Perlu Desain Ulang Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Tahu Kota Probolinggo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: Istimewa
Sumber foto: Istimewa

Kapasitas produksi industri tahu di Kota Probolinggo sangatlah tinggi. Jumlahnya mencapai 600-700 kg per hari. Produksi ini menghasilkan banyak sekali air limbah, dan pengolahan air limbah yang baik sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit yang terbawa oleh air.

Sayang, karena kurangnya kesadaran akan lingkungan dan biaya pengelolaan yang tinggi, beberapa pabrik membuang air limbah yang belum diolah langsung ke sungai. Hal ini mengakibatkan turunnya kualitar air sungai.

Walaupun pabrik-pabrik lainnya memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hasil air limbah olahannya masih belum memenuhi standar. Berdasar Peraturan Gubernur No. 72/2013 tentang standar kualitas air limbah untuk industri dan/atau kegiatan usaha, konsentrasi maksimum BOD, COD, TSS, pH, dan volume air limbah adalah masing-masing 150 mg/L, 300 mg/L, 100 mg/L, 6-9, dan 20 m3 per ton kacang kedelai. Sementara itu, hasil pengamatan Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo tahun 2015 menunjukkan konsentrasi BOD sebesar 764,5 mg/L, COD sebesar 1.483,9 mg/L, dan TSS sebesar 635,1 mg/L.

Rendahnya kualitas air limbah yang telah diolah IPAL disebabkan oleh pemeliharaan yang buruk, sehingga kinerja unit IPAL pun buruk. Maka dari itu, IPAL perlu dievaluasi dan didesain ulang agar kinerjanya meningkat.

Proses evaluasi dan desain ulang IPAL mencakup empat tahap. Pertama, pengukuran volume pembuangan air limbah dan identifikasi karakteristik air limbah berdasarkan analisis laboratorium. Kedua, evaluasi IPAL, termasuk operasi dan pemeliharaannya. Ketiga, menentukan pengolahan air limbah alternatif dan kriteria desain ulang. Terakhir, Proyek Perencanaan Fisik yang terdiri dari desain rawa buatan dengan biofilter anaerobik.

Ada tiga parameter yang dievaluasi, yaitu kuantitas dan kualitas air limbah, desain unit IPAL, serta operasi dan pemeliharaan.

Berdasar hasil kalkulasi, rata-rata pembuangan air limbah tahu adalah 11,52 m3/hari dan volume air limbah adalah 15,89 m3/ton kacang kedelai yang digunakan sebagai bahan baku. Ini berarti kuantitas air limbah telah memenuhi standar. Namun, standar kualitas air limbah dengan parameter BOD, COD, TSS, dan pH belum terpenuhi. Air limbah hanya memenuhi 25 persen dari standar yang ditentukan. Maka, desain ulang perlu dilakukan.

Lalu, evaluasi desain unit IPAL meliputi temperatur, pH, Hydraulic Loading Rate (HRT), dan Organic Loading Rate (ORT). Dari keempat aspek ini, semuanya telah memenuhi kriteria desain kecuali temperatur. Penyesuaian temperatur perlu dilakukan sebelum air limbah memasuki anaerobic digester atau alat yang memproses degradasi material organik dengan bakteri anaerobic. Selain itu, komponen dalam anaerobic digester telah memenuhi kriteria desain.

Parameter evaluasi ketiga adalah operasi dan pemeliharaan. Kedua hal ini penting untuk menjaga kinerja optimal IPAL dan mencegah kerusakan IPAL. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar proses operasional dan pemeliharaan belum memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditentukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Ini disebabkan karena tidak ada operator yang bertanggung jawab untuk mengoperasikan dan memelihara unit IPAL.

Berdasar penelitian, jenis pengolahan air limbah yang cocok untuk industri tahu di Kota Probolinggo adalah pengolahan biologis. Maka, unit IPAL alternatif yang digunakan adalah Anaerobic Biofilter (ABF) dan rawa buatan.

Sebagian pabrik tahu telah memiliki ABF, namun masih ada dua dari lima standar parameter kualitas air limbah yang belum dipenuhi oleh ABF yang ada. Pipa keluar ABF masih memiliki total nitrogen dan fosfat yang melebihi batas maksimum yang telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Polusi Air. Hal ini penting untuk menjaga ekosistem air, terutama agar pertumbuhan ganggang tidak di luar kendali.

Pengolahan air limbah dengan rawa buatan dipilih untuk mengatasi kekurangan ABF. Rawa buatan adalah sistem rekayasa untuk mengolah air tercemar dengan pemanfaatan proses alamiah. Sistem ini menciptakan suatu ekosistem berisi tumbuhan, tanah, dan mikroba yang saling berhubungan untuk mengolah air limbah. Untuk industri tofu ini, media yang digunakan adalah batu kasar dan kerikil, sedangkan tumbuhan yang digunakan adalah Canna indica.

Penulis: Nurina Fitriani

Informasi yang lebih mendetail dari tulisan ini dapat dilihat:

http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9339&iid=268&jid=4

References

Putri, A. D., Oktavitri, N. I., Isnadina, D. R., Fitriani, N., Ariani, D. M., & Hidayat, T. (2019). Redesign of wastewater treatment plan for tofu industry in Probolinggo City, Indonesia. Pollution Research, S78-S82.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu