Karakteristik Neuroangiografi Arteri Serebri Media Otak : Evaluasi dari 554 Pemeriksaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Youtube

Arteri serebri media (MCA) adalah arteri otak yang paling besar, kompleks dan berperan sangat vital dalam sistem peredaran darah otak. MCA mencakup sebagian besar belahan otak di kanan dan kiri. Oleh karena itu, rentan terjadinya gangguan jika terjadi kelainan pada pembuluh darah ini. Beberapa gejala yang bisa terjadi diantaranya kelumpuhan, gangguan bicara, sampai penurunan kesadaran. Pola anatomis percabangan pada MCA cenderung bervariasi, kompleks, dan sangat menentukan bila kita merencanakan terapi pada kasus-kasus kelainan yang terjadi. Saat ini, banyak terapi intervensi secara bedah maupun endovaskular pada MCA, dan perlu strategi untuk menghindari kerusakan pada cabang-cabangnya selama operasi dilakukan di area tersebut. Berbagai teknik bedah mikro diantaranya rekonstruksi dan bypass MCA, prosedur kliping dan endovaskular koiling untuk aneurisma MCA serta reseksi arteriovenous malformations (AVMs) terkait dengan cabang MCA sudah rutin dilakukan dan banyak laporan juga terkait komplikasi yang terjadi.

Wilayah vaskularisasi MCA mencakup beberapa area kortikal yang dominan untuk fungsi motorik dan sensorik, juga fungsi bahasa yang reseptif dan ekspresif, pemikiran abstrak dan berbagai kemampuan fungsi kognitif lain yang lebih tinggi. Selain itu, cabang perforasi MCA proksimal menyuplai basal ganglia dan saluran descending, serta kortikospinalis yang penting. Variasi anatomi MCA harus dikenali terlebih dahulu ketika akan merencanakan intervensi. Guna menghindari kerusakan ataupun penyumbatan dari perforasi pembuluh darah yang timbul dari MCA, serta untuk menilai kontribusi mereka terhadap perfusi wilayah MCA yang dalam.

Deskripsi tentang pola angioarsitektur dan berbagai variasi anatomi dari cabang-cabang MCA masih minim dijelaskan dalam literatur. Sementara itu, jenis bifurkasi dan trifurkasi dari percabangan MCA biasanya lebih sering dilaporkan, tetapi sebagian besar penelitian gagal menyebutkan subtipe yang lebih detail. Selain itu, masih ada beberapa kerancuan tentang kriteria yang digunakan untuk menentukan subtipe percabangan yang berbeda. Guna memberikan satu sumbangsih di bidang ini, satu penelitian telah dilakukan oleh Al Fauzi dan kawan-kawan (2019) dari Univeritas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Neurociences tersebut telah mengidentifikasi data berupa 554 hasil angiografi otak dari 300 pasien yang memiliki pola angiografi MCA tertentu. Yaitu menggunakan perangkat lunak pembaca Digital Imaging and Communications in Medicine (DICOM) (HorosTM). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan fitur penghitungan spesifik yang terdapat pada perangkat lunak tersebut) dan dianalisis dengan perangkat lunak IBM SPSS menggunakan statistik deskriptif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diameter rata-rata MCA (M1) adalah 2,39  0,49 mm. Hasil ini mirip dengan temuan yang dilaporkan oleh Lasjaunias dan kawan-kawan, yang menyatakan bahwa diameter MCA berkisar antara 2,4 mm hingga 4,6 mm. Dalam penelitian ini, panjang MCA (M1) adalah 15,56  7,75 mm. Hasil ini juga mirip dengan temuan yang dilaporkan oleh Harrigan dan kawan-kawan, yang menyatakan bahwa rata-rata segmen M1 adalah 16 mm. Grellier dan kawan-kawan melaporkan bahwa cabang utama bisa pendek (3-12 mm), sedang (13–22 mm) atau panjang (23–40 mm). Persentase yang terkait dengan klasifikasi ini belum pernah dipublikasikan dalam literatur manapun. Dalam penelitian ini, MCA pendek, MCA menengah dan MCA panjang terlihat masing-masing pada persentase 40,6%, 39,7% dan 19,7%.

Mengacu pada 11 pola MCA berbeda yang telah diklasifikasikan oleh Cilliers dan kawan-kawan, dalam penelitian ini, bifurkasi medial (46%) adalah pola percabangan yang paling sering ditemukan, diikuti oleh trifurkasi proksimal (12,5%), bifurkasi lateral (12,1%), trifurkasi distal (10,5%), true trifurkasi (9,4%), pseudotrifurkasi (4,9%), pseudobifurkasi medial (2,5%), pseudobifurkasi lateral (0,7%), kemudian tetrafurkasi (0,7%). Tidak ada monofurkasi yang ditemukan dalam penelitian ini. Sepengetahuan penulis, tidak ada penelitian sebelumnya yang telah melaporkan persentase pola MCA berdasarkan 11 pola yang berbeda ini.

Jika kita mengklasifikasikan ulang pola-pola ini menjadi monofurkasi, bifurkasi, trifurkasi, dan tetrafurkasi, persentase untuk pola-pola ini masing-masing adalah 0%, 61,3%, 37,3%, dan 1,4%. Pada akhirnya, variasi anatomi dari MCA penting untuk diketahui terlebih dahulu ketika akan merencanakan intervensi bedah dan endovaskular, karena dengan mempelajari pola neuroangiografi MCA, maka  dapat membantu para ahli bedah untuk merencanakan strategi pengobatan yang optimal.

Penulis : Dr. dr. Asra Al Fauzi, SE, MM, Sp.BS(K), FICS, IFAANS

Detail tulisan tentang riset ini dapat dilihat di :

https://www.jocn-journal.com/article/S0967-5868(19)30262-0/abstract

Asra Al Fauzi, Yunus Kuntawi Aji, Nur Setiawan Suroto. 2019. Neuroangiography patterns of the middle cerebral artery: Study of 554 cerebral angiography results. Journal of Clinic Neuroscience, Volume 68, Pages 62–68

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu