Tolak Revisi UU KPK, Sivitas Akademika UNAIR Kembali Unjuk Rasa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Teatrikal yang merepresentasikan matinya KPK dengan salah satu mahasiswa dikafani. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Sivitas Akademika Universitas Airlangga kembali melakukan unjuk rasa menolak disahkannya Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Unjuk rasa kali ini dikomandoi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair (FISIP) yang dilakukan di taman belakang FISIP pada Juma (20/09/19).

Unjuk rasa yang dihadiri banyak kelompok mahasiswa dan dosen tersebut mengecam tindakan DPR yang telah mengesahkan revisi UU KPK. Tidak hanya itu, massa yang terlibat aksi juga mengkritik sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga mendukung revisi UU KPK tersebut.

Massa menilai tindakan yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi sudah bertentangan dengan apa yang dulu ia janjikan sebelum menjadi presiden. Yakni, untuk menguatkan posisi KPK. Tidak hanya melakukan aksi unjuk rasa dengan berorasi, mahasiswa juga menggelar teatrikal dengan salah satu mahasiswa dikafani sebagai representasi kematian KPK.

Salah satu dosen FISIP UNAIR yang ikut unjuk rasa, Airlangga Pribadi, dalam orasinya menuturkan revisi UU KPK ini bukan malah menguatkan KPK, tapi malah membuat institusi KPK menjadi lemah bahkan mati. Dari orasinya, Airlangga juga mengungkapkan sudah berkali-kali agenda reformasi di Indonesia ini dihabisi. Hingga akhirnya berujung juga pada pembunuhan lembaga anti korupsi KPK.

Suasana diskusi mendengar aspirasi-aspirasi dari seluruh kalangan sivitas akademika, baik dosen, mahasiswa, hingga alumni. (Dok. Pribadi)

“Berkali-kali di republik ini agenda reformasi dihabisi, dibunuh, ditindas, diinjak, tetap masih bangkit melawan, sampai akhirnya di minggu-minggu ini KPK dihabisi dibunuh dengan legal, yakni melalui Revisi UU KPK,” ungkapnya.

Beberapa alumnus FISIP UNAIR turut hadir. Salah satunya Yuli. Dalam sesi diskusi yang digelar, ia mengimbau kepada para mahasiswa agar jangan takut menjadi mahasiswa  kritis, jangan takut IPK jelek.

Menurutnya, mahasiswa harus takut kalau hanya diam melihat ketidakadilan di depan mata. Perempuan yang sering membela perkara HAM ini juga berpesan kepada mahasiswa agar jangan sampai idealisme mereka sampai ditunggangi atau bahkan dibeli oleh parpol manapun demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

“Jangan sampai nanti idealisme kalian ini bisa ditunggangi parpol atau bahkan dibeli untuk kepentingan mereka. Karena itu sudah sangat sering terjadi, para parpol ini menggunakan mahasiswa untuk kepentingan mereka, dan anehnya mengatasnamakan kepentingan bangsa dan negara,” ungkap Yuli. (*)

Penulis : Sugeng Andrean

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu