Kajian Taksonomi Molekuler Spesimen Kelelawar dari Goa Pucakwangi Lamongan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Berita terbaru indonesia

Goa Pucakwangi biasa disebut warga sekitar sebagai ‘Goa lowo’ atau goa kelelawar yang berada tepat di kaki bukit Pucakwang. Goa ini memiliki kedalaman sekitar 60 meter dan luas hampir 20 meter. Terdapat keunikan di dalam goa yang hampir 90 persen rongganya tidak tertembus oleh sinar matahari yaitu kotoran kelelawar yang sangat banyak dan melimpah. Pupuk guano merupakan pupuk organik yang diperoleh dari kotoran kelelawar yang mengandung unsur hara makro sebesar 7,5 persen nitrogen (N), 8,1 persen fosfor (P) dan 2,7 persen kalium (K), 3 persen N, 10 persen P dan 1 persen K. Disamping itu, pupuk guano juga mengandung unsur hara mikro seperti Mg, Mn, Fe, Zn, Cl dan Cu. Pupuk organik guano yang lama berada dalam tanah dapat meningkatkan produktivitas tanah dan menyediakan makanan bagi tanaman lebih lama daripada pupuk kimia buatan. Masyarakat sekitar memanfaatkanya sebagai pupuk di persawahan dan sebagian lagi dijual.

Kelelawar jenis Taphozous melanopogon dan Taphozous saccolaimus adalah dua diantara beberapa spesies kelelawar yang ada di Goa Pucakwangi berdasarkan survei sebelumnya dan spesimennya disimpan di Laboratorium Biosistematika Departemen Biologi FST Universitas Airlangga.  Spesimen dari kedua jenis kelelawar ini sulit dibedakan jika hanya dengan pendekatan morfologinya saja karena kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang sangat mirip. Karakter pembeda dari kedua jenis kelelawar ini adalah warna tubuh dan ada tidaknya kantung pada bagian persambungan lengan atas. Warna tubuh yang berbeda terkadang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sehingga tidak dapat dijadikan pembeda bagi kedua jenis kelelawar ini. Sehingga diperlukan kajian lebih akurat untuk membedakan kedua jenis kelelawar ini, salah satu metode yang bisa digunakan adalah DNA barcoding.

DNA barcoding adalah pendekatan baru yang dirancang untuk memberikan identifikasi spesies yang cepat dan akurat dengan menggunakan sekuens gen yang pendek dan terstandardisasi sebagai penanda internal. Sehingga didapatkan sistem taksonomi menjadi lebih akurat dan mudah untuk diakses. Sekuens gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI) sering digunakan dalam analisis DNA Barcoding hewan. DNA barcoding untuk kelelawar masih jarang dilakukan terutama di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi jenis kelelawar dengan tepat dan benar pada spesimen yang diduga Taphozous melanopogon dan Taphozous saccolaimus dari Goa Pucakwangi.

Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan isolasi DNA dari spesimen yang diduga Taphozous melanopogon dan Taphozous saccolaimus tersebut. Amplifikasi gen cytochrome oxidase subunit I (COI) yang kemudian dilanjutkan dengan analisis urutan basa nukleotida dari gen tersebut. Urutan basa gen COI yang didapatkan kemudian diidentifikasi dengan database pada genbank untuk mengetahui jenis dari kelelawar tersebut. Hasil yang didapatkan dalam riset ini adalah pertama, Spesimen yang diduga Taphozous melanopogon dan Taphozous saccolaimus di Laboratorium Biosistematika Departemen Biologi FST UNAIR merupakan satu spesies yang sama, yaitu Taphozous melanopogon. Dapat dibedakan berdasarkan pada sekuens gen COI. Berdasarkan urutan sekuens gen COI, keseluruhan sampel memiliki kesamaan sebesar 98% dengan spesies Taphozous melanopogon voucher ROM MAM 111014 dari database genbank. Keseluruhan 6 sekuens yang didapatkan dalam penelitian ini dideposit dalam database Genbank dengan accession number MK728945- MK728950. Kedua, terdapat 2 haplotipe baru pada gen COI yang ditemukan dalam penelitian ini. Di mana dua haplotype baru ini sangat berbeda dengan haplotype yang terdapat dalam database Genbank sebelumnya. Jarak antara haplotype pada penelitian ini dan database Genbank berkisar antara 2,3%-2,8% dengan 15-16 nukleotida yang memisahkan keduanya.

Analisis dan penemuan haplotype baru berguna untuk banyak aspek, misalnya mengungkapkan adanya koloni cryptogenic, hipotesis status invasi spesies tertentu, mengembangkan database DNA barcode untuk menilai variasi intraspesifik, dan mengidentifikasi diferensiasi organisme terjadi secara simpatrik dan alopatrik. Pengumpulan spesimen baru dan basis data gen COI dari rentang geografis yang berbeda juga penting untuk meningkatkan presisi dalam identifikasi spesies menggunakan basis data genetik. Variasi intraspesifik akan meningkat dengan pengambilan sampel skala geografis yang lebih luas. Yaitu sebagai hasil dari isolasi oleh jarak dan struktur filogeografi.

Penulis : M. Hilman Fu’adil Amin, S.Si., M.Si

Tulisan detail terkait artikel ini dapat dilihat dalam publikasi kami di

http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9710&iid=276&jid=3

Muhammad Hilman Fu’adil Amin, Nabilatun Nisa’ and Bambang Irawan. 2019. New Haplotypes of Black-Bearded Tomb Bat (Taphozous melanopogon) from Puncakwangi Cave (East Java, Indonesia). Eco. Env. & Cons. 25 (July Suppl. Issue) : pp. S194-S198.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu