Ketahui Cara Mencegah Penyakit Infeksi Seksual Menular pada Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sains Kompas

Sifilis atau yang disebut penyakit raja singa merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang menyebabkan kelainan pada kulit dan dapat bermanifestasi sistemik. Infeksi ini ditularkan melalui kontak seksual atau dari ibu kepada bayi melalui plasenta, dan dapat juga ditularkan melalui transfusi darah. Orang seringkali tidak sadar bila ia terinfeksi sifilis. Hal ini karena dalam ilmu kedokteran, sifilis dikenal sebagai “The Great Pretender” atau penyamar yang hebat. Mengapa demikian? Karena gejala yang muncul, selain luka sifilis dapat menyerupai gejala penyakit lain. Sifilis pun biasanya mengikuti sebuah pola progresi dari fase awal infeksi menuju fase yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Sifilis melewati beberapa stadium, yaitu stadium primer, stadium sekunder, stadium tersier dan sifilis yang tidak menunjukkan gejala klinis disebut sebagai sifilis laten. Stadium laten merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis sifilis primer ataupun sekunder namun pemeriksaan serologis menunjukkan hasil yang reaktif.

Sifilis Laten

Sifilis laten adalah stadium sifilis yang ditandai dengan pmeriksaan serologis yang aktif tanpa disertai sifilis primer, sekunder, atau tersier. Klasifikasi sifilis laten meliputi, pertama sifilis laten dini, yaitu sifilis laten dini yang terjadi kurang dari satu tahun sejak awal munculnya sifilis primer. Kedua sifilis laten lanjut yang terjadi satu tahun atau lebih mulai dari awal munculnya sifilis primer. Pasien datang biasanya sudah dalam fase ini. Sifilis baru diketahui karena dilakukan skrining untuk penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Pada fase laten, sifilis merupakan keadaan yang tersembunyi (hidden), di mana pasien tidak menunjukkan gejala, tapi infeksinya tetap ada dalam tubuh. Fase laten bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Bila terus tidak diobati, maka 10-20 tahun berikutnya, orang dengan sifilis laten akan masuk ke fase laten syphilis. Bahayanya karena fase ini dapat merusak organ dalam yang dapat menyebabkan kelumpuhan, kebutaan, dan demensia (pikun). Sifilis pada fase ini sangat berbahaya dan dapat berakhir dengan kematian.

Sifilis laten karena tidak memiliki gejala maka pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk penegakan diagnosis. Oleh karena itu, diagnosis klinis harus selalu didukung oleh tes laboratorium yang sesuai. Hasil tes laboratorium tersebut dapat diinterpretasikan pada riwayat pasien dan temuan pada pemeriksaan fisik. Metode deteksi sifilis dapat melalui tes darah yang bertujuan untuk treponema maupun non-treponema. Yang termasuk tes non treponema adalah VDRL atau RPR. Metode ini digunakan untuk diagnosa cepat karena mudah dilakukan dan murah. Kelemahannya, tes ini tidak spesifik untuk sifilis dan mungkin memberikan hasil positif palsu. Maka, untuk orang dengan hasil tes non-treponema yang positif harus dikonfirmasi dengan tes Treponema.

Tes treponema mendeteksi antibodi yang spesifik untuk sifilis dan dapat bertahan hingga seumur hidup meski orang tersebut sudah pernah mendapat pengobatan sifilis. Kalau melakukan tes treponema dan hasilnya positif, maka tes non-treponema tetap perlu dilakukan untuk menghitung titer. Hal ini diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan menetukan pengelolaan selanjutnya.

Apakah Sifilis Laten dapat Disembuhkan?

Karena sifilis laten tidak ditularkan secara seksual, tujuan mengobati orang pada tahap penyakit ini adalah untuk mencegah komplikasi dan penularan dari wanita hamil ke janinnya. Sifilis laten dini harus diperlakukan dengan cara yang sama seperti sifilis infeksi aktif dini, dimana mendapat terapi suntikan penicillin – G dalam sepuluh hari. Respon terhadap penyakit ini cukup bagus. Pada sifilis laten ini pasien tidak menunjukkan adanya gejala klinis dari infeksi, maka evaluasi kesembuhan tidak pada perubahan klinis pasien sebagai hasil terapi yang berhasil. Evaluasi yang tepat dari hasil yang diperoleh hanya dapat dilakukan dengan mengikuti pasien sepanjang hidupnya. Sekitar 2% dari kasus-kasus sifilis laten lanjut yang diobati kemudian akan berkembang menimbulkan manifestasi serius dari sifilis lanjut meskipun dengan pengobatan yang adekuat.

Bagi mereka yang berisiko hendaknya melakukan tes sifilis. Termasuk dalam kelompok ini adalah ibu hamil, populasi LSL, narapidana, PSK orang yang memiliki perilaku seks berisiko seperti yang memiliki banyak pasangan seksual, tidak menggunakan kondom, pengguna narkoba dan alkohol, dan tentunya mereka yang memiliki pasangan dengan sifilis positif. Cara pencegahan yang paling efektif adalah dengan melakukan seks secara aman. Abstinensia atau tidak berhubungan seks sudah tentu menjadi cara yang paling ampuh. Cara lain adalah dengan tidak berganti pasangan (monogami) dan menggunakan kondom adalah perilaku yang seharusnya dilakukan. Kondom pun harus digunakan secara tepat dan konsisten agar efektif mencegah sifilis.

Penulis: dr. Dwi Murtiastutik,Sp.KK(K)

Informasi detail dari case report ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/download/10893/pdf

Bernadaya Yogatri Anjuwita Saputri dan Dwi Murtiastutik. Studi retrospektif: sifilis laten. BIKKK 2019; 31(1):46-54

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu