Guru Besar Baru UNAIR Temukan Vaksin untuk Percepat Penuntasan Penyakit TB

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Purkan, M.Si., saat menyampaikan orasi tentang Tuberculosis, Kamis (12/9/2019). (Foto: Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular pada manusia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Semua organ, terutama sel makrofag di paru-paru, dapat terjangkit kuman TB melalui udara yang terhirup tubuh. Penyakit ini berbahaya ketika sel TB yang dorman teraktivasi akibat kekebalan inang menurun.

Setiap tahun, kasus TB menyebar di hampir seluruh negara serta menimbulkan kematian penduduk dunia sebesar 1,3 juta jiwa. Sebanyak 95 persen kasus TB dunia dan 98 persen kematian terjadi di negara-negara berkembang. Bahkan, Indonesia menjadi negara kedua dengan penderita terbanyak di dunia setelah India, kemudian disusul Cina, Filipina, juga Pakistan.

Fakta tersebut didukung oleh laporan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2017 yang mengemukakan bahwa kematian penderita TB mencapai 120 ribu jiwa. Selain itu, TB menjadi penyebab kematian terbesar ke-4 di Indonesia sesudah penyakit kardiovaskuler, stroke, serta diabetes untuk kelompok golongan penyakit infeksi.

Pernyataan di atas adalah orasi yang disampaikan Prof. Dr. Purkan, M.Si., saat dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Airlangga pada Kamis (12/9) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR. Menurut guru besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR aktif ke-10 itu, TB menjadi masalah laten yang belum terselesaikan secara tuntas hingga kini.

“Padahal eliminasi TB telah dijadikan salah satu prioritas dari tiga program utama pemerintah di bidang kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan semua pihak dalam berbagai upaya, termasuk pengembangan obat sekaligus peningkatan mutu vaksin untuk terapi dan tindakan preventif pencegahan TB,” jelas laki-laki kelahiran Sidoarjo itu.

Dia mengatakan, penanganan TB dilakukan dengan cara memberikan obat TB lini pertama maupun kedua guna membunuh kuman. Pemberian kombinasi beberapa obat dimaksudkan sebagai antisipasi bilamana agen TB resisten obat. Hal ini bisa terjadi ketika terdapat kesalahan pemberian obat dan penderita tidak patuh dalam mengonsumsi obat.

“Berbicara tentang pengembangan obat serta vaksin tuberkulosis, saya teringat Surat Al-Hajj ayat 73 dan sebuah hadist mengenai seekor lalat. Dari sudut pandang ilmiah, penjelasan hadist ini memberikan makna bahwa di dalam agen penyakit lalat, telah disediakan Allah, obat beserta penawarnya,” ujar Ketua Departemen Kimia FST UNAIR itu.

Penjelasan mengenai agen penyakit lalat yang tercantum dalam hadist itu, menginspirasi Prof. Purkan untuk mengembangkan pengobatan TB. Yakni, mengeksplorasi bagian sel M. tuberculosis untuk dikembangkan menjadi senyawa obat dan vaksin. Pengembangan ini dilakukan dengan bantuan alat komputasi in silico (biokomputasi) karena sangat efektif.

“Meskipun metode biokomputasi saat ini sudah sangat canggih, tetapi teknik tersebut merupakan tool yang menyajikan posibilitas dan usulan terhadap kandidat obat. Realisasi kebenaran postulat obat baru perlu diuji secara nyata di laboratorium, baik secara in vitro maupun in vivo menggunakan sel biologi atau uji klinis ke manusia,” terang Prof. Purkan.

Namun, penggunaan langsung M. tuberculosis yang dilemahkan sebagai vaksin bukanlah tanpa risiko. Mengingat sifat patogenitasnya cukup tinggi sehingga perlu dihindarkan dari kemungkinan reaktivasi kuman. Setelah melalui tahap pencarian serta penelitian, Prof. Purkan menemukan vaksin protein melalui kloning dan ekspresi gen KatG dari isolat klinis L19. Dia beserta timnya lantas menguji imunogenitas dari KatG pada hewan percobaan.

“Pemilihan KatG untuk vaksin dilatar belakangi oleh sejumlah laporan penelitian yang menunjukkan bahwa KatG sebagai salah satu jenis protein patogen intraseluler. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa temuan ini mampu menimbulkan respon imun yang signifikan pada tikus dan berpeluang untuk dapat dijadikan vaksin protein. Tetapi, perlu adanya uji silang vaksin dan uji klinis guna melakukan verifikasi lanjutan atas temuan ini,” tuturnya.

Keberadaan penemuan baru ini tentu menjadi kabar menggembirakan karena dapat mempercepat upaya penuntasan penyakit TB, khususnya di negara-negara berkembang. Tak lupa, Prof. Purkan juga menyampaikan pesan agar sivitas UNAIR bisa berperan aktif dalam mengakhiri kasus TB berkepanjangan melalui berbagai macam kegiatan penelitian. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu