Lestarikan Budidaya Mangrove Melalui Teknik Pelepasan Perikarp

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS- Mangrove merupakan salah satu jenis tumbuhan yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Tumbuhan yang biasa ditemui di sekitaran pantai ini ternyata memiliki segudang manfaat yang sangat besar, khususnya untuk kelangsungan ekosistem pantai. Selain menjadi salah satu barrier alami yang melindungi pantai dari bencana alam seperti tsunami. Bagian akar Mangrove juga menjadi tempat hidup bagi beberapa spesies ikan.

Meskipun memiliki segudang manfaat untuk lingkungan, keberadaan Mangrove mulai terancam belakangan ini. Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab terancamnya keberadaan Mangrove seperti polusi, dibangunnya jembatan antar pulau, hingga perubahan kondisi tanah.

Mengingat betapa pentingnya Mangrove untuk keberlangsungan ekosistem pantai, Prof. Hery Purnobasuki., M.Si., PhD pun melakukan berbagai penelitian terkait tumbuhan ini. Salah satu artikelnya yang berjudul Seed Germination Of Avicenna marina(Forsk.) Vierh. By Pericarp Removal Treatment, fokus meneliti proses perkecambahan Mangrove dan faktor apa saja yang memengaruhinya.

“Mangrove sebutan untuk tumbuhan yang bisa hidup di dua alam, yaitu air dan tanah. Mangrove memiliki peran penting sebagai barrier alami pantai, sehingga perlu dipikirkan bagaimana membudidayakannya,” ungkap Hery.

Untuk meningkatkan efisiensi, keberlangsungan hidup dan kekuatan kecambah dibandingkan berdasarkan waktu pengumpulan dan teknik perkecambahan Mangrove melalui pelepasan perikarp. Jenis Mangrove yang diteliti adalah spesies Avicenna marina (Forsk) Vierh. Spesies itu banyak dijumpai di sekitaran Jembatan Suramadu, Surabaya. Proses pengumpulan benih dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2011.

“Tumbuhan Mangrove ini sebenarnya ada beberapa spesies. Proses perkembangbiakannya juga bermacam-macam. Ada yang bisa berkecambah di pohon lalu lepas di lumpur dan tumbuh. Ada juga yang menghasilkan buah dan biji, termasuk spesies yang saya teliti ini,” papar Hery.

Benih yang dikumpulkan diberi dua perlakuan berbeda yaitu dikupas perikarp nya dengan tangan dan direndam dalam air laut dengan salinitas tertentu hingga bagian perikarp terlepas dengan sendirinya. Kemudian, dari kedua perlakuan tersebut akan diamati proses perekecambahannya. Dari perbandingan waktu pengumpulan benih dan perlakuan yang diberikan, dibandingkan bagaimana pertumbuhannya.

Hery berharap penelitiannya ini bisa turut membantu menyukseskan program pemerintah terkait pembangunan Kebun Raya Mangrove. Menurut Hery, rencana itu bisa membawa dampak baik dari segi edukasi, riset, rekreasi, bahkan ekosistem. Ia pun berharap hasil penelitian itu dapat berkontribusi dalam penyediaan bibit.

“Di Surabaya sebenarnya sudah ada zona mangrove, tapi akhir-akhir ini sudah banyak berkurang karena adanya pembangunan, dan lain-lain,” ujar Hery.

“Jika bisa dipertahankan akan memberi dampak yang sangat bagus secara ekologi, maka penelitian ini ingin memberi kontribusi dalam membudidayakan mangrove, khususnya di Surabaya,” tutupnya. (*)

Penulis : Sukma Cindra Pratiwi

Editor : Khefti Al Mawalia

Link Artikel Ilmiah :

Hery Purnobasuki, Edy Setiti Wida Utami. 2016. Seed Germination Of Avicenna marina(Forsk.) Vierh. By Pericarp Removal Treatment. Journal of Biotropia, Vol 23, No 2.

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85010911863&origin=resultslist&sort=plf-f&src=s&sid=fdd48d37a90a9e48788b197f11061a83&sot=autdocs&sdt=autdocs&sl=17&s=AU-ID%288644457800%29&relpos=10&citeCnt=0&searchTerm=

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu