Kadar Kimia di Karang Timur-Jawa Lebih Tinggi daripada Kawasan Industri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: Istimewa
Sumber foto: Istimewa

Kerangka karang dalam bentuk aragonite dapat menyimpan informasi tentang kondisi lingkungan masa lalu melalui tingkat pertumbuhan tahunan. Rasio Sr/Ca atau Mg/Ca dan berbagai jenis logam berat (trace metal) yang terperangkap dan terpatri menjadi pita pertumbuhan tahunan aragonit mereka. Ahli Paleontologi menggunakan rasio Sr/Ca dalam kerangka karang untuk melihat kondisi suhu permukaan laut di masa lalu dan juga dapat digunakan sebagai model untuk perubahan iklim di masa depan (Guilderson et al., 1994).

Pantai Kondang Merak yang terletak di Selatan Pulau Jawa dan menghadap Samudera Hindia, mempuyai fisik-kimia-oseanografi yang sangat dipengaruhi oleh Samudera Hindia secara langsung. Efek monsun sangat terlihat dalam dinamika atmosfer dan perairan di wilayah ini, monsun tenggara, angin dari Australia memicu upwelling di sepanjang pantai Jawa ke Sumatra dan terjadi di monsun barat laut. Peristiwa ini sangat penting karena mempengaruhi musim penangkapan ikan dimana spesies ikan pelagis yang berbeda akan muncul setiap musim.

Selama periode transisi (Maret-April atau September-Oktober) di mana perubahan dalam gerakan angin dari utara ke selatan dan sebaliknya dikombinasikan dengan pengaruh kekuatan Coriolis, itu akan menciptakan Kelvin yang berada di sepanjang Sumatra dan Jawa, dan akan membangkitkan unsur hara dari bagian bawah air ke permukaan (Susanto et al., 2001; Webster et al., 1999). Kadmium (Cd) adalah logam dengan nomor atom 48, secara alami berasal dari letusan gunung berapi yang kemudian terbang di atmosfer dan terakumulasi di dasar air (Hutton, 1983).

Di alam, Cd akan berikatan dengan seng, timah, dan tembaga untuk membentuk sulfida. Setelah terbang di atmosfer, Cd akan tenggelam ke laut dan diserap oleh biota seperti plankton, benthos dan biota lain, kemudian biota itu akan mati dan tenggelam bersama Cd yang terkandung didalamnya ke dasar laut.  Ketika upwelling terjadi, massa air dingin dari air laut bawah akan naik ke atas bersama dengan semua nutrisi dan logam berat lainnya termasuk Cd, Cu dan lainnya, kemudian diserap oleh biota oligotropik seperti karang melalui mekanisme biologis (Delaney et al., 1993 ; Matthews et al., 2008). Cd banyak digunakan sebagai lapisan anti karat pada baja konstruksi (pelapisan baja), sebagai pewarna atau pigmen dalam plastik dan kaca, seperti baterai yang dapat diisi ulang, bahan baku pupuk fosfat dan sebagai penstabil dalam sistem mesin di pabrik (Shen et al., 1988; Hutton, 1983).

Peristiwa ESO (El-Nino) di Samudera Hindia juga disebut Indian Ocean Dipol di mana ada anomali suhu di bagian barat permukaan laut yang lebih hangat dan timur memiliki suhu yang lebih dingin. Peristiwa ini sangat erat kaitannya dengan pembentukan upwelling di perairan Samudra Hindia (Susanto et al., 2001). Porites lutea adalah karang masif yang memiliki pertumbuhan sangat lambat sehingga jenis karang ini banyak digunakan untuk melihat variabilitas kondisi lingkungan dari masa lalu. Pertumbuhan karang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti suhu, salinitas dan adanya logam pencemar (Scoffin et al., 1992). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat variabilitas logam berat Cd dalam karang P. lutea sebagai gambaran terhadap kondisi perairan Pantai Kondang Merak dari masa lalu hingga saat ini.

Cd dikuantifikasi dari dua koloni P. lutea yaitu KM1 dan KM2 menggunakan ICP-OES (Seri iCAP 7400). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Cd dalam KM1 adalah antara 1,442 – 2,912 mg/kg dan pada KM2 0,961 – 3,448 mg/kg dengan rata-rata konsentrasi logam Cd adalah 2,158 mg/kg. Kehadiran logam berat Cd pada karang di perairan Kondak Merak jauh dari kawasan industri adalah peristiwa yang menarik. Sumber utama Cd yang terperangkap dalam kerangka karang mungkin berasal dari peristiwa upwelling di mana air dengan periode dingin naik ke permukaan dan menyangkut koloni karang keras di Pantai Kondang Merak yang selanjutnya terperangkap dalam karang keras aragonit. (*)

Untuk mengetahui lebih detail informasi tentang “Kadar Kadmium dalam Karang  Porites Lutea  Kondang Merak, Timur-Jawa, Indonesia” dapat dibaca pada artikel berjudul: “Study Of Concentrations Of Heavy Metals Cadmium Trapped In Porites Lutea Skeleton In Kondang Merak, East-Java, Indonesia”

Ditulis: Oktiyas Muzaky Luthfi, Sigit Rijatmoko, Andik Isdianto, Muhammad Arif Asadi, Daduk Setyohadi, Alfan Jauhari, Ali Arman Lubis And Agoes Soegianto.

Website: http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9714&iid=277&jid=4

Dan: https://www.researchgate.net/publication/335991716_STUDY_OF_CONCENTRATIONS_OF_HEAVY_METALS_CADMIUM_TRAPPED_IN_PORITES_LUTEA_SKELETON_IN_KONDANG_MERAK_EAST-JAVA_INDONESIA

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu