Fragmentasi Identitas Anak Muda Penggemar Budaya Populer Global

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi budaya populer. (Sumber: Weebly)

Studi ini mengkaji identitas kultural yang dikembangkan kelompok anak muda urban yang menjadi penggemar (fandom) budaya populer (pop culture) di lingkungan komunitas cyberspace dari perspektif Cultural Studies. Selama ini, meski studi tentang subkultur anak muda dan fandom telah cukup banyak dilakukan, namun masing-masing studi yang telah ada umumnya hanya berfokus pada satu jenis budaya populer, seperti musik atau ikon budaya (selebriti), lebih banyak mengkaji perilaku dan kehidupan sosial para penggemar di dunia nyata, dan seringkali mempergunakan perspektif perilaku menyimpang.

Sebagian besar studi yang ada cenderung memahami subkultur anak muda dalam arti yang negatif. Studi yang dilakukan Bobakova (2013), misalnya menemukan bahwa subkultur anak muda di Roma, dan kelompok penggemar Hip Hop, Skinhead, Punk, dan Metal cenderung mempengaruhi gaya hidup dan perilaku negatif, seperti keterlibatan pada narkoba, membolos, berkelahi, mabuk, prestasi akademik yang rendah dan inisiasi seksual dini.

Sementara itu, studi tentang fandom dalam konteks perkembangan media sosial dan internet, lebih melihat bagaimana dampak perkembangan internet terhadap perilaku penggemar, dan belum banyak mengkaji tentang aktivitas produksi penggemar. Studi yang dilakukan Lee (2011) misalnya, mengeksplorasi sifat keterlibatan fan online, menyelidiki peran penulis fanfic sebagai produsen budaya simbiosis dan penonton aktif, dan mengkaji dampak internet pada kegiatan penggemar dan masyarakat.

Subjek studi ini, meski pun semua merupakan penggemar produk budaya populer global The Mortal Insrtuments, tetapi antara penggemar satu dengan yang lain umumnya mengembangkan subkultur dan identitas sosial yang berbeda. Nick Stevenson (2002) menyatakan sebuah teks budaya yang bersifat terbuka untuk dikonsumsi dan diproduksi maknanya, biasanya akan mampu menarik banyak penggemar yang satu dengan yang lain memiliki keterikatan dan penafsiran yang berbeda. Teks-teks budaya, menurut Stevenson umumnya bersifat poyisemic yang menghasilkan makna serta bentuk-bentuk representasi dan identitas yang berbeda-beda.

Dengan kata lain, meski pun anak-anak muda urban adalah sekelompok atau sesama penggemar produk budaya populer tertentu yang sama, tetapi tidak selalu cara mereka memaknai teks budaya dan juga bagaimana identitas yang dibangun selalu sama. Latar belakang budaya, tingkat literasi media yang mendukung, dan subjektivitas masing-masing penggemar akan menentukan identitas kultural seperti apakah yang nantinya mereka kembangkan. Penggemar, dalam pandangan cultural studies merupakan  komunitas interpretif yang mampu mendefinisikan diri mereka sendiri dan peran mereka secara berbeda dengan kelompok-kelompok lain (Harris & Alexander, 1998: 5).

Dalam kehidupan sehari-hari satu hal yang seringkali menjadi ciri yang menandai penggemar adalah berkembangnya perilaku adiktif atau kecanduan untuk terus mengkonsumsi budaya populer global yang digemarinya layaknya social opium. Di kala waktu senggang, sudah menjadi kebiasaan para penggemar untuk meluangkan waktu membuka laptop atau komputer mereka untuk melihat situs produk budaya populer yang mereka gemari: sekadar untuk melihat percakapan dan informasi lain yang muncul di antara sesama kelompok penggemar The Mortal Instruments.

Menikmati waktu senggang, sekaligus perasaan dan kekhawatiran agar tidak ketinggalan informasi, menyebabkan anak-anak muda urban menjadi adiktif untuk terus mengikuti perkembangan informasi tentang budaya populer global yang mereka gemari. Sejumlah informan menuturkan sepanjang waktu memungkinkan, mereka umumnya akan meluangkan waktu untuk membuka situs kelompok penggemar produk budaya populer yang mereka gemari, menikmatinya, dan bahkan jika mereka sedang berminat tidak jarang pula menghasilkan teks-teks budaya lain untuk kemudian disirkulasikan kepada penggemar yang lain.

Anak-anak muda urban penggemar budaya populer global umumnya adalah prosumer yang tidak hanya menjadi konsumer pasif yang hanya menikmati teks-teks budaya sebagai bagian dari aktivitas pleasure, tetapi mereka juga menjadi bagian dari kelompok penggemar yang aktif sebagai produser yang menciptakan teks budaya mau pun paratexts hasil dari kreativitas mereka sebagai bagian dari net generation.

Formasi identitas yang dikembangkan anak muda urban sebagai bagian dari digital fandom terfragmentasi paling-tidak dalam dua kelompok subkultur. Pertama, kelompok penggemar yang mengkonsumsi budaya populer yang digemarinya dengan keterikatan emosional yang mendalam di bawah platform ilusi yang dibangun kekuatan ekonomi entertaiment global, dan bahkan tidak jarang pula mendorong mereka masuk dalam dunia rekaan, berempati, dan tanpa sadar tersimulakra dalam setting, alur cerita dan tokoh-tokoh imajiner yang ditawarkan produk budaya populer.

Kedua, kelompok penggemar yang tergolong kritis terhadap konten teks budaya populer, memiliki modal tingkat literasi media yang memadai. Mereka sebetulnya adalah multi fandom yang juga menjadi penggemar produk industri budaya atau budaya populer yang lain. (*)

Penulis: Rahma Sugihartati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.google.com/search?q=The+ldentity+Fragmentation+ofyouths+as+Fans+of+Global+popular+Culture+rahma+sugihartati%2C+pertanika&oq=The+ldentity+Fragmentation+ofyouths+as+Fans+of+Global+popular+Culture+rahma+sugihartati%2C+pertanika&aqs=chrome..69i57.5085j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu