Keunggulan Rosuvastatin Terhadap Pengaruh Migrasi Sel Progenitor Endotel

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi obat. (Sumber: Hellosehat)

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di seluruh dunia. Penelitian Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa PJK bertanggung jawab terhadap 12,9 persen dari angka kematian. Pada pasien PJK, proliferasi dan migrasi sel progenitor endotel (Endhotelial Progenitor Cells/EPCs) berkurang secara signifikan seiring perkembangan penyakit. Hal ini akan semakin mengurangi kemampuan EPCs untuk memperbaiki kerusakan pembuluh darah. Kelompok pasien tersebut memiliki insidensi kejadian kardiovaskular, mortalitas, dan morbiditas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang memiliki jumlah dan migrasi EPCs lebih tinggi.

Stres oksidatif dianggap berperan dalam menyebabkan gangguan proliferasi dan migrasi EPCs pada pasien PJK. Stres oksidatif menyebabkan kerusakan intraseluler dan gangguan keseimbangan redoks. Gangguan lingkungan redoks intraseluler memiliki peran penting dalam mengendalikan apoptosis, proliferasi, pembaharuan diri, penuaan, dan diferensiasi EPCs sehingga memengaruhi perkembangan patologi vaskular.

Efek Statin terhadap Penyakit Jantung Koroner

Statin atau inhibitor HMG-CoA reduktase telah terbukti aman dan efektif dalam menurunkan kejadian serangan jantung terkait efeknya terhadap penurunan kolesterol LDL-serum. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa statin memiliki efek menguntungkan lain. Statin dianggap dapat meningkatkan proliferasi dan migrasi EPC. Efek ini muncul terlebih dahulu sebelum efek pleiotropik statin terhadap kadar LDL-serum muncul. Simvastatin mampu meningkatkan aktivitas enzim tioredoksin, sehingga dapat menurunkan spesies oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS) intraseluler secara bermakna.

Simvastatin dan rosuvastatin juga telah terbukti meningkatkan proliferasi dan migrasi EPCs melalui aktivasi jalur Nitrit Oksida Sintase (eNOS) endotel. Hal ini mampu meningkatkan bioavailabilitas Nitrit Oksida (NO) yang merangsang pelepasan ligan yang mendorong migrasi EPCs.

Atorvastatin juga terbukti meningkatkan jumlah proliferasi dan migrasi EPC melalui mekanisme yang tidak tergantung pada kadar sitokin dan kolesterol plasma. Namun, perbandingan antara masing-masing statin terhadap migrasi EPC belum diselidiki. Dalam penelitian ini, penulis mengevaluasi dan membandingkan efek pemberian simvastatin, atorvastatin dan rosuvastatin terhadap kemampuan migrasi EPCs pada pasien PJK.

Penelitian kohort dilakukan terhadap 8 pasien PJK dengan kriteria inklusi pasien laki-laki, berusia 40-59 tahun, stable angina, dan dengan hasil angiografi koroner menunjukkan stenosis >50 persen pada left main coronary artery atau >70 persen pada cabang koroner lainnya. Pasien dengan riwayat Percutaneous Coronary Intervention (PCI), Coronary Artery Bypass Grafting (CABG), infark miokard akut baru, diabetes dan anemia tidak disertakan dalam penelitian.

Penelitian ini terdiri dari 5 tahap yaitu (1) perolehan sampel darah tepi, (2) isolasi dan kultur EPCs, (3) evaluasi proliferasi EPCs, (4) evaluasi migrasi EPCs, dan (5) evaluasi CFU. Penelitian dilakukan dengan membandingkan efek simvastatin, atorvastatin dan rosuvcastatin terhadap migrasi EPCs. Ketiga jenis statin tersebut masing-masing memiliki dosis yang sama yaitu 0.1 uL, 0.25 uL dan 0.5 uL.

Efek Statin terhadap EPCs

Hasil penelitian menunjukkan ketiga jenis statin (simvastatin, atorvastatin dan rosuvastatin) memiliki efek yang signifikan terhadap migrasi EPCs. Dosis yang lebih tinggi (0.5 uL) dari masing-masing jenis statin memiliki efek yang lebih baik dalam merangsang migrasi EPCs dibandingkan dengan efek yang lebih rendah (0.1 uL dan 0.25 uL). Efek rosuvastatin (0.5 uL) dalam meningkatkan migrasi EPCs lebih superior dibandingkan simvastatin dan atorvastatin pada dosis yang sama.  

Riset ini menunjukkan bahwa simvastatin, atorvastatin, dan rosuvastatin mampu meningkatkan migrasi EPCs. Efek yang ditimbulkan bergantung pada dosis pemberian. Hasil yang sama didapatkan pada penelitian sebelumnya, dimana terapi statin meningkatkan kemampuan migrasi EPCs pada tikus diabetik. Efek statin pada penelitian tersebut juga bergantung dosis (0.01 mmol/L, 0.1 mmol/L, 1 mmol/L).

Sementara itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa rosuvastatin dan atorvastatin memiliki efek terhadap pembentukan dinding pembuluh darah in vitro, yang mana penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara kapasitas pembentukan dinding pembulunh darah tersebut dengan kemampuan migrasi dari EPCs. Hal ini sebagai bukti tidak langsung adanya pengaruh rosuvastatind an atorvastatin terhadap kemampuan migrasi EPCs.

Dari riset ini, dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan simvastatin, atorvastatin dan rosuvastatin memberikan efek perbaikan terhadap migrasi EPCs.  Efek yang ditimbulkan dari ketiga jenis statin tersebut bergantung pada dosis pemberian. Rosuvastatin dosis tinggi (0.5 uL) lebih superior dibandingkan simvastatin dan atorvastatin dalam meningkatkan migrasi EPCs pada dosis yang sama. (*)

Penulis : Yudi Her Oktaviono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://jcdr.net/articles/PDF/12841/41485_CE[Ra1]_F(SL)_PF1(AJ_OM)_PN(SL).pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu