Korelasi Panjang Tulang Belakang dan Tinggi Badan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilsutrasi oleh honest dosc

Identifikasi dari tubuh manusia yang tidak dikenal, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dapat dilakukan bagi kepentingan penyidikan perkara pidana dan bagi tugas kepolisian yang lain. Ada beberapa metode identifikasi salah satunya yaitu pemeriksaan medis yang meliputi bentuk tubuh, tinggi dan berat badan, warna tirai mata, adanya cacat tubuh serta kelainan bawaan, jaringan parut bekas operasi serta adanya tattoo.

Salah satu informasi yang sangat penting dapat digunakan untuk melacak identitas seseorang adalah informasi yang didapatkan dari hasil pengukuran tinggi badan korban. Jika yang diperiksa adalah jenasah yang dalam keadaan tidak utuh, maka penentuan tinggi badan dapat dilakukan dengan mengunakan ukuran tulang panjang Namun sampai saat ini korelasi tinggi badan dengan tulang belakang belum banyak dipublikasikan di Indonesia.

   Pada kebanyakan kasus mutilasi, pemotongan dilakukan setelah kematian korban dengan cara menghilangkan bagian tertentu dari tubuh seperti buah dada, kepala, alat genitalia, anggota gerak dan bagian tubuh lainnya. Penentuan tinggi badan menjadi sangat penting pada keadaan dimana yang harus diperikasa adalah tubuh yang sudah dalam keadaan terpotong – potong atau yang ditemukan hanya berupa kerangka atau hanya sebagian dari tubuh saja. Pengukuran tinggi badan dapat diketahui dari pengukuran tulang panjang antara lain tulang paha, tulang kering dan tulang lengan.

Collumna vertrebralis adalah merupakan bagian dari tulang – tulang yang menjadi penyokong bentuk tubuh seseorang yang terdiri dari tulang leher (vertebra cervicalis), tulang punggung (vertebra thoracalis), tulang pinggang (vertebra lumbalis), tulang panggul (Os Sacrum), dan tulang ekor (Os Coccygeus). Kelima  kelompok tulang tersebut terdiri dari ruas – ruas tulang yang dihubungkan oleh tulang rawan, yang kesemuanya mengikuti arah sumbu tubuh. Oleh karena itu tulang –tulang tersebut dapat dihubungkan dengan tinggi badan seseorang.

Penelitian ini dilakukan pada jenazah yang diotopsi, melalui pengukuran : vertebra thoracalis: diukur mulai dari batas atas corpus vertebra thoracal I sampai dengan batas bawaha corpus vertebra thoracal XII dan vertebra lumbalis: diukur mulai dari batas atas vertebra lumbal I sampai dengan batas bawah vertebra lumbal V. Setelah penelitian berakhir dimana jumlah sampel yang terkumpul secara keseluruhan berjumlah 57 sampel, Hubungan antara panjang vertebra thoracalis (X1)dan lumbalis (X2)dengan tinggi badan pada laki-laki dan perempuan  persamaan regresi yang dapat dibentuk adalah Y = 47,428 + 2,991 X1 + 2,13 X2     (Laki-laki) dan  Y = -32,496 + 3,800 X1 + 5,549 X2 (Wanita)

Penentuan identitas korban yang tidak dikenal (tanpa identitas), maka dokter melakukan pemeriksaan terhadap tubuh atau bagian tubuh korban untuk mendapatkan data post mortem. Pengumpulan data post mortem yang sebanyak mungkin sangat diperlukan, hal ini penting dan besar peranannya oleh karena sangat berguna dalam proses identifikasi korban. Penentuan tinggi badan berdasarkan pengukuran tulang belakang  (collumna vertebralis) adalah salah satu metode yang dapat dipakai dalam memperkirakan tinggi badan seseorang, disamping metode – metode yang berdasarkan ukuran tulang – tulang yang secara umum dipakai.

Ketepatan memperkirakan tinggi badan dengan bantuan tulang belakang sangat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain: ras, umur dan jenis kelamin. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Todmad (1923) dan Rosselt yang dilakukan pada orang – orang Amerika kulit putih dan kulit hitam dan tentunya untuk ras Indonesia, rumus tersebut belum tentu sesuai. Hasil penelitian ini berimplikasi bahwa ubungan antara panjang vertebralis dengan tinggi badan menunjukkan korelasi yang cukup kuat. Rumus regresi yang didapatkan pada penelitian ini dapat dipergunakan dalam memperkirakan tinggi badan terutama pada kasus – kasus mutilasi atau korban kebakaran dan kasus – kasus lain dimana yang ditemukan hanya tulang belulang tanpa tulang – tulang panjang lainnya.

Penulis : Dr.Ahmad Yudianto,dr.SpF.M[K].,SH.,M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

http://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/mkb/article/view/1472

Ahmad Yudianto and  Ariyanto Wibowo [2019], Correlation between Vertebral Length and Body Height (Os. Vertebralis) in Indonesian People.Majalah Kedokteran Bandung,51[1]: 13-16

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu