Di UI, Software Turnitin Jadi Solusi Plagiarisme?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: unsplash.com
Sumber foto: unsplash.com

Plagiarisme merupakan tindak kriminal yang saat ini masih terjadi di lingkungan akademis. Plagiarisme adalah tindakan berbohong, menipu, dan mencuri karya orang lain. Di lingkungan akademik, tindakan plagiarisme ini sering terjadi, namun keberadaannya tidak diindahkan ataupun tidak dianggap penting. Padahal ketika tindakan ini terjadi akan banyak sekali kerugian dan pihak yang dirugikan. Tindakan ini masih banyak sekali terjadi dan hal ini juga merugikan instansi atau lembaga dalam lingkungan akademik.

Tindakan melanggar dalam dunia akademik ini tidak semata-mata hanya terjadi begitu saja. Ada faktor pendorong yang menyebabkan menjamurnya tindakan plagirisme dalam lingkungan akademik. Faktor pendorongnya pun sangat bermacam-macam. Mulai keterbatasan waktu yang diberikan untuk mengerjakan tugas atau karya ilmiah, kurangnya pemahaman terkait teknik pangutipan, kesalahan dalam menulis daftar pustaka, hingga masih banyak lagi factor pendorong lainnya.

Yang memperihatinkan faktor pendorong ini malah sengaja diciptakan atau dilakukan dengan sendirinya oleh pelaku, yang mana mereka mulai tertekan dalam mengerjakan suatu karya. Di Amerika saja, masih ditemukan sekitar 70 persen pelaku yang mengaku dirinya telah melakukan plagiat dan 30 persen di antaranya pada tugas-tugas kuliah. Parahnya, tindakan ini menjadi hal yang sangat umum di belantika Eropa.

Pencegahan faktor pendorong dan terjadinya tindakan plagiarisme ini pun seiring berjalannya waktu dilakukan, berbagai cara untuk meminimalkan sampai dengan menghilangkan kebiasan buruk ini pada lingkungan akademik. Hal ini juga didorong dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang menjadi pemantik hadirnya salah satu software pencegah plagiarisme, yaitu software turnitin.

Software ini merupakan alat yang dapat mendeteksi tingkat kesamaan teks dari karya yang dibuat dengan referensi yang digunakan. Hasilnya berupa angka persentase yang dikenal dengan nama Original Similarity Index (OSI). Beberapa penelitian ilmiah telah banyak menguak bahwa software turnitin ini berhasil mencegah terjadinya plagiarisme di lingkungan akademik.

Namun, mirisnya hasil dari pemeriksaan software turnitin ini masih menjadi pertanyaan besar, dimana tidak ada angka pasti seberapa besar presentase seseorang dapat dikatan sebagai plagiat. Hal ini membuat penggunanya merasa kebingungan dan ketakutan menerimahasil dari software turnitin tersebut, karena mereka merasa tidak aman atau gelisah dalam menerima hasilnya.

Sebenarnya, pengguna pun tetap menggunakan software ini untuk kebutuhan akademisnya. Beberapa penelitian pun menganggap bahwa adanya software ini efektif sebagai pencegah tindakan plagiarisme dan penggunaan software turnitin ini dianggap positif. Di samping positif, para pengguna pun merasa dimudahkan dengan adanya software turnitin ini. Selain itu, terdapat hasil signifikan yang dapat mengurangi tindakan plagiarisme dalam lingkungan akademik setelah menggunakan software turnitin ketika memeriksa beberapa karya ilmiah para akademisi.

Namun, yang menjadi musuh di sini adalah ketika para ahli menemukan penelitian yang menyatakan bahwa software turnitin ini adalah bukan satu-satunya cara untuk mencegah plagiarisme. Hal ini dikarenakan sedikit kesalahan dalam penulisan dapat terdeteksi dan dapat menjadi sensitive ketika menggunakan software turnitin. Selain itu, pengguna tidak merasa bahwa mereka melakukan plagiat, namun software ini sedikit-banyak dapat mendeteksi kesalahan walaupun pengguna merasa tidak melakukan plagiarisme.

Di Indonesia sendiri penggunaan software turnitin ini sudah banyak di beberapa perguruan tinggi, salah satunya adalah Universitas Indonesia. Hal ini tentu saja bertujuan untuk mencegah dan mengurangi tindakan plagiarisme di lingkungan akademik, khususnya perguruan tinggi. Penggunaan ini pun berkembang seiring dengan ditemukannya beberapa kasus plagiarisme dalam lingkungan akademik di Indonesia.

Penggunaan software turnitin di Universitas Indonesia ini patut disoroti. Pasalnya sosialisasi dan penggunaannya sangat digebu-gebukan mulai mahasiswa baru masuk menjadi salah satu bagian dari Universitas Indonesia. Belum lagi ketika mereka di kelas para staf pengajar pun akan memberi pengarahan dan informasi terkait penggunaan software turnitin. Pasalnya, para staff pengajar sudah mengandalkan software turnitin untuk memeriksa keaslian tugas dan hasil ujian para mahasiswanya.

Persepsi para akademisi di Universitas Indonesia pun masih sama dengan persepsi orang-orang kebanyakan terkait hasil dari software turnitin. Namun, seiring edukasi dari pengelola software turnitin, yaitu petugas perpustakaan yang telah banyak diberikan kepada mahasiswa maupun staf pengajar persepsi miring itu pun sedikit-banyak telah pudar dan berganti menjadi persepsi yang dapat meningkatkan kepercayaan mereka akan penggunaan software turnitin.

Seiring perkembangannya penggunaan software turnitin di lingkungan akademik yang tidak hanya di luar negeri, namun perguruan tinggi di Indonesia pun mulai sadar akan pentingnya software semacam software turnitin ini. Namun, penggunaan dan hasil dari software turnitin pun harus benar-benar dipahami dan perlu edukasi mendalam agar menghasilkan hasil yang benar-bena refektif, serta tidak ada lagi persepsi miring. (*)

Penulis: Rahma Sugihartati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami dalam artikel Scopus berjudul “The correlation between plagiarism perception and users trust about the accuracy of turnitin software at The University of Indonesia” yang ditulisSofia Nur Aisyah & Rahma Sugihartati[1].

Selengkapnya di link berikut: https://digitalcommons.unl.edu/libphilprac/2543/


[1]Corresponding author. Email: rahma.sugihartati@fisip.unair.ac.id

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu