial_Candidate s

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu