Keanekaragaman Basidiomycetes Kampus C UNAIR untuk Bangun Eco-campus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kawasan danau Kampus C UNAIR. (Sumber: UNAIR NEWS)

Eco-campus adalah salah satu kawasan yang digunakan untuk mendukung fungsi ekosistem perkotaan dan upaya menjaga keanekaragaman hayati serta konservasi di Indonesia. Banyak organisme yang harus terus dilestarikan untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia. Salah satu cara menjaga keanekaragaman organisme adalah mendata dan menginventarisasi organisme yang ada disekitar kita dan merawatnya dengan baik.

Organisme yang juga perlu mendapat perhatian tentang keanekaragamannya adalah jamur terutama kelompok Basidiomycetes. Basidiomycetes adalah organisme penting yang berfungsi untuk mendegradasi bahan organik dilingkungan. Jamur kelompok Basidiomycetes mudah dijumpai dan dikenali karena ciri-cirinya yang mudah ditandai. Ciri yang dapat dikenali pertama kali adalah adanya tubuh buah, sehingga jamur dengan mudah dapat dilihat kasat mata. Informasi dari keanekaragaman Basidiomycetes di kawasan kampus masih sangat kurang dikaji. Padahal kampus merupakan rumah sekaligus tempat pembelajaran yang juga harus diperhatikan.

Mengingat pentingnya data inventarisasi jamur di kawasan kampus yang menerapkan managemen Eco-campus. Dalam penelitian ini data keanekaragaman Basidiomycetes dapat mendukung upaya pelestarian Basidiomycetes yang tumbuh liar pada lahan terbuka hijau. Kehadiran kelompok jamur Basidiomycetes di daerah perkotaan dapat menunjukkan bahwa kondisi lingkungan cukup baik. Jamur Basidiomycetes berpengaruh signifikan terhadap jaring-jaring makanan terutama pada ekosistem terestrial, kelangsungan hidup atau perkecambahan pohon baru, pertumbuhan pohon, dan kesehatan secara keseluruhan pada vegetasi di lahan terbuka.

Kehadiran Basidiomycetes adalah indikator penting dari dinamika komunitas tanah (Molina et al., 2001). Keanekaragaman Basidiomycetes menunjukkan bahwa suatu ekosistem adalah terpelihara dengan baik. Kondisi ini juga bisa digambarkan bahwa keberadaan lahan terbuka hijau dapat mendukung terciptanya ekosistem yang baik. Penelitian ini juga merupakan bagian dari penelitian untuk menentukan ketersediaan lahan terbuka hijau yang memadai berdasarkan keanekaragaman Basidiomycetes.

Setiap jenis jamur Basidiomycetes dapat hidup pada kisaran kondisi lingkungan abiotik yang cocok. Faktor fisik yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan jamur kelompok Basidiomycetes antara lain adalah suhu, kelembapan, ketinggian dan pH substrat. Kelembapan sangat dipengaruhi oleh suhu. Kehadiran Basidiomycetes menunjukkan kondisi kelembaban yang relatif stabil di area sekitar jamur dapat tumbuh. Kondisi ini mendukung fungsi lahan terbuka hijau di daerah perkotaan.

Resistensi Basidiomycetes terhadap perubahan lingkungan sangat bervariasi. Oleh karena itu beberapa jenis jamur dapat digunakan sebagai indikator kondisi suatu lingkungan. Kebanyakan anggota Basidiomycetes toleran terhadap kondisi stres. Oleh karena itu jamur dapat digunakan sebagai indikator kondisi lingkungan yang cukup cepat dan tepat. Kebanyakan dari anggota jamur Basidiomycetes dapat bertahan hidup pada kondisi lembab namun ada kelompok Basidiomycetes yang dapat pula hidup didaerah yang kering.

Berdasarkan data eksplorasi Basidiomycetes di lahan terbuka hijau kampus C Universitas Airlangga diperoleh 14 marga dengan 20 jenis. Semua spesimen yang didapat, dikelompokkan berdasarkan karakter morfologisnya. Basidiomycetes berhasil diinventarisasi dari area taman sekitar kolam kantor manajemen, kebun obat keluarga, lahan pusat kegiatan mahasiswa, lahan terbuka hijau di belakang Universitas Airlangga Pers, lahan parkir Fakultas Sains dan Teknologi, boulevard  dan pedestrian kampus C, dan bangunan utama Fakultas Sains dan Teknologi.

Basidiomycetes tumbuh banyak di daerah dengan jumlah bahan organik yang tinggi. Area taman sekitar kolam Kantor Manajemen terdapat banyak pohon besar dan jumlah serasah yang cukup banyak. Jenis-jenis Basidiomycetes yang telah ditemukan adalah Agaricus sp., Amanita sp., Auricularia sp., Coltricia sp., Ganoderma sp., Lepiota sp., Leucocoprinus sp., Marasmius sp., Naucoria sp., Polyporus sp., Russula sp., Scizophyllum sp., Termitomyces sp., dan Trametes sp. Beberapa jamur, seperti Auricularia, Ganoderma, dan Scizophyllum disebutkan berpotensi sebagai bahan makanan dan obat. Sehingga dapat menjadi potensi bagi pengembangan habitat alami jamur-jamur berpotensi.

Pengumpulan data dari keanekaragaman Basidiomycetes dapat digunakan sebagai referensi untuk pengelolaan ruang terbuka hijau di daerah perkotaan khususnya kawasan Eco-campus. (*)

Penulis: Intan Ayu Pratiwi

Artikel ilmiah populer ini disarikan dari artikel yang dipublikasikan di Jurnal Internasional Q4:http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9694&iid=276&jid=3

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu