Dari Dana Skripsi Berujung ke Medali Perunggu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim Mandibula bersama tim Garuda Sakti usai pengumuman PIMNAS 32 di Universitas Udayana, Bali, Jumat (30/8/19). (Dok. Istimewa)

UNAIR NEWS Bertambah lagi prestasi yang berhasil ditorehkan Ksatria Airlangga. Kali ini prestasi tersebut ditorehkan oleh Anis Fitria Wulandari mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga.

Bersama dengan timnya, Anis menyabet mendali perunggu dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 32 (PIMNAS 32) yang dilaksanakan akhir Agustus lalu. Pengumuman tersebut secara resmi diumumkan pada Jumat (30/8/19) bertempat di Universitas Udayana, Bali.

Berawal dari ide skripsi yang membutuhkan banyak dana, Anis memutuskan membuat proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) tentang mandibula.

“Sebenarnya ide PKM ini dari skripsi saya, karena bahan-bahannya mahal dan gak ada dana. Jadi saya memutuskan untuk membuat proposal PKM, siapa tahu didanai. Dan Alhamdulillah didanai bahkan sampai lolos PIMNAS,” terangnya.

Anis memilih mandibula sebagai topik penelitian karena mandibula berkontribusi 1/3 bagian dalam bentuk wajah seseorang. Salin itu, mandibula merupakan salah satu organ yang sangat fungsional, terutama dalam menjaga jalannya pernapasan. Selain itu, sebagai tempat melekatnya lidah dan otot-otot dasar mulut yang berfungsi untuk mengunyah, menelan, menguap, dan berbicara.

Bagi Anis, dengan mengikuti PIMNAS banyak pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari proses setelah pendanaan hingga hari H yang menurutnya penuh rasa. Terlebih dengan bertempat di Bali serta mendapatkan mendali perunggu membuatnya tambah berkesan.

Ia menambahkan, penelitiannya akan dilanjutkan oleh mahasiswa lain dengan mengkombinasikan obat pada scaffold untuk mencegah terjadinya keberlanjutan tumor mandibula. “Tentunya ada, dengan berbagi pengalaman. Apalagi jika ada adik tingkat yang ingin melanjutkan penelitian kami, akan kami bantu sebisa kami,” ujarnya.

Sementara itu, ia mengaku ada beberapa kesulitan yang dihadapi tim. Yakni, penelitian yang cukup sulit, menyatukan pendapat antar anggota, dan meredam ego masing-masing ketika tujuannya tidak sefrekuensi.

Dengan mendapat mendali perunggu, Anis berharap tidak mengecewakan UNAIR meskipun belum bisa memberikan yang diharapkan UNAIR. “Tapi setidaknya kami ikut memberikan sesuatu yang tidak semua orang bisa memberikan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Asthesia Dhea C.

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu