Tempuyung Bagi Industri Farmasi dan Peneliti

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Citra Plus

Sonchus arvensis atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tempuyung merupakan tanaman obat yang tumbuh di Indonesia. Tempuyung ini digunakan sebagai terapi penyembuhan asma, batuk dan bronchitis serta berperan sebagai anti bakteri, antioksidan, anti peradangan dan sebagainya. Kandungan senyawa metabolit yang dimiliki Tempuyung antara lain flavonoids (kaempferol, luteolin-7-glucoside, dan apigenin-7-O-glucoside), coumarin, dan  taraxasterol. Oleh karena Genus Sonchus memiliki banyak anggota dengan morfologi yang hamper mirip, maka identifikasi terhadap Tempuyung (Sonchus arvensis) harus benar-benar tepat dilakukan, apalagi untuk tujuan sebagai bahan baku pembuatan obat. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk memberikan karakter pembeda dari segi morfologi, anatomi dan DNA barcoding (Urutan basa DNA).

Morfologi Tempuyung secara umum tidak banyak berbeda dengan jenis lain dari Famili Asteraceae. Tempuyung memiliki bentuk daun mirip tombak dan memanjang, tepi daun bergerigi, dan teksturnya tipis dan halus. Batangnya tegak dan bundar. Sedangkan akar Tempuyung sukar dibedakan sengan Spesies lain dari genus yang sama yakni sama-sama akar tunggang dan roset. Bunganya berwarna kuning dengan susunan berkumpul. Buah Tempuyung kecil, keras, berwarna cokelat dan berkerut.

Karakter anatomi Tempuyung pada organ vegetatif berupa akar, batang, dan daun juga tidak jauh berbeda dengan Famili Asteracea lainnya. Akarnya memilili jaringan epidermis berbentuk bulat dan berdinding tebal, jaringan korteks berukuran besar, polygonal, dan terdapat rongga udara, jaringan pembuluhnya radial serta jaringan empulurnya bertipe aktinostele. Batang Tempuyung memiliki jaringan epidermis selapis berbentik pipih dengan satu lapis kolenkim dibawahnya, jaringan kotreks tersusun dari 7-9 lapis sel yang berbentuk tidak beraturan, system pembuluhnya kolateral terbuka dan terdapat bulir amilum (pati) di dalam jaringan pembuluh tapisnya. Organ daun memiliki selapis jaringan epidermis yang tebal berkutikula dengan beberapa trikoma yang melekat, jaringan palisade dan bunga karang yang berada di bawahnya sukar dibedakan satu sama lain.  Anatomi buah dan biji Tempuyung memperlihatkan struktur yang berbeda dari jenis lain yakni buahnya melengkung dan keras, biji nya terdapat didalam lapisan buah yang matang. Pada buah yang muda, biji belum terbentuk sehingga terdapat ruang kosong di dalam buah. Struktur buahnya tersusun dari jaringan parenkim dengan banyak sel mengandung amilum. Terlihat pula penebalan jaringan sklerenkim yang terpadat pada lengkungan buah. Endosperma dari biji tempuyung terlihat memiliki dua keping yang menunjukkan ciri dari tumbuhan dikotil.

Karakter terakhir yang digunakan sebagai penanda untuk identifikasi adalah karakter DNA. Dua jenis gen yang berbeda digunakan dalam penelitian ini, rbcL dan MatK. Kedua jenis gen ini umum digunakan sebagai penanda molekuler berbagai jenis tumbuhan. Setelah dilakukan isolasi DNA dari jaringan daun Tempuyung, dilakukan amplifikasi kedua gen tersebut menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dan akhirnya dilakukan pembacaan urutan basa nukleotida yang menjadi karakter molekuler Tempuyung tersebut. Hasil urutan DNA selanjutnya didaftarkan untuk dimasukkan ke dalam database Genbank (www.ncbi.nlm.nih.gov) agar dapat diakses oleh peneliti lain di seluruh dunia. Kedua urutan gen Tempuyung masing-masing memiliki nomer aksesi MN206020 untuk urutan gen rbcL dan MN218598 untuk sekuens gen MatK.  Analisis selanjutnya berupa analisis kekerabatan dan membandingkan kesamaan urutan dengan urutan yang sudah terdaftar di Genbank. Urutan gen rbcL Tempuyung (S. arvensis MN206020) menunjukkan hasil yang identik dengan sesame jenis S. arvensis JX848427.1 juga jenis lain S. oleraceus KM360989.1, S. oleraceus EU385018.1, S. asper MF135322.1, S. asper HM850372.1 dengan persen kesamaan 100%. Lain halnya dengan urutan gen MatK yang identik 99.31% dari sesame jenis S.arvensis  dengan nomer aksesi yang berbeda (MH265200.1; MF770209.1; MG225099.1; MG225031.1; MG 225020.1). Perbedaan nukleotida pada penelitian ini berasal dari urutan nomer 32 dan 32 dari penelitian ini yang memiliki basa A dan C sedangkan jenis Tempuyung dengan nomer aksesi yang lain memiliki basa beruta A dan T. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan asam aminbo yang dihasilkan dari Phenylalanine menjadi Tyrosine.

Berbagai karakter yang dideskripsikan pada penelitian ini diharapkan mampu menjadi petunjuk bagi peneliti lain maupun industry farmasi yang menggunakan Tempuyung sebagai subjek penelitian.

Penulis: Dwi Kusuma Wahyuni

Link terkait artikel ilmiah populer di atas: Morpho-anatomical structure and DNA barcode of Sonchus arvensis L.  https://smujo.id/biodiv/article/view/4152

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu