Potret Psikososial Penyintas Perdagangan Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: cnnindonesia.com
Sumber foto: cnnindonesia.com

Jumlah kasus perdagangan manusia di Indonesia terus meningkat. Jawa timur sendiri merupakan salah satu kantung kasus perdagangan manusia, di mana pengiriman, penerimaan dan transit terjadi disana.

Sebagai salah satu daerah pengirim buruh migran terbesar di Indonesia, khususnya buruh migran perempuan, banyak bentuk perdagangan manusia yang ditemukan. Kelompok masyarakat yang rentan akan kasus tersebut adalah masyarakat prasejahtera, mengalami disintegrasi keluarga, relasi yang buruk dalam keluarga, dan keluarga yang penuh dengan kekerasan di dalamnya.

Seperti yang kita ketahui, perdagangan manusia ini merupakan problem sosial yang besar yang memiliki konsekuensi negatif, tidak hanya untuk korban atau orang-orang yang selamat dari perdagangan, namun juga bagi keluarga dan lingkungan terdekat mereka dan juga bagi masyarakat pada umumnya. Dampak tersebut bisa sangat dahsyat, karena pelaku menggunakan kekerasan fisik untuk mendominasi dan mengontrol korban-korban mereka. Beberapa kondisi bisa terjadi termasuk kelaparan, pemukulan, dan pemerkosaan. Korban juga mengalami kekerasan dan bahaya dari beberapa orang yang memberi tindakan seksual.

Pengalaman Fenomenologis

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potret kasus dan kondisi psikologis penyintas perdagangan manusia. Peneliti fokus pada dampak psikososial yang dihayati penyintas atas pengalaman tersebut.

Dampak yang diterima penyintas, berupa dampak fisik, psikologis dan sosial. Pengalaman yang menjadi catatan penting, berupa pengalaman penganiayaan yang menimbulkan luka fisik, perasaan-perasaan negative dan tindakan-tindakan sosial yang tidak terkendali seperti menarik diri dan lain sebagainya.

Peran Dukungan Sosial

Dalam keadaan sulit, dukungan yang diterima oleh korban lebih banyak datang dari yayasan yang menjadi rumah aman bagi korban. Korban mendapatkan perlindungan, pemulihan fisik dan psikis dan akses kesehatan yang cukup memadai.

Bagi korban yang tetap tinggal bersama keluarga, dukungan lebih banyak diterima dari keluarga besar dan anggota keluarga yang tidak terlibat dalam kasus tersebut. Sekecil apapun bantuan yang diterima oleh korban ternyata membuat korban merasa mendapatkan perlindungan dan memberikan rasa aman.

Penulis : Ike Herdiana, Sukma Rahastri Kanthi, Suryanto

Artikel bisa di dapatkan di link berikut:

https://www.questia.com/library/journal/1G1-576378112/girls-trade-portrayal-of-the-psychosocial-problems

https://www.researchgate.net/publication/331331683_’Girls_Trade’_Portrayal_of_the_psychosocial_problems_of_human_trafficking_survivor

Cara Sitasi :

Herdiana, I., Kanthi, S. R., & Suryanto, S. (2019). ‘ Girls Trade ’ : Portrayal of the Psychosocial Problems of Human Trafficking Survivor. North American Journal of Psychology, 21(1), 125–126.

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Replay

Close Menu