FKH UNAIR Kembali Lakukan Sosialisasi Jamban Sehat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DARI kiri, Koen Irianto Uripan, S.H., MM. bersama Prof. Dr. Herry Agoes Hermadi, drh., M.Si., saat menunjukkan miniature jamban sehat dan produk fermentol. (Foto: Nabila Amelia)

UNAIR NEWS – Persoalan mengenai sanitasi di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pihak. Hal itu disebabkan oleh rendahnya pemahaman akan sistem sanitasi yang layak serta kendala untuk memperoleh akses jamban sehat di sejumlah kelompok masyarakat. Akibatnya, timbul beberapa persoalan baru seperti pencemaran lingkungan, penurunan kualitas hidup, penyebaran penyakit menular, bahkan kematian anak usia dini.

Berangkat dari persoalan tersebut, timbul sebuah upaya untuk memberikan sosialisasi mengenai pengelolaan sanitasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui program pengabdian masyarakat yang diinisiasi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) di berbagai kawasan permukiman di Surabaya. Program itu telah dilakukan pada tahun 2017 lalu dan kembali berlangsung sejak bulan Agustus hingga Oktober mendatang.

“Sebelumnya, sasaran program ini adalah masyarakat di Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut. Kemudian tahun ini dilaksanakan di Kelurahan Jagir Wonokromo. Dalam penelusuran kami, terdapat 11 rukun warga dengan banyak warga miskin. Mereka tinggal di sebagian tanah milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang padat penduduk,” terang penanggung jawab program, Prof. Dr. Herry Agoes Hermadi drh., M.Si.

Selama ini, lanjut Prof. Herry, masih banyak dijumpai masyarakat yang membuang hajat di sekitar rel kereta api, saluran kecil, atau tempat lain secara sembarangan (open defection). Guna mengurangi kebiasaan buruk itu, tim pengmas menggagas program berupa sosialisasi pembuatan jamban pribadi sekaligus penggunaan fermentol yang merupakan produk penghancur tinja tanpa menghasilkan bau dari ekstrak isis rumen sapi.

“Ada tujuh kriteria dalam pembuatan jamban sehat. Yakni tidak mencemari air, tidak mencemari tanah permukaan, bebas dari serangga, tidak menimbulkan bau dan nyaman, aman, mudah dibersihkan, serta tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan. Selain itu, kami juga memberikan edukasi dan monitoring kepada masyarakat,” tuturnya.

Prof. Herry menjelaskan, bahwa program ini akan dilakukan dengan melibatkan seluruh masyarakat setempat. Dimulai dari sosialisasi, mengolah rumen sapi dari rumah potong hewan untuk digunakan sebagai fermentol, sampai praktik membuat jamban sehat. Dalam program itu, ia turut melibatkan sejumlah pihak terkait seperti mahasiswa, Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UNAIR, institusi pemerintah serta pihak swasta.

“Salah satu pihak yang saya libatkan dalam pengmas ini adalah Pak Koen Irianto Uripan, mahasiswa S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) UNAIR. Beliau adalah ketua sekaligus pendiri Asosiasi Pengelola dan Pemberdayaan Sanitasi Indonesia (APPSANI),” imbuh Prof. Herry sembari mengenalkan Koen Irianto Uripan dalam sebuah kesempatan.

Koen lantas menjelaskan jika tidak semua masyarakat memiliki kemampuan secara finansial dalam membuat jamban sehat dan layak pakai. Sebagai pegiat sanitasi, ia ingin berpartisipasi dalam pengentasan kasus buang air besar sembarangan (open defection free). Hal ini diwujudkan melalui usaha jamban cicilan untuk masyarakat kurang mampu.

“Jadi, usaha ini merupakan sociopreneur yang saya rintis bersama istri sejak tahun 2011 silam. Setiap bulan, pelanggan hanya perlu membayar cicilan sebesar Rp. 226.000 selama enam bulan tanpa anggunan. Masyarakat hanya perlu menunjukkan persyaratan, minimal kartu tanda penduduk dan kartu keluarga. Agar biaya produksi semakin murah, kami membeli bahan serta alat langsung dari produsen dengan jumlah yang banyak,” jelasnya.

Ia juga menambahkan metode edukasi jamban sehat melalui alat peraga untuk menarik masyarakat dalam mengenal pola hidup sehat. Dengan pembuatan jamban sehat, perilaku masyarakat dalam melestarikan lingkungan dan menjaga kesehatan dapat semakin membaik. Tidak hanya itu, Koen menegaskan bila program pengmas beserta usahanya ini dapat meningkatkan pendapatan para tukang maupun toko bangunan. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu