Hubungan Seksual Monogami, Potensi Timbulkan Penyakit Gonore pada Laki-laki

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Halodoc

Gonore merupakan suatu infeksi pada mukosa yang disebabkan oleh bakteri kokus gram negatif Neisseria gonorrhoeae yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual atau perinatal. Gonore merupakan infeksi menular seksual tersering kedua di seluruh dunia yang berpengaruh besar terhadap morbiditas dan pengeluaran biaya ekonomi.

Kasus penyakit Gonore semakin meningkat, menurut World Health Organization (WHO) diperkirakan 78 juta kasus baru ditemukan setiap tahunnya. Diperkirakan ada 27 juta kasus umum dari gonore pada tahun 2012,berarti  prevalensi global gonore 0,8% di antara wanita dan 0,6% di antara laki-laki berusia 15-49 tahun, dengan prevalensi tertinggi di Pasifik Barat dan Daerah Afrika. Penelitian restrospektif ini dilakukan untuk mengetahui gambaran infeksi gonore selama 3 tahun terakhir di Divisi IMS URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode tahun 2013 sampai dengan 2015.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi retrospektif deskriptif dengan melihat catatan medik pasien gonore di Divisi IMS URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Januari 2013 sampai Desember 2015 dengan mengevaluasi pasien baru gonore berdasarkan anamnesis, klinis, diagnosis, penatalaksanaan serta kunjungan ulang. Selama kurun waktu 3 tahun, didapatkan 125 pasien baru gonore yang datang berobat di Divisi IMS atau merupakan 4,1% dari jumlah kunjungan baru Divisi IMS dan 0,18% dari jumlah kunjungan baru URJ Kesehatan Kulit dan kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Adapun jumlah pasien baru Gonore terbanyak didapatkan pada tahun 2013, yaitu sebesar 55 pasien.

Di RSUD Dr. Soetomo sendiri terjadi penurunan angka kejadian GO. Penelitian retrospektif pada kurun waktu antara Januari 2010 hingga Desember 2012, terdapat 135 pasien GO atau 6,57% dari total kunjungan IMS dan 0,57 % dari seluruh pasien yang berobat  di URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSU Dr Soetomo Surabaya. Data yang didapat dari penelitian ini, menunjukkan penurunan kunjungan pasien GO yang signifikan. Hal ini dimungkinkan karena banyaknya kasus yang sulit untuk didata, sebab banyak pasien GO yang mencari pertolongan pada praktik dokter pribadi, klinik swasta, rumah sakit lain, atau puskesmas dan juga karena tersedianya obat yang dijual bebas di apotik dan toko obat. Selain itu perilaku hubungan seksual yang lebih aman sebagai respons terhadap epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) juga dapat menjadi faktor yang memberikan kontribusi terhadap penurunan infeksi GO baru.  

Pada wanita umumnya pasien tidak mengeluh adanya gejala, hal ini yang mendasari persentase masing-masing keluhan pada wanita dapat dikatakan kecil dibandingkan laki-laki. Penelitian retrospektif ini menunjukkan 47 pasien (45,6%) mengaku belum pernah mendapat pengobatan sebelumnya dan 68 pasien (54,4%) sudah pernah mendapat pengobatan, dan jenis obat yang paling populer digunakan oleh pasien adalah siprofloksasin, tetrasiklin, amoksisilin,kemudian disusul oleh parasetamol. Namun belum diperoleh data mengenai berapa lama dan dosis pemakaian obat-obat tersebut. Penggunaan tetrasiklin dan golongan penisilin terutama bagi pasien GO tidaklah tepat lagi, mengingat sejak lama N. gonorrhoeae resisten terhadap kedua golongan obat tersebut. 

Bebasnya penggunaan antibiotik tanpa resep dokter dan penggunaan secara luas tanpa mengetahui dosis yang tepat akan menimbulkan kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Pada penelitian retrospektif ini, obat yang paling banyak digunakan adalah kombinasi sefiksim diberikan pada 75 pasien (60%), kedua adalah kombinasi sefiksim dengan doksisiklin pada 24 pasien (19,2%). Juga didapatkan pemberian kombinasi siprofloksasin dengan doksisiklin pada 4 pasien (2,2%). Tujuan pemberiannya bersamaan dengan doksisiklin adalah selain untuk eradikasi N.gonorrhoea, juga untuk membunuh Chlamidya Trachomatis, sebab infeksi GO seringkali mengalami infeksi dengan C. Trachomatis. Sepuluh hingga tiga puluh persen orang dengan infeksi GO mengalami infeksi  Chlamydia. Sehingga terapi rangkap dua dengan doksisiklin dan azitromisin telah direkomendasikan dan terbukti efektif. Terapi rangkap dua ini juga menurunkan perkembangan resistensi antibiotika pada bakteri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa GO merupakan IMS banyak ditemui pada usia produktif dan lebih sering menimbulkan gejala pada laki-laki. Diperlukan perhatian dan pemeriksaan fisik lebih teliti terutama pada wanita karena tidak menibulkan gejala dan pemeriksaan penunjang yang tepat untuk penatalaksanaan, pencegahan komplikasi dan resistensi.

Penulis : Prof. dr. Sunarko Martodiharjo, SpKK (K)

Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/7911/pdf

Dyah Ayu Pitasari, Sunarko Martodiharjo. 2019. Studi Retrospektif: Profil Infeksi Gonore (Retrospective Study: Gonorrhoeae Profile). BIKKK 31(1):41-45

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu