Evaluasi Penggunaan Terapi Topikal Tretinoin 0,1 Persen pada Striae Albae

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Terapi Topikal Tretinoin. (Sumber: Alodokter)

Striae distensae (SD) yang sering juga disebut stretch mark merupakan jaringan parut linier pada epidermis dan dermis akibat peregangan kulit yang melebihi batas elastisitasnya. Terdapat 2 jenis SD yaitu striae rubrae (SR) yang merupakan fase awal dan ditandai dengan garis eritematosa serta striae albae (SA) yang ditandai dengan garis hipopigmentasi.

Pada kedua jenis SD terjadi atrofi epidermis dan dermis. Terapi standart SA yang digunakan selama ini di Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah krim tretinoin 0,1 persen yang diaplikasikan pada lesi. Dalam studi double blind randomized control trial oleh Kang dan kawan-kawan, 22 subjek Kaukasia menerima tretinoin 0,1% (n=10) atau plasebo (n=12) setiap hari selama 6 bulan di lesi SD.

Pasien dievaluasi setiap bulan dengan pemeriksaan fisik dan menggunakan analisis spesimen biopsi yang diambil sebelum dan pada akhir terapi lalu dibandingkan dengan kulit normal yang tidak dilakukan terapi. Lesi SD pada pasien yang diobati dengan tretinoin mengalami penurunan rata-rata panjang dan lebar masing-masing sebesar 14 persen dan 8 persen, dibandingkan dengan peningkatan masing-masing 10 persen dan 24 persen pada pasien yang menerima plasebo, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil histologi.

Penelitian mengenai efektifitas penggunaan krim tretinoin 0,1 persen selama 3 bulan dibutuhkan untuk mengevaluasi waktu tersingkat yang dibutuhkan tretinoin untuk dapat memperbaiki klinis lesi SA maupun meningkatkan produksi kolagen. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi perubahan klinis dan persentase luas kolagen pasien SA sebelum dan setelah terapi tunggal krim tretinoin 0,1 persen selama 3 bulan.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental analitik untuk membandingkan perubahan klinis yang di ukur dari panjang dan lebar lesi SA, serta mengevaluasi produksi kolagen yang dinilai dari presentase luas kolagen, sebelum dan setelah terapi tunggal krim tretinoin 0,1 persen selama 3 bulan pada pasien striae albae di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Kosmetik dan Tumor Bedah Kulit RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini telah disetujui oleh Komite Etik RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Pengukuran panjang dan lebar lesi SA menggunakan perangkat lunak Image Meter versi 2.15.0. Persentase luas kolagen adalah jumlah serat kolagen dari 3 lapang pandang sediaan histopatologi SD dengan pengecatan Masson’s trichrome.

Evaluasi penelitian ini juga menggunakan derajat perbaikan Visual Analog Scale (VAS) setelah terapi yang dinilai oleh peneliti, dan derajat kepuasan pasien VAS yang dinilai oleh pasien setelah terapi. Derajat perbaikan VAS dinilai dengan pemberian skala 1 untuk 0-30 persen yang artinya kondisi tetap atau perbaikan yang minimal, skala 2 yaitu 30-50 persen untuk perbaikan sedang, skala 3 yaitu 51-80 persen untuk perbaikan yang luas dan skala 4 yaitu ≥81 persen untuk perbaikan hampir menyeluruh.

Pengukuran derajat kepuasan pasien VAS dinilai dengan memberi skala 0 hingga 10. Minimal perbaikan diberi skala 0, maksimal perbaikan diberi skala 10.8. Sampel penelitian sebanyak 11 pasien SA yang memenuhi kriteria penerimaan sampel yaitu wanita dengan usia 20-60 tahun dengan SA pada lokasi perut dengan tipe kulit Fitzpatrick IV dan V, keadaan umum baik, serta bersedia untuk mengikuti penelitian dan menandatangani informed consent.

Hasil Paired sample menunjukkan lebar lesi SA sebelum dan setelah terapi krim tretinoin 0,1 persen tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,341). Uji normalitas data perubahan persentase luas kolagen sebelum dan setelah terapi menunjukkan distibusi normal sehingga dapat dilanjutkan dengan uji Paired sample. Hasil uji Paired sample persentase luas kolagen sebelum dan setelah terapi krim tretinoin 0,1 persen menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,0001). VAS derajat perbaikan dengan skala 2 didapatkan pada 10 (90,9%) sampel penelitian, sedangkan skala 3 didapatkan pada 1 (9,1%) orang sampel penelitian. Hasil penilaian VAS derajat kepuasan pasien didapatkan 10 (90,9%) sampel penelitian memberikan skala 6, dan 1 (9,1%) sampel memberikan skala 7.

Panjang lesi SA sebelum dan sesudah terapi krim tretinoin 0,1 persen tidak didapatkan perubahan, disebabkan tretinoin membutuhkan waktu lebih lama dalam penetrasi ke dalam kulit dan membutuhkan kerutinan dalam mengaplikasikan ke kulit setiap hari. Sehingga, terapi krim tretinoin 0,1 persen membutuhkan waktu minimal 6 bulan untuk menghasilkan perubahan klinis.

Perubahan persentase luas kolagen sebelum dan sesudah terapi krim tretinoin 0,1 persen didapatkan perbedaan yang bermakna, karena krim tretinoin 0,1 persen dapat menghambat kerja enzim kolagenase. Sehingga, pemecahan kolagen tidak terjadi. Penilaian VAS untuk derajat perbaikan menunjukkan skala 2-3, dinilai berdasarkan klinis lesi SA baik warna yang memudar, ukuran panjang dan lebar lesi SA, serta luas area yang mengalami perbaikan. VAS derajat kepuasan pasien menunjukkan skala 6-7. (*)

Penulis: M. Yulianto Listiawan

Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/11769/pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu