Dosen FPK UNAIR Banyuwangi Respon Dampak Karhutla bagi Biota Laut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh BBC

UNAIR NEWS – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra semakin hari kian meluas. Dampak yang diakibatkanpun tidak berhenti pada manusia dan hewan darat saja, namun kabut asap yang dihasilkan akibat karhutla ini juga dapat mengancam kelangsungan hidup biota laut.

Terkait hal tersebut, kepada UNAIR NEWS Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga, Hapsari Kenconojati, S.Si., M.Si memberikan pendapatnya pada Selasa (24/9). Menurutnya dampak dari karhutla yang terjadi beberapa bulan terakhir di Indonesia berdampak cukup signifikan terhadap kelangsugan hidup biota laut.

“Karhutla bagi biota laut memberikan dampak yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan kabut asap yang merupakan produk dari karhutla mengandung berbagai senyawa berbahaya yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem biota laut,” jelas dosen yang akrab disapa Hapsari tersebut.

DOSEN FPK UNAIR Banyuwangi, Hapsari Kenconojati, S.Si., M.Si (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kabut asap, lanjutnya, mengandung senyawa kimia seperti formaldehida yang apabila biota laut terpapar dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terganggunya sistem sirkulasi darah hingga kematian. Senyawa ini merupakan senyawa beracun berbentuk gas yang memiliki sifat larut dalam air.

“Kabut asap juga dapat menyebabkan terhambatnya difusi oksigen dalam perairan, sehingga terjadi pemanasan pada permukan perairan. Selain itu, proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan laut lainnya terganggu akibat kabut asap yang berkumpul dan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam perairan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Hapsari juga menjelaskan senyawa lain yang terkadnung dalam kabut asap yang berbahaya bagi biota laut yaitu karbon. Karbon merupakan senyawa kimia yang kelarutannya dalam air lebih cepat daripada oksigen.

Karbon yang tinggi pada perairan dapat menyebabkan pergeseran sifat dari perairan yang semula netral menjadi bersifat asam. Kondisi ini tentu menyebabkan terganggunya kelangsungan hidup dari terumbu karang.

Pada akhir, Hapsari memberikan harapan terkait penanganan karhutla dan dampaknya. Selain segera turun hujan di daerah terdampak karhutla, keseriusan pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan dan lahan ditingkatkan.

“Semoga permasalahan karhutla ini serius ditangani dan dapat terselesaikan dengan kerjasama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, sehingga ekosistem baik di laut maupun di darat kembali seimbang. Seperti yang diketahui bersama hutan merupakan sumber oksigen terbesar dan termurah untuk makhluk hidup,” pungkasnya. (*)

Penulis: Dian Putri Apriliani

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).