Sodium Hipoklorit untuk Agen Oksidasi Hypochlorous Acid

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: Oxygen Pools

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 menunjukkan prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut penduduk di Indonesia sebesar 57,6 persen, penduduk yang menerima perawatan dan pengobatan sebesar 10,2 persen. Data Riskesdas 2018 menunjukkan dmf-t pada anak usia 5-6 tahun adalah 8,43, DMF-T pada anak usia 12 tahun sebesar 1,89, dan pada usia 15 tahun sebesar 2,4. Sedangkan Indonesia mencanangkan Indonesia bebas karies pada tahun 2030 (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2018). Hal ini merupakan tantangan bagi para dokter gigi.

Tingginya prevalensi karies tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies. Karies merupakan penyakit multifaktorial, dengan tiga komponen dasar yang harus ada selama periode waktu tertentu hingga muncul karies yang tampak secara klinis yaitu host, bakteri asidogenik, dan substrat karbohidrat yang dapat difermentasi oleh bakteri untuk metabolisme (Quock, 2015; Conrads, 2018).

Karies yang berlanjut dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf yang berada pada pulpa gigi sehingga memerlukan perawatan saraf gigi. Perawatan saraf gigi bertujuan untuk mengeliminasi mikroorganisma sebanyak mungkin dalam system pulpa. Medikamen perawatan saraf gigi diantaranya Sodium hipoklorit dan QMix.

Permasalahan yang terjadi penderita merasakan nyeri paska perawatan saluran akar gigi. Hal ini perlu dilakukan penelitian bagaimana pengaruh medikamen terhadap jaringan sekitar gigi. Pada perawatan saraf gigi memungkinkan medikamen keluar dari sistem pulpa dan mencederai jaringan lunak yang dikenal sebagai jaringan periapikal disekitar gigi. Kondisi tersebut sering dialami terutama pada penderita usia muda dimana secara anatomi bentuk ujung akar gigi belum membentuk konstriksi sehingga memudahkan medikamen keluar dan mencederai jaringan sekitarnya.

Penelitian ini berimplikasi untuk menjelaskan sifat toksisitas medikamen Sodium Hipoklorit dan QMix terhadap jaringan sekitar akar gigi. Dari hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa Sodium hipoklorit dan QMix menunjukkan sifat toksik terhadap jaringan fibroblast periapikal Sodium hipoklorit toksik pada 0.254µl/ml dan QMix pada 0.363µl/ml.

Metode penelitian ini merupakan experimental laboratory menggunakan only post-test control group design. Uji sitotoksisitas dilakukan terhadap sel kultur HPDLFc yang dilakukan di Lab riset Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Indonesia setelah dilakukan uji etik yang disetujui oleh Komite Etik  dengan sertifikat ID:IR.UMSHA.REC.1396.496. Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan Metoda MTT assay dan dilakukan pembacaan dengan menggunakan spektrofotometri (Elisa Reader Bio Tek, Winooski, VT, USA).

Hasil penelitian menjelaskan Sodium hipoklorit akan menghasilkan Hypochlorous acid yang merupakan agen oksidasi sehingga ketika kontak dengan jaringan akan melepaskan Klorin. Klorin akan memicu terbentuknya radikal bebas. Di samping itu Sodium hipoklorit memiliki pH tinggi (Basa) yang akan memicu pelepasan ion hidroksil. Ion hidroksil akan mengakibatkan perubahan integritas dari membrane sitoplasmik yang akan mengakibatkan kerusakan mitokondria sehingga akan membentuk lubang dan mengakibatkan kegagalan oxidative phosphorylation dan penurunan ATP sehingga terjadi kematian sel.

QMix mengandung Chlorhexidine yang apabila kontak dengan jaringan akan berikatan dengan membrane plasma sel sehingga terjadi peningkatan permeabilitas membrane dan berakibat kematian sel. QMix juga mengandung EDTA yang akan mengikat Kalsium dan ion logam berat. EDTA akan berikatan dengan ion inorganic yang akan penetrasi ke dalam sel sehingga mengakibatkan gangguan pada struktur dan permeabilitas membrane sel dan memicu kematian sel.

Resiko penggunaan medikamen dapat dieliminasi dengan melakukan selektif kasus. Dimana pada gigi dengan bentuk anatomi ujung akar gigi terbuka, maka penggunaan medikamen dilakukan dengan hati-hati dengan mempertimbangkan jarak ujung akar gigi serta menggunakan sistem irigasi pasif sehingga akan mengurangi resiko keluarnya medikamen ke jaringan lunak sekitarnya.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kandidat bioaktif material yang ramah terhadap lingkungan jaringan lunak sekitar gigi dan tidak toksik terhadap sel fibroblast jaringan lunak sekitar akar gigi. (*)

Penulis : Dian Agustin Wahjuningrum

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :http://www.jioh.org/article.asp?issn=09767428;year=2019;volume=11;issue=4;spage=204;epage=207;aulast=Wahjuningrum

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu