Dua Spesies Ikan Cichlid Invasif Beda Terdeteksi di Waduk Karangkates

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: Istimewa
Sumber foto: Istimewa

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar (mega biodiversity) kedua setelah Brazil, mempunyai sekitar 25.000 spesies tanaman dan 400.000 jenis hewan. Dari jumlah tersebut, diketahui sekitar 3.000 spesies adalah ikan.

Untuk melindungi sumber daya tersebut, Indonesia tergabung dalam negara yang telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity/CBD) melalui Undang-undang No.5 Tahun 1994. Negara berkewajiban untuk melakukan usaha menghindari introduksi spesies asing invasif (Invasive Alien Species/IAS) melalui kegiatan pengendalian dan pemusnahan IAS yang ternyata merusak ekosistem, habitat hidup, dan keanekaragaman spesies asli. Dampak negatif introduksi ikan asing telah dirasakan di Indonesia dan beberapa negara.

Beberapa peristiwa penurunan populasi ikan endemik karena masuknya ikan introduksi misalnya di Waduk Selorejo-Jawa Timur oleh ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) dan ikan Louhan (Amphilophus sp.), dominasi ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang menggeser ikan Depik (Rasbora tawarensis) yang merupakan ikan asli danau Laut Tawar-Aceh. Peningkatan ikan Louhan disertai dengan merosotnya populasi ikan Wader dan ikan Betik di waduk Sempor, Jawa Tengah. Ikan red devil (Amphilophus  sp.) yang banyak memangsa ikan Mas, Tawes, dan Nila di Waduk Sermo, Yogyakarta, Cirata dan Kedung Ombo, serta beberapa peristiwa lainnya.

Beberapa peristiwa penurunan populasi ikan endemik karena masuknya ikan introduksi. Ikan introduksi yang invasif pada umumnya merupakan kelompok Cichlidae. Identifikasi kelompok Amphilophus spp. (Cichlidae) juga cukup sulit karena kelompok ini merupakan kompleks spesies. Kompleks spesies adalah spesies dengan status taksonomi yang bersifat problematik karena penentuan tingkatan taksonomi berdasar morfologi dan harus memeperhatikan homologi dan konvergensi.

Kelompok spesies ini memiliki morfologi yang sangat mirip dalam penampilan dan batas antara mereka seringkali tidak jelas. Peneltian ini dilakukan untuk melakukan kajian genetik kelompok ikan Cichlid, terutama Amphilophus spp. Di Bendungan Karangkates dan Bendungan Lahor Jawa Timur, menggunakan DNA barcoding.

DNA barcoding adalah pendekatan baru yang dirancang untuk memberikan identifikasi spesies yang cepat dan akurat dengan menggunakan sekuens gen yang pendek dan terstandardisasi sebagai penanda internal sehingga didapatkan sistem taksonomi menjadi lebih akurat dan mudah untuk diakses. Sekuens gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI) sering digunakan dalam analisis DNA Barcoding hewan. Penelitian aplikasi DNA barcode dalam analisis genetik spesies invasif sudah dilakukan oleh beberapa peneliti di negara lain, misalnya dilakukan pada golongan ikan gabus di Amerika Utara, Pennaria disticha (Cnidaria) di Hawaii, dan spesies cacing Spodoptera di Florida-Amerika Serikat.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua spesies yang berbeda, yaitu Cichlasoma trimaculatum dan Amphilophus citrinellus. Dengan nilai identity di atas 98 persen dan E-value dengan nilai 0. Kedua kelompok ikan tersebut dipastikan merupakan Cichlasoma trimaculatum (Amphilophus trimaculatum) dan Amphilophus citrinellus. 

Hasil konstruksi pohon filogenetik ikan Cichlidae di Bendungan Karangkates dan Lahor dalam studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar sampel termasuk dalam spesies Amphilophus citrinellus (n=18), sedangkan sebagian kecil sampel, termasuk Amphilophus trimaculatum (n=3). Hasil pemetaan haplotipe-fenotipe warna tubuh menunjukkan bahwa Cichlasoma trimaculatum memiliki warna khas gelap atau hitam, sedangkan Amphilophus citrinellus memiliki warna terang (merah) maupun gelap (hitam). Hasil analisis rerata diversitas genetik keseluruhan populasi dan dalam sub populasi adalah 0,001, sedangkan rerata diversitas genetik interpopulasi adalah 0. Rerata jarak genetik antar subpopulasi adalah 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa komparasi habitat dua waduk tersebut tidak memiliki diferensiasi genetik yang signifikan pada gen COI.

Penulis: M. Hilman Fu’adil Amin, S.Si., M.Si. (Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga)

Catatan:

Tulisan detail terkait artikel ini dapat dilihat dalam publikasi kami di

https://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9701&iid=276&jid=3

Muhammad Hilman Fu’adil Amin, Nabilatun Nisa’ and Bambang Irawan. 2019. DNA barcoding of invasive freshwater fish reveals two species of Amphilophus from two dams in Brantas stream, East Java, Indonesia. Eco. Env. & Cons. 25 (July Suppl. Issue) : pp. S141-S145.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu