Korelasi Kadar TNF-α dan Ambang Dengar Usai Terpapar Suara Letusan Senjata Api

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: merdeka.com
Sumber foto: merdeka.com

Salah satu kurikulum yang diberikan oleh Sekolah Polisi Negara adalah kurikulum keterampilan menggunakan senjata api atau menembak. Sehingga hal ini mengharuskan para murid untuk terampil menggunakan senjata api, tanpa tertutup kemungkinan adanya efek samping dari penggunaan senjata api. Misalnya, kerasnya suara letusan.

Suara keras seperti letusan senjata api dapat memicu Sensory Neural Hearing Loss (SNHL), yaitu gangguan pendengaran yang disebabkan adanya suara keras akibat suara letusan senjata api. Fenomena ini dapat menimbulkan trauma akustik, yakni trauma pada telinga bagian dalam karena mendapat paparan suara berdesibel tinggi. Paparan suara dengan frekuensi tinggi atau dengan fokus intensitas 4000 Hz dapat menimbulkan kerusakan pada koklea, yang merupakan organ penting dalam memproses penyaluran suara di telinga bagian dalam.

Secara fisiologis, suara yang terlalu keras akan menimbulkan kerusakan pada organ corti, stereocillia, dan sel rambut koklea sehingga mengganggu proses transduksi suara. Akibatnya, terjadi stres pada sel yang memicu aktivitas chaperon dan mengaktifkan sinyal inflamasi.

Akibat inflamasi, molekul TNF-α memicu monosit untuk datang ke area inflamasi sehingga sel inflamasi akan terakumulasi. Molekul Tumor Necrosis Factor alpha (TNF-α) sendiri adalah sitokin yang memicu fase reaksi akut dan diproduksi oleh makrofag bila terjadi inflamasi sistemik dalam tubuh, termasuk inflamasi pada organ telinga dalam.

Sebuah penelitian yang dilaksanakan pada 2009 oleh Purnami mengobservasi model tikus yang dipaparkan pada suara keras. Hasil penelitian menunjukkan adanya kenaikan respon ekspresi TNF-α pada tikus pasca paparan suara keras. Tersimpulkan bahwa paparan suara keras dapat meningkatkan kadar TNF-α.

Umumnya, individu yang terlibat dengan senjata api seperti penembak menggunakan sumbat telinga guna melindungi telinga dari suara keras atau menggunakan peredam untuk menghambat suara keras yang dihasilkan oleh senjata api. Namun, penggunaan sumbat telinga dirasa kurang efektif dan tidak menutup kemungkinan terhindar dari gangguan SNHL.

Pengidap SNHL biasanya mendapatkan obat anti inflamasi guna mencegah trauma akustik yang terjadi dalam telinga dalam. Pemberian obat anti inflamasi dikenal cukup umum di kalangan SNHL, mengingat SNHL adalah kondisi yang tidak mengenal umur, termasuk para murid di SPN Jawa Timur. Namun, belum ada korelasi yang jelas antara TNF-α dengan ambang dengar 4000 Hz pasca paparan suara keras, khususnya pada suara letusan senjata api.

Sejauh ini belum ada yang mengadakan penelitian terkait dengan ambang dengar 4000 Hz dan kadar TNF-α terhadap paparan suara letusan senjata api di SPN Jawa Timur. Karena itu, dr. Ismelia Fadlan Sp. THT-KL. M. Kes dari Departemen Otolaringologi – Bedah Kepala-Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Jambi, Rumah Sakit Raden Mattaher, bersama dengan Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp. THT-KL (K), FICS dari Departemen Otorinolaringologi – Bedah Kepala-Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rumah Sakit Dr. Soetomo dan Prof. Dr. dr. Jenny Bashiruddin dari Departemen Otorinolaringologi – Bedah Kepala-Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangun Kusumo, mengadakan penelitian ini dengan subjek penelitian murid SPN Jawa Timur.

Penelitian ini melibatkan 50 murid laki-laki SPN Jawa Timur yang dipilih secara acak. Semua berasal dari angkatan 2017-2018 dengan rentang umur antara 18 tahun sampai 21 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan trauma akustik pada 28 (56 persen) dari total 50 murid SPN Jawa Timur dengan deskripsi adanya penurunan ambang frekuensi dengar di level 4000 Hz. Ada pun ditemukan pada satu murid (2 persen) dari total 50 murid. Keluhan vertigo mau pun tinnitus tidak ditemukan dalam penelitian analisis observasional ini.

Pada pengukuran level TNF-α dalam serum, di sisi lain, menunjukkan korelasi yang tidak cukup kuat dengan ambang dengar 4000 Hz pada murid SPN Jawa Timur yang terpapar suara letusan senjata api.

Walaupun studi yang diadakan oleh Purnami (2009) menyebutkan bahwa memang ada respons ekspresif dari TNF-α saat menerima paparan suara keras, namun penelitian ini menunjukkan korelasi yang tidak terlalu kuat antara kadar TNF-α dan ambang dengar 4000 Hz setelah paparan suara letusan senjata api. Hal ini mungkin bisa disebabkan karena adanya jarak waktu antara momen terakhir paparan suara letusan senjata api dengan waktu pengambilan sampel, yang memberi waktu untuk kadar TNF-α turun kembali ke batas normal. (*)

Penulis: Salsabila Nurulnisa

Untuk mengakses informasi lengkap terkait dengan artikel ini dapat dilihat di link 18th ASEAN Otolaryngology-Head and Neck Surgery Congress 2019 http://www.aseanorl2019.org/uploads/1/1/9/3/119302669/18th_orl-hns_congress_23_august_2019.pdf

LINK selengkapnya: http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9730&iid=277&jid=4

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu